Opini

Guru Honorer

GURU adalah satu profesi yang perannya tidak dapat digantikan oleh mesin canggih sekalipun

Guru Honorer
Kolase
Jokowi dan aksi unjuk rasa para guru honorer 

Atau cerita tentang guru honorer yang kesulitan memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Tak heran, guna menyiasati biaya hidup yang tak kenal kompromi, mereka tak malu-malu mencari penghasilan dengan menjadi pemulung, buruh kasar ataupun pembantu rumah tangga. Semua itu dilakukan agar mereka tetap memiliki “baterai” untuk menjalankan tugas dan fungsinya sebagai guru. Meskipun guru honorer tersebut bernaung di bawah satu sekolah, tetapi mengharap sekolah dapat memberi kesejahteraan bukanlah hal yang tepat, terutama bagi sekolah kecil dan swasta.

Kenyataan yang kita lihat, sekolah-sekolah daerah pinggiran dan pelosok, di mana jumlah guru PNS bisa dihitung dengan sebelah jari tangan, andil guru honorer sangatlah besar. Dalam proses belajar mengajar, guru honorer memiliki peran yang sama dengan guru PNS. Jika misalnya, guru honorer di sekolah tersebut “berhenti” mengajar secara serentak karena alasan tertentu, bisa dipastikan kelangsungan proses belajar mengajar akan terganggu atau bahkan macet. Katakanlah jika kasus ini terjadi secara nasional, sedikit tidaknya dunia pendidikan Indonesia pastilah ikut terguncang.

Menjadi guru dalam arti yang sebenarnya adalah tidak mudah. Begitu pula halnya dengan mengabdi sebagai guru honorer. Profesi ini di tuntut punya kepedulian tinggi terhadap dunia pendidikan. Plus berjiwa tangguh, tegar, punya loyalitas dan komitmen. Ini adalah syarat mutlak untuk menjadi seorang pendidik sejati.

Suka duka setiap guru dalam menjalankan tugasnya tentu berbeda satu sama lain. Bagi guru yang mengajar di sekolah kecil dan swasta, secara teknis dilapangan mungkin akan berbeda dengan sekolah negeri yang pada umumnya sudah dilengkapi sarana, prasarana dan fasilitas pendukung seperti laboratorium, komputer, perpustakaan, ruang olah raga, tempat ibadah (mushalla), ruang serba guna, dan lain-lain untuk menunjang kegiatan belajar mengajar.

Guru yang mengajar di sekolah dengan sarana terbatas dituntut harus lebih pandai dan kreatif dalam mengeksplor potensi siswa. Oleh karenanya, sang guru harus mengerahkan energi yang lebih besar sebagai pengganti ketiadaan fasilitas pendukung di sekolah. Terbayangkah jika peran ini justru banyak dilakukan oleh guru honorer, karena umumnya guru honorerlah yang lebih banyak terdapat di sekolah-sekolah tipe demikian dibandingkan guru berstatus PNS.

Rasa kecewa
Jadi wajarlah rasanya jika timbul rasa kecewa di hati para guru honorer ini ketika pengabdian panjangnya tak kunjung mendapat apresiasi yang patut. Alih-alih mendapat apresiasi, malah sosok pendidik ini sempat menerima kenyataan pahit karena dianggap sebagai guru ilegal, seperti yang terjadi di Garut, Jawa Barat belum lama ini. Plt Kadisdik Garut Djatjad Sudrajat, yang seharusnya bisa menjadi pengayom bagi dunia pendidikan, justru melabeli guru honorer dengan predikat guru ilegal. Padahal kontribusi “sang guru ilegal” tersebut nyata-nyata memberi pengaruh yang tak bisa dipandang sebelah mata.

Buktinya saja, ketika guru yang disebut sebagai guru ilegal itu melakukan mogok mengajar sebagai bentuk pelampiasan kekecewaannya terhadap pernyataan tersebut, mengakibatkan lumpuhnya kegiatan belajar mengajar di sekolah yang minim guru PNS-nya. Ini terjadi karena guru PNS yang ada di sekolah tersebut tidak mampu untuk mengaktifkan kegiatan belajar mengajar secara normal, sebab jumlah mereka tidak sesuai dengan jumlah murid yang ada. Peristiwa lumpuhnya kegiatan belajar mengajar itu menandakan bahwa ternyata keberadaan sosok “guru ilegal” itu ternyata diperlukan juga kehadirannya.

Meningkatkan kesejahteraan guru adalah satu bukti bahwa pemerintah serius dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Begitu pula halnya harapan yang digantungkan di pundak pemerintah untuk perbaikan nasib guru honorer. Pemerintah sebagai pengelola negeri ini, diharapkan dapat merumuskan kebijakan yang mampu menghargai keberadaan guru honorer sebagai bagian dari pelaku pendidik bangsa. Selama ini menunjukkan bahwakontribusi guru honorer terhadap dunia pendidikan Indonesia terbukti memberi pengaruh yang nyata.

Namun sampai sekarang, pemerintah masih menunjukkan sikap cukup berbeban terhadap keberadaan guru honorer. Ini terbukti dari sikap pemerintah yang tak kunjung tuntas menangani masalah guru honorer, terutama yang sudah mengabdi belasan, bahkan puluhan tahun. Akibatnya, muncul berbagai reaksi dari kelompok ini, seperti aksi demo yang marak terjadi di berbagai daerah. Ada yang berdemo ke gedung DPR, pemerintah setempat, atau bahkan langsung ke Presiden.

Meski demikian, untuk para guru honorer, teruskan pengabdianmu dengan tulus dan ikhlas. Negeri ini selalu menanti sumbangsihmu. Teruslah berkarya demi kemajuan bangsa ini. Semoga pengabdianmu akan berakhir indah. Percayalah bahwa meskipun perjuanganmu kini belum menuai hasil, tetapi pengabdian itu akan menjadi ladang amal yang kelak hasilnya dapat dituai di akhirat. Semoga!

* Dewi Sofiana, mengajar di Madrasah Tsanawiyah Swasta (MTsS) Juli, Bireuen. Email: dewi_sp17@ymail.com

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved