Opini

Guru Honorer, Pahlawan yang Terabaikan

DISKRIMINASI guru berstatus pegawai negeri sipil (PNS) dan guru honorer sangat kentara sekali. Padahal di sebuah sekolah

Guru Honorer, Pahlawan yang Terabaikan
Puluhan guru honorer Kategori 2 (K-2) menangis tersedu-sedu saat melakukan aksi unjukrasa di Kantor Kementrian Agama (Kemenag) Nagan Raya di Kompleks Perkantoran Suka Makmue. SERAMBI/DEDI ISKANDAR

Oleh Wintah

DISKRIMINASI guru berstatus pegawai negeri sipil (PNS) dan guru honorer sangat kentara sekali. Padahal di sebuah sekolah di desa-desa lebih didominasi guru honorer. Bahkan, fakta di lapangan guru PNS yang mengajar di desa-desa hanya satu atau dua orang. Sementara nasib guru honorer harus mengampu semua pekerjaan, mereka sangat menyedihkan, bahkan untuk jatah makan saja tidak cukup.

Secara substansial diskriminasi menimpa guru honorer terutama yang mengabdi di sekolah swasta yang berupaya meningkatkan status menjadi PNS terpental oleh rasa ketidakadilan. Usaha guru honorer yang berstatus guru tidak tetap (GTT) masih mengadu nasib mereka yang berpuluh-puluh tahun kepada pemerintah tidak pernah ada pengakuan hak atas perjuangan mereka. Akankah usaha itu dihargai?

Hal tersebut terjadi sejalan dengan diterapkannya Peraturan Pemerintah (PP) No.48 Tahun 2005 yang mengatur seleksi Penerimaan Pegawai Negeri Sipil (PNS). Satu faktor gelombang aksi guru honorer semakin membara karena pengangkatan guru PNS diprioritaskan memiliki pengalaman sebagai guru dengan mengajar di sekolah negeri. Hal itu berarti, perjuangan guru swasta menuntut dipermudah diangkat menjadi PNS, pupus lagi. Apalagi tahun ini pemerintah mengurangi pengangkatan guru honorer yang menjadi PNS. Sementara masih banyak puluhan ribu guru honorer yang sampai sekarang nasibnya terkatung-katung, tanpa ada perhatian dari pemerintah. Bahkan pemerintah sudah menghapus perekrutan CPNS dari tenaga honorer sekolah. Efeknya lagi, guru honorer kehilangan kesempatan menjadi PNS.

Bak sapi perahan
Guru honorer sering menjadi bak sapi perahan, tugasnya yang begitu banyak namun hak mereka tidak pernah diperhatikan. Mereka berjuang tetapi tak pernah mendapat jasa. Guru honorer khususnya di sekolah swasta berada dalam lingkup yang sangat sempit, tidak berkuasa, bungkam tanpa daya. Tugas guru selain mendidik adalah menghukum atau memberi hadiah kepada anak. Kekuasaan guru juga memberikan nilai akademik baik atau buruk kepada anak didik.

Pendek kata, merah-hitamnya anak terletak pada guru. Harusnya pemerintah memberikan tanda jasa kepada semua guru. Tidak pandang bulu, baik guru berstatus PNS, guru swasta maupun guru honorer. Sebab sebagai guru harus memikul amanat berat yang diberikan, wali murid, pemerintah dan bangsa untuk sepenuhnya melakukan pembinaan anak di sekolah.

Dengan label honorer itu, apa yang dapat dibanggakan oleh guru? Karena label yang tidak membanggakan, maka guru honorer banyak yang malu menyebutkan label yang ia miliki. Lalu apa yang ditakutkan? Ketakutan terbesar terhadap guru honorer manakala seumur hidupnya tidak pernah diperhatikan pemerintah baik perjuangan maupun pengabdiannya.

Sampai pada 2018 lalu, ribuan guru honorer tak henti-hentinya melakukan aksi demo ke Gedung DPR RI untuk menyampaikan aspirasinya dan memprotes kebijakan pemerintah. Mereka bertindak karena dalam keadaan terdesak. Guru adalah orang yang sadar akan hak dan kewajiban. Demo seorang guru ibarat sedang mengajar kepada khalayak banyak, yaitu hak harus dituntut setelah kewajiban dijalankan. Tidak ada pihak yang dihujat atau disakiti, tak ada bangunan yang dirusak. Kalau sampai guru demo dengan mogok mengajar, maka pemerintah sudah panas dingin. Berbeda jika yang mogok kerja dari kalangan sopir. Pengusaha dapat mengerahkan sopir cadangan.

Pada masyarakat yang menganut pola hubungan patronase, guru ibarat lautan budi tepian ilmu, tempat bertanya atas sesuatu masalah dan menjadi muara atas semua nilai kebajikan. Bahkan pada masyarakat pedesaan yang masih kental pola kehidupan paguyuban, guru tidak cuma dituntut pandai dalam mendidik anak, tetapi juga dituntut sebagai penuntun ke arah jalan terang bagi masyarakatnya. Mereka melihat guru sebagai sosok yang memiliki kewaskitaan dalam melihat sesuatu hal.

Guru adalah profesi yang sedikit cemooh. Masyarakat tidak rela jika ada guru yang dicemooh. Guru adalah profesi yang dituntut untuk tidak boleh salah dan keliru. Jika guru salah menerapkan sebuah konsep, keliru dalam memahami dan menilai sebuah rumusan, maka bisa fatal. Apalagi jika sampai berbohong menyembunyikan kebenaran.

Jika guru yang salah dalam memberikan sebuah sistem nilai kepada anak didik, maka anak satu kelas akan menjadi korban. Ia juga tidak boleh berbohong. Karena satu kebohongan akan melahirkan kebohongan yang lain. Artinya, ada derajat yang lebih tinggi pada profesi keguruan dibandingkan dengan profesi yang lain. Ia berbeda karena menjadi guru bisa berarti menjadi liyan (other) dalam suatu komunitas. Yang lain boleh saja makan, minum, merokok sambil berjalan. Tetapi bagi seorang guru, hal itu tabu untuk dilakukan.

Membela guru honorer
Tulisan ini adalah rasa luapan hati yang mendalam untuk membela nasib guru honorer yang ada di Indonesia. Selama penulis lebih dari lima tahun menjadi guru honorer, tidak pernah ada perhatian bahkan upah yang pantas bagi seorang guru honorer. Ungkapan ini adalah pengalaman penulis dan rekan kerja guru honorer lainnya sudah mengabdikan sejak 2006-2018 masih posisi yang tidak menentu.

Guru honorer hanya dihargai Rp 300.000 - Rp 500.00 per bulan. Nilai nominal yang begitu kecil, namun dibayar menunggu semester belakang. Sungguh terketuk hati ini, melihat nasib guru honorer belum ada perhatian dari pemerintah. Bekerja bercucuran keringat hingga keringat mengering belum juga memenuhi standar hidupnya. Padahal guru honorer mempunyai tanggung jawab dan beban kerja yang sama dengan guru PNS/guru tetap. Bahkan dibilang guru honorer justru sering menjadi sapi perahan guru-guru PNS/guru tetap.

Banyak ditemui guru PNS/guru tetap yang sering keluar kota, sementara tanggung jawab dan beban kerjanya diserahkan begitu saja pada guru honorer. Tetapi di sisi lain, guru PNS/guru tetap maupun kepala sekolah tidak pernah ada perhatian terhadap nasib guru honorer. Bahkan pihak-pihak terkait pun sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri. Guru honorer adalah pahlawan yang sampai saat ini terabaikan. Mereka harus diperhatikan nasib hidupnya. Mereka telah berjuang ikut mencerdaskan anak-anak bangsa. Guru honorer adalah pahlawan tanpa jasa yang sering terabaikan. Nah!

* Wintah, S.Pd., M.Si., Dosen Universitas Teuku Umar (UTU) Meulaboh, saat ini sedang mengambil program doktoral Ilmu Biologi di Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah. Email: syuga_2006@yahoo.co.id

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved