Opini

Guru Honorer

GURU adalah satu profesi yang perannya tidak dapat digantikan oleh mesin canggih sekalipun

Guru Honorer
Kolase
Jokowi dan aksi unjuk rasa para guru honorer 

(Antara Pengabdian dan Tuntutan Kesejahteraan)

Oleh Dewi Sofiana

GURU adalah satu profesi yang perannya tidak dapat digantikan oleh mesin canggih sekalipun. Walaupun saat ini dunia berkembang amat pesat, di mana kehidupan sudah super modern dan serba digital, kedudukan guru tetap tidak pernah bisa digantikan oleh perangkat mesin atau robot. Ini menunjukkan bahwa guru adalah satu profesi yang memiliki kedudukan penting dalam kehidupan manusia. Namun kenyataannya, pemilik profesi ini belumlah semuanya bernasib baik alias sejahtera.

Dari gurulah kita mulai mengenal abjad aksara, menghitung angka, membaca dan menulis. Itulah tahap awal setiap individu keluar dari zona buta huruf. Guru berperan dalam banyak bidang; mengajari berbagai ilmu, mendidik, membentuk karakter dan budi pekerti, serta menebarkan nilai-nilai kebaikan. Gurulah yang membidani lahirnya banyak orang hebat di muka bumi ini. Aneka profesi tak terlepas dari keberadaan sosok seorang guru. Presiden, profesor, dosen, dokter, seniman, pengusaha, dan pemuka agama sekalipun, lahir melalui jasa seorang guru.

Tak bisa dipungkiri, pendidikan menjadi penentu dalam kemajuan sebuah bangsa. Melalui gurulah proses pendidikan dapat terlaksana sebagai upaya untuk mewujudkan kemajuan bangsa sesuai harapan. Akan tetapi proses pendidikan di negeri ini masih terkendala oleh belum cukupnya guru yang berstatus pegawai negeri sipil (PNS), terutama di daerah pinggiran dan pelosok. Akibatnya sekolah-sekolah yang membutuhkan kecukupan guru untuk menunjang proses belajar-mengajar dapat berjalan normal, mengambil kebijakan untuk menerima kehadiran guru bakti atau honorer.

Guru honorer
Menurut data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, jumlah guru honorer se-Indonesia saat ini adalah sebanyak 1,5 juta orang, yang terdiri dari 735 ribu guru bukan PNS di sekolah negeri dan 790 ribu guru bukan PNS di sekolah swasta. Guru honorer tersebut berstatus K2 alias harus mengikuti tes CPNS agar menjadi pegawai negeri. Jumlah ini belum termasuk sejumlah guru honorer lainnya yang tidak terhitung dalam kategori ini alias belum “tersangkut” namanya dalam catatan yang menjadi prioritas pemerintah.

Berbicara mengenai guru honorer, ibarat mengurai kisah yang tak ada habisnya. Perjuangannya dalam menuntut perbaikan nasib, kerap mengundang rasa prihatin. Bagaimana tidak, sosok yang turut punya andil besar dalam mendidik bangsa ini, masih terperangkap dalam kehidupan yang jauh dari sejahtera. Padahal pada prakteknya, tugas dan tanggung jawab yang diemban guru honorer hampir tak ada beda dengan guru berstatus PNS yang notabene sudah sejahtera dari segi pendapatan.

Mengabdi sebagai guru yang bukan berstatus PNS, membutuhkan kekuatan mental, keteguhan hati, dan mampu berjiwa besar. Di satu sisi, dengan mendedikasikan diri sebagai seorang guru, tentulah siap dengan jiwa pengabdian. Mengajar dan mendidik adalah bagian dari tugas dan tanggung jawab. Namun di sisi lain, sang guru pun adalah makhluk ekonomi yang harus memenuhi kebutuhan hidupnya.

Barangkali tak terbayang jika ada guru honorer yang hanya mendapat jerih tak sampai Rp 100.000 per bulan. Atau, bahkan hampir tak ada jerih apa pun yang diterimanya sebagai apresiasi atas pengabdiannya. Ironis, memang. Padahal, sumbangsih dan kontribusi guru honorer memiliki peran yang tak bisa dibilang minim terhadap dunia pendidikan di negeri ini.

Banyak kisah mengharukan tentang pengabdian guru honorer di berbagai pelosok Indonesia. Berbagai kisah yang menggugah ini, menunjukkan betapa mereka benar-benar mengabdi untuk negeri, bukan mementingkan kepentingan pribadi semata-mata. Sekadar contoh, lihatlah pengabdian Bapak Maman Supratman. Beliau 40 tahun menjadi guru honorer di SMPN 17 Bekasi. Di usianya yang sudah 75 tahun tetap semangat mengabdi sebagai seorang guru. Lantas, mengapa pihak terkait “tega” membiarkan seorang Maman Supratman tetap menjadi guru yang berstatus honorer hingga 40 tahun masa pengabdiannya?

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved