Dewan Panggil Pengawas Sekolah

Komisi E Bidang Pendidikan Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Pidie memanggil semua pengawas SD dan SMP ke gedung

Dewan Panggil Pengawas Sekolah
IST
IDHAMI, Kadisdik Pidie

* Soal Pelajar SD dan SMP belum Bisa Baca

SIGLI - Komisi E Bidang Pendidikan Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Pidie memanggil semua pengawas SD dan SMP ke gedung dewan pada Kamis (31/1). Hal itu terkait adanya temuan pelajar kelas VI SD dan SMP belum bisa membaca.

Pertemuan itu dipimpin Khairil Syahrial MAP, Ketua Komisi E DPRK Pidie yang turut dihadiri Kepala Dinas Pendidikan Pidie, H Idhami SSos, Asisten II Setdakab Pidie, H Maddan MSi. Pertemuan berlangsung di ruang sidang dewan itu guna mencari solusi terkait persoalan pendidikan di Pidie yang dihadiri 9 pengawas SMP dan 22 pengawas SD.

Dalam sesi tanya jawab, suasana masih hangat saat sejumlah pengawas sekolah dalam forum itu membenarkan fakta diungkapkan Kadisdik Pidie, H Idhami adanya anak kelas VI SD dan SMP belum bisa membaca. Bahkan para pengawas juga punya catatan lebih dari data itu.

Sabaruddin, seorang pengawas SMP mengatakan, ada catatan pada dirinya sekira 39 anak SMP belum lancar membaca. “Di SMP, karena budaya lama, anak harus naik kelas, walau 39 pelajar SMP tidak bisa membaca dan data itu dihimpun di wilayah tugas saya,” kata Sabaruddin.

Pengawas lainnya, Amirseh memberi apresiasi cap jempol kepada kepala dinas berani mengungkapkan fakta apa adanya. Ada tiga tupoksi pengawas, melaksanakan pembinaan, ada tenaga pendidik di lapangan untuk menyelesaikan penilaian khusus.

Marlina, pengawas lainnya memberi pendapat adanya pengaruh pelajar kelas 1 dibolehkan naik kelas jika belum bisa baca, lalu, penyebab guru kelas satu guru honor. “Seiring keadaan guru honor, di sekolah kami siapkan remedial kemampuan dasar kurikulul 13 tidak boleh tinggal kelas dan itu memang kenyataan pahit anak belum bisa juga membaca,” katanya.

T Bukhari, pengawas lainnya juga dalam dialog itu mengatakan, ada beberapa faktor siswa lambat membaca yakni faktor keluarga, masyarakat dan sekolah. “Temuan saya memang ada siswa Kelas VI belum lancar, akibat kurang perhatian orang tua,” ujarnya. Dikatakan, pelajar itu tinggal sama neneknya dan persoalan kedua ada di masyarakat, serta pengaruh media.

Dikatakan, di sekolah hanya beberapa jam guru kontrol, akibat kekurangan guru, bahkan di sekolah negeri, jumlah guru empat orang PNS, selebihnya guru honor, Iskandar A, pengawas di Lamlo mengatakan cara meningkatkan pendidikan telah ditempuh semua pihak, tetapi di wilayah Sakti, jam 8 sudah ditutup sekolah, karena orang tua minta guru menjemput anaknya ke sekolah karena jarak jalan kaki 2 Km.

“Kemampuan si anak lambat juga jadi faktor dan faktor kelemahan itu menyebabkan dua murid kelas VI tidak bisa membaca. Kalau saya tinjau 20 anak ada dua orang tidak bisa membaca dan saran saya dilakukan bimbingan untuk anak yang belum bisa membaca, minimal dua kali seminggu,” ujarnya.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved