Nilai Ekspor Aceh Meningkat

Nilai ekspor Aceh pada tahun 2018 meningkat 54,15 persen dari tahun sebelumnya, angka itu mencapai 176,2 juta dollar AS

Nilai Ekspor Aceh Meningkat
IST
MUHAMMAD RAUDHI, Kadisperindag Aceh

* 2019 Fokus Busana Muslimah

BANDA ACEH - Nilai ekspor Aceh pada tahun 2018 meningkat 54,15 persen dari tahun sebelumnya. Angka itu mencapai 176,2 juta dollar AS dibanding tahun 2018 yang hanya Rp 114,3 juta dollar. Kenaikan itu didominasi bahan tambang batu bara mencapai 119,6 juta dollar, disusul kopi arabika 46,9 juta dollar, dan pinang 5,122 juta dollar.

Sedangkan untuk kerajinan dan industri pakaian jadi, seperti busana muslimah belum begitu berkembang. Karena itu, pada tahun 2019 ini Pemerintah Aceh akan fokus mengekspor kerajinan tangan, dengan negara tujuan seperti India, Arab Saudi dan negara-negara Asean, serta Rusia, Kanada, dan juga Eropa.

Hal tersebut diungkapkan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Perindag) Aceh, Muhammad Raudhi pada acara Focus Group Discusion (FGD) tentang penyelesaian perundingan Asean dengan mitra strategis (UNI Eropa, Canada, US dan Rusia), yang dilaksanakan Kementerian Perdagangan, di Hotel Kiryad Banda Aceh, Selasa (29/1). FGD tersebut diikuti sejumlah eksportir Aceh dari berbagai bidang usaha, asosiasi, Bappeda Aceh, Dinas Perindag Aceh dan dinas serta lembaga terkait lainnya.

Raudhi menjelaskan, ekspor kerajinan tangan, seperti bordir, tas, busana muslimah nilainya rendah. Tapi, barang-barang kerajinan itu memberi dampak luas bagi peningkatan pendapatan masyarakat miskin. Karena yang bekerja di sektor ini umumnya masyarakat berpenghasilan rendah.

“Semakin banyak yang dibordir, maka semakin besar pendapatannya. Untuk meningkatkan jumlah produksi kain yang dibordir, kita harus membuka pasar, mulai dari pasar lokal, nasional, hingga ekspor,” kata Kadis Perindag Aceh itu.

Muhammad Raudhi menambahkan, kasil kerajinan bordir Aceh sangat disukai oleh warga asing. Setiap kali kerajinan bordir Aceh diikutkan dalam berbagai pameran, baik di Indonesia maupun di negara-negara Asean, seperti Brunei Darussalam, Malayasia, Singapura, Thailand, hasil kerajinan Aceh, mulai dari tas, dompet, busana muslimah, sangat diminati.

“Ini kesempatan kita untuk menangkap pasar ekspor untuk kerajinan Aceh. Apalagi saat ini tarif ekspor untuk barang-barang kerajinan tidak tinggi,” tandasnya.

Pada kesempatan itu, Kadis Perindag Aceh Muhammad Raudhi juga mengatakan, dampak negatif dari meningkatnya pajak impor yang dikenakan sejumlah negara untuk produk pertanian, kehutanan dan perkebunan dari Indonesia adalah menurunnya harga jernang.

Sebelumnya, kata Raudhi, harga jernang di dalam negeri pernah menyentuh di atas Rp 1 juta per kilonya. Tapi sekarang harga jernang turun dan hanya Rp 600 ribu saja setiap kilonya. “Alasan klasiknya untuk melindungi petani negara yang bersangkutan,” ujarnya.

Demikian juga dengan harga pinang dan sawit yang sejak tahun lalu sulit meningkat dan selalu bertahan pada kisaran harga Rp 500-Rp 800/Kg. Penyebabnya, karena sejumlah negara yang menjadi pasar pinang dan CPO dari Indonesia, sudah mulai menaikkan pajak impor, dengan alasan untuk melindungi petaninya. “Akibat kenaikan pajak impor itu, para perusahaan penampung terpaksa menekan harga belum agar mereka bisa bertahan,” jelas Muhammad Raudhi.(her)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved