Berwisata Sambil Memetik Rambutan di Lembah Seulawah

JIKA biasanya membeli rambutan di pedagang pinggir jalan atau di pasar buah, lalu apa bedanya jika membeli rambutan

Berwisata Sambil Memetik Rambutan di Lembah Seulawah
SERAMBI/MUHAMMAD NASIR
PENGUNJUNG sedang memetik rambutan di kebun milik Midrar di Lembah Seulawah, Aceh Besar, Rabu (30/1). 

JIKA biasanya membeli rambutan di pedagang pinggir jalan atau di pasar buah, lalu apa bedanya jika membeli rambutan dengan memetik langsung di kebunnya? Tentu ada sensasi berbeda.

Adalah Midrar (30), pemilik kebun rambutan di Gampong Lambaro Tunong, Kecamatan Lembah Seulawah, Aceh Besar, yang membuka kebun rambutannya untuk umum. Siapa saja bisa masuk ke kebun untuk membeli rambutan.

Kebun milik Midrar berada tidak jauh dari Jalan Nasional Banda Aceh-Medan atau berjarak 40-an Km dari Banda Aceh. Untuk mencapai kebun, harus masuk sekitar 100 meter dari jalan raya, akses masuk berupa jalan kerikil yang sudah dapat dilalui mobil.

Kini, kebun milik Midrar mulai terkenal di media sosial, setelah ia mempromosikannya di dunia maya. Dikatakan, awalnya ia hanya iseng memposting ke Facebook, bahwa warga boleh datang ke kebunnya dengan memetik rambutan. Ia menjual rambutan yang sudah dipetik itu Rp 5 ribu per kilogram. Selain rambutan, juga ada langsat yang dijual 15 ribu/kg.

Postingan tersebut mulai banyak disebar netizen di dunia maya, baik di Facebook, Instagram, hingga grup Whatsapp. Alhasil, sejak seminggu terakhir kebun tersebut mulai ramai didatangi Pengunjung.

Otomatis kebun yang berada di kaki Gunung Seulawah itu menjadi agrowisata dadakan. Pengunjung berdatangan secara berkelompok, baik dengan teman maupun membawa keluarga. Mereka juga dapat mengitari kebun sambil berfoto ria.

“Saya tidak menyangka yang datang bisa seramai ini. Handphone terus-terusan bunyi, menanyakan posisi kebun. Padahal kemarin cuma iseng,” ujar Midrar.

Rata-rata setiap yang datang membeli 10-20 kg rambutan, yang kemudian dibungkus dalam goni yang sudah disediakan. Midrar menjelaskan, demi menjaga supaya kondisi pohon tetap terjaga dan proses pemetikannya cepat, maka rambutan yang akan dibeli sebagian besar dipetik langsung pengelola kebun. Karena dalam memetiknya harus ada cara tersendiri, yaitu memotong tangkai buah.

Tahun-tahun sebelumnya Midrar menjual rambutan hasil panen langsung ke agen penampung. Namun karena harganya sangat murah, sehingga terbersit ide untuk membuka kesempatan kepada pembeli untuk mendatangi langsung ke kebun. Apalaginya lokasinya dekat jalan raya dan mudah dijangkau.

Setiap hari ada 50-100 orang pengunjung yang datang, omsetnya pun mencapai Rp 12 juta per hari. Ia memprediksi, pengunjung akan semakin ramai pada hari Sabtu dan Minggu. Ia menjelaskan, musim rambutan terjadi sekali dalam setahun, durasinya dalam sekali musim sekitar satu bulan.

“Ini baru satu minggu musimnya, jadi masih ada beberapa minggu kedepan. Biasa lamanya satu bulan dalam sekali musim,” jelas Midrar yang dibantu istrinya, Eva.

Ima, seorang pengunjung dari Banda Aceh menyampaikan, dirinya mengetahui keberadaan kebun itu dari media sosial. Karena penasaran dan menurutnya unik, ia pun mendatangi langsung kebun tersebut bersama teman-temannya. “Jadinya suasana kebunnya sangat rindang, buahnya lebat, jadi asik lah,” ujarnya.

Sekelompok pengunjung lainnya dari Banda Aceh yang terdiri atas Rini, Desi, Zia, dan Irma memutuskan menghabiskan hari libur ke kebun rambutan. Saat pulang, masing-masing mereka membawa satu goni rambutan. “Rasanya senang karena bisa memetik langsung, kita pun bisa melihat rambutan langsung di kebunnya,” ungkap Zia.

Berwisata sambil memetik rambutan sepertinya menjadi alternatif bagi warga dalam beberapa minggu kedepan. Pengalaman baru didapat, manisnya rambutan juga didapat!.(Muhammad Nasir)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved