Opini

Pahitnya Kopi sebagai Pemanis Perekonomian Aceh

ACEH merupakan daerah yang dikarunia kekayaan sumber daya alam yang melimpah, dan apabila dikelola

Pahitnya Kopi sebagai Pemanis Perekonomian Aceh
Seorang petani kopi warga Kampung Blanggele, Kecamatan Bebesen, Kabupaten Aceh Tengah, Sabtu (13/10), sedang memetik buah kopi. SERAMBI/MAHYADI 

Perbankan sebagai lembaga keuangan terbesar saat ini, masih memandang sektor pertanian sebagai sektor ekonomi yang berisiko tinggi, sehingga pembiayaan ke sektor tersebut belum menjadi prioritas perbankan. Menghadapi situasi demikian, petani kopi di daerah Gayo sebagai sentra penghasil kopi mencoba mencari sumber pembiayaan lainnya, termasuk melalui lembaga internasional, seperti Root Capital yang menawarkan fasilitas pembiayaan kepada para petani. Lembaga yang berkantor pusat di Amerika Serikat tersebut telah memberikan fasilitas pembiayaan kepada beberapa koperasi kopi di Gayo yang melakukan kegiatan ekspor kopi. Tentunya alangkah baiknya bila peranan lembaga internasional tersebut dapat dimainkan oleh perbankan, di antaranya melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR) atau fasilitas lainnya seperti Sistem Resi Gudang.

Ketiga, hambatan investasi. Untuk mendongkrak perekonomian di Aceh, salah satu strategi yang dapat ditempuh adalah melalui masuknya investasi dari luar Aceh. Selain menciptakan aliran dana masuk ke Aceh, investasi juga dapat menyebabkan terjadinya transfer teknologi kepada pelaku usaha di Aceh, terutama investasi yang berasal dari luar negeri. Dalam kajiannya, BI Aceh menyebutkan bahwa masuknya investasi ke industri kopi di Aceh diperkirakan akan dapat mendongkrak perkembangan bisnis kopi dan secara keseluruhan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi Aceh. Namun sayangnya iklim investasi di Aceh saat ini masih dianggap belum menarik oleh investor asing.

Dalam laporan Lee Kuan Yew School of Public Policy dari National University of Singapore (NUS) yang diterbitkan pada 2017, posisi daya saing Provinsi Aceh berada pada peringkat 25 dari 33 provinsi di Indonesia yang dinilai. Provinsi Aceh dianggap masih memiliki beberapa kelemahan yang menjadi penghambat masuknya arus investasi di Aceh, di antaranya adalah macroeconomic stability (stabilitas makroekonomi), government and institutional setting (pengaturan pemerintah dan kelembagaan), serta financial, business, and manpower condition (kondisi keuangan, usaha, dan ketenagakerjaan). Ketiga hal ini tentunya dapat menjadi perhatian pemerintah dan stakeholder terkait lainnya termasuk Bank Indonesia.

Dan, keempat, nilai tambah yang rendah. Selama ini mayoritas kopi Aceh dijual/ekspor dalam bentuk biji (green bean), sehingga tidak memberikan nilai tambah (value added) yang optimal kepada petani/pengusaha kopi. Penjualan/ekspor dalam bentuk biji oleh petani tentunya bukan tanpa sebab. Kendala seperti waktu pengiriman yang lama sehingga berisiko terganggunya kualitas kopi, adanya hambatan non-tarif oleh negara pengimpor, hingga bervariasinya selera negara importir menjadi pertimbangan bagi pengusaha/petani kopi Aceh saat memutuskanuntuk menjual/mengekspor kopinya dalam bentuk green bean. Penguatan industri hilir dalam bisnis kopi dapat menjadi solusi dalam permasalahan nilai tambah produk kopi. Kerja sama yang baik antarpemerintah/negara juga diperlukan untuk memfasilitasi permasalahan-permasalahan hambatan non-tarif dan akses pasar.

Dengan potensi yang dimiliki, Aceh harus dapat memanfaatkan dan tampil sebagai pemain kunci dalam industri kopi nasional, bahkan dunia. Prospek bisnis kopi kedepannya diperkirakan akan semakin menjanjikan, seiring dengan semakin masifnya gaya hidup minum kopi dan tumbuhnya gerai kopi di berbagai negara. Bila dulunya identik dengan orang tua, kini kebiasaan minum kopi (ngopi) menjadi tren di kalangan generasi muda atau milenial.

Berdasarkan proyeksi dari International Coffee Organization, sampai 2020 nanti rata-rata permintaan kopi dunia akan naik 2,5% per tahun. Sementara khusus Indonesia, permintaan kopi akan meningkat di kisaran 7% per tahunnya. Ini menunjukkan besarnya pasar untuk menampung hasil produksi kopi Aceh maupun nasional dalam beberapa tahun ke depan. Bila dapat dimanfaatkan, maka komoditas kopi akan menjadi satu kontributor utama penggerak ekonomi Aceh, bahkan nasional. Jadi, pahitnya rasa kopi ternyata menjadi pemanis bagi perekonomian Aceh. Nah!

* Teuku Munandar, Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Aceh. Email: teuku_m@bi.go.id

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved