Opini

‘Care and Share’

JUDUL tulisan ini sebenarnya adalah “peduli dan berbagi”, namun saya ganti dengan menggunakan bahasa Inggris

‘Care and Share’
SERAMBINEWS.COM/ABDULLAH GANI
Jamaah tampak larut dalam doa dan zikir. 

Oleh Zarkasyi Yusuf

JUDUL tulisan ini sebenarnya adalah “peduli dan berbagi”, namun saya ganti dengan menggunakan bahasa Inggris. Semoga lebih menarik dari judulnya, kemudian tergerak untuk menyelami isinya. Peduli dan berbagi adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan manusia yang berfungsi sebagai makhluk sosial, makhluk yang membutuhkan dan dibutuhkan orang lain (zon politicon). Peduli dalam kamus bahasa Indonesia diartikan mengindahkan; memperhatikan; menghiraukan. Berangkat dari makna ini, maka kepedulian sosial didefinisikan dengan sikap mengindahkan (memprihatinkan) sesuatu yang terjadi dalam masyarakat.

Sebenarnya, anjuran tentang kepedulian telah diajarkan oleh Rasulullah saw 14 abad silam melalui sabdanya, “Barang siapa yang tidak peduli dengan urusan kaum muslimin, maka dia bukan golongan mereka, barang siapa yang pagi dan sorenya tidak ada nasihat untuk Allah, Rasul-Nya, Kitab-Nya, pemimpin-Nya, dan umumnya kaum muslimin, maka dia bukan golongan mereka.” (Imam Ath Thabarani, Al Mu’jam Al Awsat No.7473, juga Ash Shaghir No.907, Imam Alauddin Al Muttaqi Al Hindi, Kanzul `Ummal No.24836).

Menurut Martin Heidegger (1889-1976), dalam bukunya Sein und Zeit, rasa peduli (sorge) adalah hubungan dasariah antara manusia dengan dunianya. Kaitannya dengan iman, peduli menjadi salah satu tolak ukur kualitas iman seseorang. Jika rasa peduli menjadi hubungan dasariah yang menjembatani manusia dengan lingkungannya, maka keseimbangan lingkungan akan sangat terpaut oleh kualitas kepedulian. Mutu hidup manusia ditentukan dari sejauh mana ia mampu mengembangkan rasa peduli ini dalam hubungannya dengan lingkungan, baik manusia atau alam.

Namun, seiring perjalanan waktu, kadang sikap hedonisme dan individualisme telah mengantarkan manusia menjadi “binatang buas” dengan keserakahannya, sehingga membungkam rasa peduli yang bersemayam dalam jiwanya. Jika dicermati lebih dalam, kisruh yang terjadi dalam hidup ini turut dipengaruhi oleh rasa peduli dan berbagi yang mulai terkikis dalam jiwa manusia.

Akan terganggu
Andai pemimpin tidak lagi peduli dengan urusan rakyatnya, orang kaya tidak lagi menghiraukan orang miskin, yang berilmu tidak lagi berteman dan menasehati yang awam, yang kuat malah menindas kaum lemah, atau bisa saja sebaliknya. Rakyat tidak lagi peduli dengan amaran pemimpinnya, yang miskin mencaci-maki orang kaya, yang awam malah memfitnah orang alim. Jika kondisi ini terjadi, maka keseimbangan kehidupan pasti akan terganggung.

Dalam buku al-Qabas an-Nuur al-Mubiin min Ihya ‘Ulumiddiin yang ditulis oleh Habib Umar bin Salim bin Hafidz, diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Yunus bin Ali al-Muhdor dengan judul Keajaiban Hati, disebutkan bahwa manusia dalam hidupnya dibekali oleh empat sifat, yaitu; sifat binatang ternak, sifat binatang buas, sifat setan, dan sifat ketuhanan.

Menurut Habib Umar bin Salim bin Hafidh, jika sifat ketuhanan telah menguasai diri seorang hamba, ia akan merendahkan dirinya, gemar mencari ilmu, sehingga terlepas dari sifat kebinatangan. Sifat ketuhanan yang dimiliki oleh manusia mendorongnya berbuat kebaikan dan amal saleh. Nafsu menjadi faktor penghalang bagi manusia dalam mengimplementasikan kebaikan dalam hidupnya. Peduli dan berbagi adalah sifat terpuji (mahmudah) yang harus dimiliki manusia dalam menjalankan kehidupan ini. Hidup terasa hampa tanpa rasa peduli dan saling berbagi, bagai bumi dilanda kemarau panjang.

Dalam sebuah hadis Rasululullah saw mengingatkan, “Barangsiapa ingin doanya terkabul dan dibebaskan dari kesulitannya hendaklah dia mengatasi (menyelesaikan) kesulitan orang lain.” (HR. Ahmad). Dalam hadis lain disebutkan bahwa Abu Hurairah berkata, Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa melepasakan dari seorang muslim satu kesusahan dari sebagian kesusahan dunia, niscaya Allah akan melepasakan kesusahannya dari sebagian kesusahan hari kiamat, dan barang siapa memberi kelonggaran dari orang yang susah, niscaya Allah akan memberi kelonggaran baginya di dunia dan akhirat, dan barangsiapa menutupi aib seorang muslim, niscaya Allah akan menutupi aib dia di dunia dan akhirat, Allah akan senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya.” (HR. Muslim).

Dalam hadis lain Rasulullah saw mengajarkan bahwa “Hak seorang muslim atas muslim lainnya ada enam perkara: Apabila engkau berjumpa dengannya sampaikanlah salam; apabila ia mengundangmu maka penuhilah undangannya; apabila ia minta nasihat berilah ia nasihat; apabila ia bersin dan mengucapkan al-Hamdulillah; maka jawablah dengan Yarhamukallah; apabila ia sakit maka jenguklah; dan apabila ia mati antarkan jenazahnya.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah).

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved