Salam

Program yang Tepat Mampu Kurangi Kasus Bocor Jantung

Kasus bocor jantung bawaan sejak lahir ternyata sangat tinggi di Aceh, dokter spesialis jantung menyatakan

Program yang Tepat Mampu Kurangi Kasus Bocor Jantung
IST

Kasus bocor jantung bawaan sejak lahir ternyata sangat tinggi di Aceh. Bahkan, dari tahun ke tahun angka itu kian tinggi. Para dokter spesialis jantung menyatakan kondisi ini di Aceh sudah tergolong memprihatinkan. Ada beberapa sebab meningkatnya kasus bayi lahir dengan kondisi “bocor jantung”, antara lain sikap ibu yang salah saat mengandung.

Penyakit yang dikatakan sebagai kelainan jantung bawaan (congenital heart disease) itu, berdasarkan catatan Rumah Sakit Umum dr Zainoel Abidin (RSUZA) Banda Aceh, ada 6 sampai 10 kasus bocor jantung baru per pekan atau sekitar 40 kasus per bulan, atau 200-400 kasus setiap tahunnya. Dan itu terjadi hampir merata di setiap kabupaten atau kota. Mayoritas usia penderitanya mulai dari bayi hingga 12 tahun.

“Ada 6 sampai 10 pasien baru per minggu. Ini adalah angka spektakuler. Bocor jantung merupakan kelainan bawaan yang butuh penanganan segera karena dapat menyebabkan kematian,” ujar Adi Purnawarman SpJP, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dari RSUZA Banda Aceh.

Penyakit itu memiliki memiliki gejala awal pada anak-anak, yaitu sering mengalami demam dan batuk berulang, cepat capek, dan lebih pasif dibanding anak seusianya. Kelainan itu bisa disebabkan oleh multifaktor seperti family history (faktor keturunan) maupun faktor lainnya selama kehamilan. Masyarakat diminta waspada jika ada anggota keluarganya yang memiliki riwayat penyakit jantung. “Family history harus diwaspadai karena penyakit jantung bawaan itu bisa diturunkan. Screening adalah langkah paling tepat untuk mendeteksi awal,” katanya.

Faktor-faktor lainnya bisa berupa kebiasaan buruk yang dilakukan ibu saat hamil seperti mengonsumsi jamu sembarangan, obat-obatan keras golongan analgetik dan antibiotik, rokok, narkoba, minuman keras, hingga upaya menggugurkan kandungan, namun gagal.

Melihat sebab-sebab terjadinya penyakit itu, sesungguhnya bisa dicegah secara gampang oleh para ibu hamil dan keluarga dekatnya. Ibu-ibu hamil tentu tak boleh mengonsumsi obat atau jamu sembarangan tanpa berkonsultasi dengan dokter. Lalu, karena ini fenomenan ini sifatnya sudah merata di seluruh Aceh, maka pemerintah perlu memikirkan program yang tepat untuk pencegahan, terutama untuk ibu hamil dan masyarakat. Kemudian, bagi anak-anak yang memiliki gejala seperti disebut dokter tadi, hendaknya diperiksa secara serius ke dokter spesialis. Sebab, cepat diketahui biasanya akan lebih baik dan lebih mudah pula pengobatan dan perawatannya.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved