Liputan Eksklusif

Mengapa Jantung Bocor?

Bocor jantung pada umumnya digunakan untuk mengistilahkan kelainan katup jantung dan adanya lubang

Mengapa Jantung Bocor?
IST
ADI PURNAWARMAN, Spesialis Jantung di RSUZA

Bocor jantung pada umumnya digunakan untuk mengistilahkan kelainan katup jantung dan adanya lubang pada sekat jantung. Jantung manusia memiliki empat katup yang dapat terbuka dan tertutup, berfungsi untuk mengatur aliran darah dari satu bagian ke bagian lain. Tetapi kadangkala katup jantung tidak tertutup sempurna, sehingga aliran darah yang seharusnya sudah berpindah ke organ lain malah kembali ke dalam jantung.

Tak hanya kelainan katup jantung, adanya lubang antara serambi kiri dan kanan jantung yang tidak tertutup juga disebut bocor jantung.

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah pada Rumah Sakit Umum dr Zainoel Abidin (RSUZA), Banda Aceh, Adi Purnawarman menjelaskan, kondisi itu hampir sama dengan persistent ductus arteriosus (PDA) yang ada pada anak baru lahir. PDA yaitu kondisi di mana saluran yang menetap antara pembuluh darah paru dan pembuluh darah aorta (arteri terbesar), sehingga darah bersih yang kaya oksigen dan darah kotor yang mengandung karbon dioksida bisa bercampur.

“Biasanya PDA bertahan kurang dari dua minggu kemudian lepas sendiri. Tetapi, pada mereka yang memiliki kelainan jantung bawaan, PDA ada sampai bayi berumur dua tahun dan menjadi permanen,” ujarnya.

Oleh karenanya, terjadilah perubahan hemodinamik, yaitu tercampurnya antara darah bersih dan darah kotor, kemudian dipompakan ke paru-paru yang pada akhirnya menyebabkan orang tersebut menderita ISPA, batuk pilek, cepat letih, dan sebagainya.

Para orang tua, kata Adi, biasanya mulai curiga bahwa ada kelainan jantung bawaan pada anaknya saat tumbuh kembang si buah hati tidak sesuai dengan usianya. Pemeriksaan awal terhadap anak yang diduga bocor jantung yaitu dengan menggunakan stetoskop. “Dokter menempelkan stetoskop pada titik tertentu dan akan terdengar suara detak jantung yang berbeda. Setelah itu didapatkan, biasanya dilakukan pemeriksaan tambahan seperti foto, ekokardiografi, pemeriksaan doppler untuk melihat tingkat kebocoran jantung, lalu baru penanganannya,” urai Adi.

Ia tambahkan, ahli jantung pada umumnya mengidentifikasi bocor jantung berdasarkan ciri khas pada beberapa bagian tubuh pasien, yakni warna biru (sianotik) dan tidak berwarna biru (asianotik). Dari keseluruhan pasien bocor jantung yang ditangani RSUZA, lanjutnya, 90 persen merupakan kelainan jantung bawaan yang asianotik, sementara sisanya 10 persen berwarna biru (sianotik). “Artinya. sebagian besar pasien tidak menunjukkan warna biru di ujung-ujung jari tangan dan sekitar bibir,” demikian Dokter Adi. (fit)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved