Opini

Caleg dan Politik Wajah

SEJAK September tahun lalu hingga 13 April 2019, Indonesia memang sedang disuguhi pesta kampanye calon

Caleg dan Politik Wajah
PETUGAS menurunkan spanduk dan baliho yang lokasi pemasangannya melanggar aturan 

Galibnya politikus awam, mereka melakukan itu. Mereka terpaksa dianggap sebagai karyawan politik, masuk politik karena dorongan alam bawah sadar yang sifatnya banal seperti harta, cinta, dan kekuasaan. Mereka terpaksa melakukannya karena tak ada ide yang tajam yang bisa ditawarkan kepada publik untuk menjadi perenungan dan refleksi yang menggugah.

Namun, jika akademisi memamerkan wajahnya di ruang publik sebagai wujud menakar eksistensinya tentu salah alamat. Sebagian besar intelektual dunia bahkan menolak menampilkan wajah sebagai timbangan atas nilai-nilai intrinsik yang dianutnya. Sebagian bahkan sangat sederhana, low profile, dan tidak terlalu memperhatikan aspek fashion.

Siapa yang tak mengenal Michel Foucault (1926-1984), Raymond Aron (1905-1983), atau Jean Paul-Sartre (1905-1980), pemikir sejarah, sastra, dan filsafat posmodernisme Prancis? Mereka bahkan lebih terkenal dibandingkan rektor-rektor yang memimpin saat menjadi dosen di Ecole Normale Supérieure, Paris. Siapa yang tak kenal keberadaan Noam Chomsky, pakar politik-linguistik dari Massachusetts Institute of Technology (MIT). Ia murni pemikir, “hanya” memimpin program studi tapi tidak pernah menanjak karir sebagai rektor.

Demikian pula Jean Baudrillard (1929-2007), filsuf slenge-an yang memunculkan gagasan tentang budaya pop, simulacra dan hiper-realitas, bukan seorang yang berpendidikan doktor. Mereka besar dalam pergumulan ide dan kata, dengan politik makna yang menjadi tujuan terakhir. Mereka menolak menjadi pemikir birokratis apalagi pemikir feodal yang takut kritik dan demam puja-puja.

Politik gagasan sesungguhnya menjadi cara memperbaiki kualitas politik, dari pertengkaran yang sifatnya personal dan non-ideologis, menjadi pertarungan wacana atau paradigmatik. Sangat jarang kita lihat politikus masa lalu akan sentimentil berlama-lama pada yang bersifat permukaan dan personal, seperti agama, etnis, atau identitas primordial lainnya. Mereka bisa melakukan baku-pukul wacana hingga larut malam. Soekarno - Hatta - Sjahrir - Natsir - Otto Iskandar Di Nata adalah sahabat secara personal, tapi seteru pada pemikiran. Kerasnya debat yang mereka lakukan - menjadi tabungan pada praktik diskursus yang tajam (critical discourse analysis) dan bermanfaat bagi pembangunan peradaban bangsa.

Bagaimana menghidupkan politik wacana? Tidak lain harus berlatih berada pada ruang tarung ide. Disiplin pengetahuan berdasarkan pendidikan formal tidak lagi menjadi pertimbangan. Karena seorang yang tangkas berwacana tentu haus mencari ruang menjahit epistemologi. Ia harus bisa menaklukkan aspek teoretis dan konseptual di luar bidang yang ditekuninya untuk keperluan memunculkan pengetahuan hingga “seni” baru dalam merumuskan gagasan yang lebih komprehensif.

Ia tak akan mempersoalkan lawan debatnya datang hadir dengan pakaian atau terminologi teknis. Selama bisa memanfaatkan ruang pertarungan lintas-bahasa (meta-language) maka ia punya peluang meloloskan kebenaran; proses mencari dari keahlian memunculkan gagasan secara oral-debat dan menyusunnya secara tulisan.

Tantangan ini sebenarnya berlaku di dunia akademi; bisa tidak caleg memberikan contoh dari sekadar politik wajah menuju politik non-wajah, yaitu politik gagasan? Gagasan adalah marka terbaik untuk menyuburkan pengetahuan baru, yang segar dan dialektis. Adapun wajah hanya yang mengisi ruang simbolik hanya akan menjadi kayu rapuh, seperti dikatakan Roland Barthes (1915-1980): le signifient vide: sistem petanda yang palsu dan kosong.

* Teuku Kemal Fasya, Dosen FISIP Universitas Malikussaleh (Unimal) Lhokseumawe. Email: kemal_antropologi2@yahoo.co.uk

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved