Salam

Cegah “Indonesia Barokah” agar Masyarakat tak Terusik

Tabloid Indonesia Barokah yang sudah dinyatakan Dewan Pers sebagai bukan produk jurnalistik, ternyata juga sudah masuk

Cegah “Indonesia Barokah” agar Masyarakat tak Terusik
KOMPAS.Com/SLAMET PRIYATIN
Tabloid Indonesia Barokah yang siap edar. (KOMPAS.com/SLAMET PRIYATIN) 

Tabloid Indonesia Barokah yang sudah dinyatakan Dewan Pers sebagai bukan produk jurnalistik, ternyata juga sudah masuk ke Aceh, antara lain melalui Kantor PT Pos Indonesia Banda Aceh. Bacaan yang dianggap bermasalah itu dikirim ke masjid-masjid dan pesantren (dayah) di Aceh. “Benar (sudah masuk ke Aceh). Distribusinya masih ditahan oleh PT Pos sambil menunggu keputusan lebih lanjut terkait polemik tabloid tersebut,” kata Marini, Komisioner Panitia Pengawas Pemilihan (Panwaslih) Aceh.

PT Pos Indonesia sepertinya memang mendapat arahan dari kantor pusat untuk menahan sementara proses distribusi tabloid yang diklaim oleh tim pemenangan Capres/Cawapres Prabowo-Sandi sangat merugikan pihaknya. Sebab selain di Aceh, penahanan distribusi juga dilakukan oleh PT Pos Indonesia di Padang, Sumatera Barat, dan lain-lain.

Dalam paket pengiriman tabloid Indonesia Barokah bertuliskan alamat tujuan ke sejumlah pesantren tanpa menyebut siapa pengirimnya. Atas paket berisi tabloid itu, PT Pos akan berkoordinasi dengan Bawaslu dan Kepolisian.

Bawaslu sendiri telah menyerahkan persoalan tabloid ini kepada pihak kepolisian. Hal itu lantaran Bawaslu menganggap tabloid tersebut tidak melanggar kampanye. Namun, Bawaslu menyatakan tetap menginvestigasi untuk mengetahui siapa yang berada di balik tabloid dimaksud. Saat ini, Bawaslu berusaha mencegah penyebaran tabloid Indonesia Barokah di tengah masyarakat. “Karena ini meresahkan masyarakat.”

Sedangkan Kapolri Jenderal Tito Karnavian menyatakan pihaknya tengah mempelajari terkait beredarnya tabloid Indonesia Barokah. Polisi meastikan akan menindak siapapun bila terbukti melakukan kampanye hitam.

Dan, sebelumnya, Dewan Pers sudah menyatakan konten yang dimuat tabloid Indonesia Barokah bukan produk jurnalistik. “Tabloid Indonesia Barokah itu bukanlah media sebagaimana dimaksud Undang-Undang 40 Tahun 1999,” kata Ketua Dewan Pers Yosep Adi Prasetyo.

Tim Prabowo-Sandi yang merasa paling dirugikan atas beredarnya tabloid itu, sudah menyatakan keberatannya kepada Dewan Pers, Polri, Bawaslu, dan beberapa pihak lainnya. Menurut tim pemenangan capres nomor urut 2 itu, isi tabloid tersebut kebanyakan adalah fitnah yang sangat merugikan mereka.

Terlepas dari itu, yang jelas kehadiran tabloid dimaksud memang telah menimbulkan semacam rasa penasaran bahkan keresahana dalam masyarakat. Pertama karena para penerima tabloid itu, tidak tahu siapa pengirimnya. Kedua, Dewan Pers juga menemukan beberapa fakta fiktif terkait dengan tabloid tersebut.

Oleh karenanya, kita sependapat dengan sikap PT Pos dan Bawaslu yang mencegah peredaran tabloid Indonesia Barokah meskipun sudah telanjur masuk ke Kantor PT Pos di Banda Aceh, atau juga kantor-kantor PT Indonesia lainnya di Aceh. Sebab, jika sesuatu informasi yang tak bisa dipertanggungjawabkan dikonsumsi masyarakat, tentu akan sangat merusak bahkan mungkin bisa menimbulkan kegaduhan. Sekali lagi, kita berharap aparat dapat mencegah peredaran tabloid tersebut sambil menunggu proses pengusutan oleh polisi.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved