Salam

Minat Baca Rendah, Aceh Carong Sulit Dicapai

Rektor Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), Prof Dr Samsul Rizal mengungkapkan bahwa minat baca masyarakat Aceh

Minat Baca Rendah, Aceh Carong Sulit Dicapai
SERAMBINEWS.COM/M ANSHAR
Rektor Unsyiah, Prof Dr Ir Samsul Rizal MEng. 

Rektor Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), Prof Dr Samsul Rizal mengungkapkan bahwa minat baca masyarakat Aceh, bahkan Indonesia, saat ini masih rendah. Hal ini disebabkan adanya kesalahan pada sistem pendidikan Indonesia.

“Tingkat baca masyarakat Aceh masih rendah. Kalau di Indonesia sekitar 60, secara rata-rata masyarakat Aceh rendah lagi, bahkan rendah dari 50 persen,” katanya seusai acara Diskusi Literasi Aceh di Arabica Seulawah Coffee, Beurawe, Banda Aceh, Sabtu (26/1) yang diprakarsai Forum  Masyarakat Literasi Aceh (Formula). Selain Samsul, hadir empat pembicara lainnya, yakni Razuardi Essex (inisiator Formula), Azhari Aiyub (penulis novel Kura-kura Berjanggut), Yarmen Dinamika (Redaktur Pelaksana Harian Serambi Indonesia), dan Alkaf (penulis Aceh).

Samsul mengatakan, ada persoalan besar yang dihadapi bangsa bila minat membaca buku masyarakatnya sangat rendah. Bahkan, mahasiswa saja sangat jarang bisa menamatkan empat buku dalam sebulan. Jangankan membaca, ke pustaka saja kadang sangat jarang.

Jika sudah demikian, Samsul mengatakan, pihaknya akan memaksa mahasiswa yang malas membaca untuk membaca. “Mahasiswa yang malas membaca harus dipaksa. Satu satunya jalan harus dipaksa. Setahun dua tahun terus dipaksa, sehingga nanti bisa terbiasa,” katanya.

Menurut Samsul, persoalan itu terjadi karena adanya kesalahan sistem pengajaran dari sekolah dasar (SD). Anak-anak kelas 1 SD dipaksakan berhitung dan membagi, padahal anak-anak seusia itu diajarkan bercerita dan membaca. “Kita ingin ke depan sistem pengajaran ini harus diubah. Jadi, anak-anak itu diberikan kebebasan untuk bercerita dan membaca, jangan diajarkan yang berat-berat. Kelas 1 SD bercerita sajalah, bermain, menghafal Alquran atau ayat-ayat pendek,” ujarnya.

Selain itu, lanjut Samsul, guru-guru yang mengajar untuk kelas 1-4 SD dan setingkatnya itu juga harus guru-guru yang pintar dan layak untuk berdiri di depan kelas. Sebab, pendidikan anak yang berkulitas harus dipastikan dari sejak dini. Karenanya, pemerintah/kota harus berani melihat kembali apakah guru-guru yang mengajar kelas 1-4 SD benar-benar guru yang layak berdiri di depan kelas atau tidak? Sebab selama ini ditemukan banyak guru yang tidak layak mengajar dipaksakan untuk mengajar. “Jika dilihat kualitas guru Aceh tingkat SMA berada pada 33 dari 34 provinsi di Indonesia. Jika banyak guru tidak layak berdiri di depan kelas mengajar anak-anak, apa yang terjadi? Ini yang harus kita pikirkan,” ungkap Samsul.

Nah, apa yang disampaikan Rektor Unsyiah itu sejalan dengan hasil penelitian tentang minat baca di kalangan siswa SMA, ulama, dan tenaga profesional yang dilaksanakan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh akhir tahun lalu. Dari hasil riset yang lingkupnya se-Aceh dan respondennya 300 orang itu terungkap bahwa masih ada 11% responden yang ke pustaka tak sampai sebulan sekali.

Sebagian besar (89%) responden datang ke pustaka justru karena ingin istirahat atau diajak teman, bukan membaca. Hanya 5% di antara responden yang sering meminjam buku dan 30% malah tidak pernah sama sekali. Malah hanya 3% responden datang ke pustaka untuk membaca.

Fakta ini sungguh masih jauh dari harapan Pemerintah Aceh untuk mewujudkan program nomor sembilan dari 15 program Aceh Hebat, yakni Aceh Carong. Ini tentunya menjadi PR besar bagi Dinas Arpus Aceh maupun kabupaten/kota, mengingat pengembangan minat baca adalah bagian dari pelayanan perpustakaan di Aceh.

Oleh karenanya, semua potensi yang ada, mulai dari Bunda Baca, Duta Baca hingga Raja dan Ratu Baca Aceh harus dilibatkan untuk mengoptimalkan capaian gerakan pemasyarakatan minat baca di kalangan generasi muda Aceh. Dengan membacalah orang mengenal dunia, dengan membaca pula kita bisa tahu banyak, penalaran semakin berbinar, dan daya saing individual semakin andal.

Semoga Arpus, pihak sekolah, kampus, maupun pustakawan bisa lebih serius dan terencana meningkatkan minat baca pemustaka, khususnya siswa dan mahasiswa, penuhi kebutuhan mereka yang menuntut ruang perpustakaan yang nyaman, koleksi yang selalu diremajakan, serta tersedianya fasilitas pendukung, seperti TV, AC, wifi, bahkan mesin fotokopi di perpustakaan. Semua itu untuk memudahkan mereka dalam penelusuran koleksi dan membuat minat bacanya meningkat.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved