Opini

Pahitnya Kopi sebagai Pemanis Perekonomian Aceh

ACEH merupakan daerah yang dikarunia kekayaan sumber daya alam yang melimpah, dan apabila dikelola

Pahitnya Kopi sebagai Pemanis Perekonomian Aceh
Seorang petani kopi warga Kampung Blanggele, Kecamatan Bebesen, Kabupaten Aceh Tengah, Sabtu (13/10), sedang memetik buah kopi. SERAMBI/MAHYADI 

Oleh Teuku Munandar

ACEH merupakan daerah yang dikarunia kekayaan sumber daya alam yang melimpah, dan apabila dikelola dengan optimal sejatinya dapat memberikan kesejahteraan bagi masyarakatnya. Sejak zaman penjajahan hingga kini, potensi sumber daya alam Aceh masih menjanjikan, terutama di sektor pertanian. Bila dulunya Aceh dikenal sebagai penghasil pala, lada, dan cengkih, kini komoditas unggulan Aceh di antaranya adalah kelapa sawit, karet, kakao, dan kopi tentunya.

Berbicara mengenai kopi, maka nama Aceh tidak bisa dilepaskan dari perkembangan industri kopi nasional saat ini. Kenikmatan kopi Aceh sudah dikenal dan memiliki tempat tersendiri di hati pecinta kopi Indonesia. Bahkan kini kopi (warung kopi) menjadi daya tarik untuk mendukung pengembangan sektor pariwisata Aceh. Kopi juga menjadi satu komoditas penting dalam neraca perdagangan luar negeri Aceh.

Berdasarkan data historis Badan Pusat Statistik (BPS), pasca-berakhirnya era minyak bumi dan gas (migas) yang ditandai dengan berhentinya kegiatan produksi LNG (Liquified Natural Gas) dari Blok Arun pada Oktober 2014, peran sektor pertambangan dan penggalian (migas) dalam pertumbuhan ekonomi Aceh digantikan oleh sektor pertanian. Hal yang sama juga terjadi pada aktivitas ekspor, bila sebelumnya ekspor Aceh mengalami surplus yang bersumber dari migas, maka pada 2015 untuk pertama kalinya neraca perdagangan luar negeri Aceh mengalami defisit hingga 23 juta dolar AS. Defisit ekspor juga masih terjadi di 2016, namun jauh lebih rendah dari 2015, yaitu hanya sebesar 6 juta dolar AS.

Setelah mengalami defisit pada 2015 dan 2016, neraca perdagangan luar negeri Aceh kembali mencatatkan surplus pada 2017, dengan nilai 39 juta dolar AS. Komoditas non migas menjadi kontributor utama ekspor Aceh, yang satu di antaranya adalah kopi. Data Bea Cukai menunjukkan bahwa pada 2017, ekspor kopi Aceh mencapai 33,78 juta dolar AS (23,14%) dari total ekspor luar negeri Aceh yang berjumlah 145,98 juta dolar AS. Terhitung dalam kurun waktu 2013 - 2017, komoditas kopi memberikan kontribusi besar terhadap ekspor luar negeri Aceh, yaitu sebesar 25,77% dari total ekspor senilai 340,98 juta dolar AS.

Data tersebut menunjukkan peranan penting komoditas kopi dalam menggerakkan perekonomian Aceh, termasuk dari sisi ekspor. Menyadari strategisnya peranan komoditas kopi serta potensi yang dimiliki, maka sudah seyogyanya pemerintah dan stakeholder terkait di Aceh memberikan perhatian yang serius dan berkesinambungan terhadap pengembangan industri kopi di Aceh, baik di sektor hulu maupun hilir.

Beberapa hambatan
Berbagai kendala yang selama ini dihadapi di sektor hulu di antaranya terkait produktivitas kopi, agar segera diselesaikan melalui kebijakan yang tepat, cepat, dan terarah. Hasil kajian Bank Indonesia Provinsi Aceh terdapat beberapa hambatan dalam pengembangan komoditas kopi, yaitu: Pertama, produktivitas lahan yang rendah. Data Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian menunjukkan produktivitas lahan kopi di Aceh tercatat sebesar 677 kg/ha atau terendah ke-3 di Sumatera. Produktivitas ini masih tertinggal jauh bila dibandingkan dengan negara penghasil kopi di dunia, seperti Vietnam (2.300 kg/ha), Brazil (1.400 kg/ha), serta Kolombia (900 kg/ha).

Beberapa hal yang menyebabkan rendahnya produktivitas tersebut di antaranya adalah banyaknya pohon yang telah memasuki masa tua, sistem pengairan dan pemupukan yang masih tradisional, minimnya tanaman penaung (lamtoro, pohon pisang, alpukat) di perkebunan kopi, kualitas bibit kopi yang kurang tahan hama, serta budidaya paska panen yang masih tradisional (penjemuran di atas tanah dan tidak menggunakan pelindung/dome).

Untuk mengatasi hambatan tersebut beberapa upaya yang dapat dilakukan diantaranya adalah dilakukannya replanting pada tanaman yang sudah berusia tua, pemangkasan rejuvinasi, pengairan dan pemupukan dengan metode drip fertigation (irigasi dan pemupukan tetes), penanaman tanaman penaung, mendorong berbagairiset untuk menghasilkan bibit kopi yang unggul (pendirian pusat penelitian kopi di Aceh), serta meningkatkan pengetahuan petani dengan memperkenalkan teknologi dan tehnik budidaya kopi terkini yang lebih efektif dan efisien.

Kedua, pembiayaan/permodalan. Sebagaimana pada umumnya, faktor permodalan menjadi salah satu kunci penting dalam pengembangan aktivitas bisnis suatu usaha.Mencermati data penyaluran kredit/pembiayaan oleh perbankan ke sektor pertanian yang masih rendah, serta diskusi yang dilakukan dengan petani/pengusaha kopi, diketahui bahwa kesulitan mendapatkan pembiayaan masih menjadi hambatan bagi petani/pengusaha dalam mengembangkan usaha kopinya. Perkembangan teknologi yang menyuguhkan layanan jasa finansial teknologi (Fintech) ternyata belum bisamenjadi solusi dari permasalahan permodalan yang dialami petani kopi di Aceh.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved