Salam

Kelas VI SD Belum Bisa Membaca, Apa yang Salah?

Tiga pekan lalu kita disuguhkan fakta pahit tentang harga tiket pesawat yang naik meroket, hinga orang Aceh

Kelas VI SD Belum Bisa Membaca, Apa yang Salah?
IST
IDHAMI, Kadisdik Pidie

Tiga pekan lalu kita disuguhkan fakta pahit tentang harga tiket pesawat yang naik meroket, hinga orang Aceh yang ingin ke Jakarta dan beberapa kota lainnya di dalam negeri harus transit via Kuala Lumpur, Malaysia, karena harga tiket penerbangan internasional jauh lebih murah. Lalu, dalam waktu yang hampir bersamaan, Badan Pusat Statistik (BPS) Pusat juga mengumumkan hasil sensusnya bahwa Aceh masih menjadi provinsi termiskin di Sumatra. Dan, ini bukan untuk pertama kali, tapi sudah sekian tahun berturut-turut Aceh menjadi yang termiskin di Sumatra.

Dan, fakta-fakta keprihatinan Aceh belum sampai di situ, dua hari lalu, satu penelitian secara acak yang dilakukan tim Dinas Pendidikan (Disdik) Pidie menemukan satu kondisi sangat memprihatinkan di mana ada peserta didik yang duduk di kelas VI SD dan SMP belum bisa membaca.

“Fakta ini saya temukan sendiri waktu saya datang ke sekolah dan mencoba langsung anak-anak membaca. Ternyata saya menemukan anak kelas VI SD dan SMP tidak bisa membaca,” ungkap Kadisdik Pidie, H Idhami Ssos. Fakta lainnya, sang pejabat juga menemukan ada sekolah, yang belum ada guru dan kepala sekolah katika jam belajar sudah dimulai. “Padahal aktivitas belajar mengajar seharusnya sudah dimulai pukul 08.00 WIB. Namun hingga leeat jam 8 belum ada guru dan kepala sekolah,” katanya.

Yang ingin kita katakan, di hampir semua sisi kehuidupan masyarakat Aceh, hingga kini masih bermasalah berat. Mulai masalah ekonomi dan kesejahteraan, kesehatan, pendidikan, dan lain-lain. Pendidikan adalah salah satu sektor pembangunan daerah yang mendapat perhatian serius dari segi pendanaan. Baratus-ratus miliar rupiah sudah dana ostus dan dana-dana lainnya digelontorkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Aceh. Namun, yang terjadi adalah korupsi di sektor ini tertinggi di Aceh.

Fakta hari ini, ada anak-anak kelas VI SD bahkan pelajar SMP yang belum bisa membaca. Apa yang salah? Kita tak mau meraba-raba apa atau siapa yang salah. Yang pasti memang ada “something wrong” dalam pengelolaan pendidikan kita. Buktinya, secara nasional, tiga tahun lalu, mutu pendidikan Aceh berada di peringkat 32 dari 34 provinsi di negeri ini. Mungkin sekarang peringkatnya berkisar antara 25-30.

Yang ingin kita katakan bahwa Pemerintah Aceh dan pemerintah kabupaten/kota di provinsi ini memiliki “pekerjaan rumah” yang sangat banyak ke depannya. Oleh sebab itu, eksekutif jangan sibuk urus kepentingan politik atasan, tapi harus melaksanakan tugas masing-masing secara serius dan fokus. Sebab, di bidang pendidikan, buruknya kemampuan murid, bisa jadi ada korelasi dengan mutu guru. Ingat, hingga kini mutu guru di Aceh juga belum baik, meski kebanyakan mereka sudah bersertifikasi. Jadi, harapan kita penelitian tentang kekurangan di sekolah harus dilakukan menyeluruh, jangan hanya sampel seperti di Pidie. Dan, hasil temuan itu harus dibuka ke publik, meskipun kenyataannya adalah “aib” bersama. Dengan fakta-fakta yang konkret nanti kita harap akan ada terobosan yang tepat sebagai solusi mencegah kebodohan!

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved