Opini

‘Care and Share’

JUDUL tulisan ini sebenarnya adalah “peduli dan berbagi”, namun saya ganti dengan menggunakan bahasa Inggris

‘Care and Share’
SERAMBINEWS.COM/ABDULLAH GANI
Jamaah tampak larut dalam doa dan zikir. 

Dari hadis di atas, pelajaran yang dapat diambil bahwa sejak 14 abad silam melalui syariat yang dibawa Nabi Muhammad saw telah diatur; bagaimana membumikan sikap peduli dan berbagi antarsesama. Dari hal kecil, mudah dan sederhana akan melahirkan magnet besar yang akan menjaga keseimbangan kehidupan. Magnet itu tidak lain adalah kepedulian. Hal kecil, mudah dan sederhana itu misalnya; saat bertemu saling mengucapkan salam dan bertegur sapa, menghadiri undangan jika diundang, saling memberi nasehat, ketika sakit saling mengunjungi, ini sering dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Jika kita mampu mempertahankannya dalam kehidupan dengan niat tulus karena Allah, maka tidak akan pernah terjadi kesenjangan dan konflik. Bagi yang diberikan kemudahan rezeki (kaya), maka saudaranya yang miskin menjadi ladang amal baginya dengan saling berbagi, bagi kaum intelektual maka saudaranya yang masih awam menjadi ladang amal baginya dengan nasehat pencerahan, bagi mereka yang memiliki kekuatan dan kekuasaan, menolong kesulitan saudaranya yang lemah menjadi ladang amal baginya.

Bersihkan hati
Sebenarnya, jika alat kendali manusia, yaitu hati diselubungi sifat-sifat setan, seperti iri, dengki, khianat, su’uzdhan, serta penyakit batin lainnya, maka seringan apapun perintah anjuran Islam untuk melanggengkan kepedulian dan memantapkan rasa saling berbagi tidak akan dapat diterapkan. Untuk itu, bersihkan alat kendali itu dengan belajar ilmu Agama, berzikir dan berfikir, mari penuhi majelis taklim, majelis zikir dan ruang-ruang belajar yang akan menambah kedekatan kita kepada Sang Pencipta dan Pengendali hati, agar hati kita menjadi motivator dalam kebaikan.

Sepertinya kita harus sering menguji kualitas kepedulian kita dalam hidup ini, agar rasa empati muncul yang dengan sendirinya akan melahirkan sikap setia dan saling berbagi. Perlu menjadi catatan bagi kita bahwa; kita tidak akan dipanggil orang kaya tanpa ada saudara kita yang disebut miskin; jangan bangga dengan kepandaian kita tanpa saudara kita yang disebut awam; jangan sesumbar dengan kekuatan dan kekuasaan yang sedang disandang, jika tanpa saudara kita yang disebut kaum lemah.

Mari merenung dan menghayati tentang rasa peduli dan berbagi, selami ia dengan penuh perasaan. Rasa peduli dan berbagi adalah bukti bahwa kita masih punya rasa, rasa yang mengantarkan kita untuk tidak tinggal diam dan mengambil peran untuk membantu kaum lemah, miskin, membantu mengatasi penderitaan dan kesulitan yang dihadapi orang lain. Jadi, sebagai umat Nabi, mari tunjukkan identitas kita yang saling berkasih sayang dengan sesama melalui sikap care and share, peduli dan berbagi. Nah!

* Zarkasyi Yusuf, ASN pada bidang Pendidikan Madrasah Kanwil Kementerian Agama Provinsi Aceh. Email: kasyiaceh@gmail.com

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved