Salam

Kala Wanita Makin Rapuh Dalam Biduk Rumah Tangga

Setiap munculnya sebuah keluarga baru, saat anak manusia mengakhiri status kesendirian, dan membentuk

Kala Wanita Makin Rapuh Dalam Biduk Rumah Tangga
SERAMBINEWS.COM/SAIFUL BAHRI
Panitera Mahkamah Syariah Kota Lhokseumawe, Khudaini SH 

Setiap munculnya sebuah keluarga baru, saat anak manusia mengakhiri status kesendirian, dan membentuk mahligai rumah tangga, semua sepakat memberikan ucapan selamat dan harapan. Semoga terbentuk keluarga sakinah mawaddah warahmah (Samara) hingga ajal menjemput.

Seiring waktu, harapan itu seakan hanya menjadi slogan semata. Betapa tidak, makin banyak saja biduk rumah tangga yang kandas di tengah jalan. Ada yang baru berlangsung dalam hitungan hari, bulan atau masih terbilang seumur jagung.

Sebuah fenomena mengejutkan muncul dari tiga daerah yang terhitung paling dinamis di Aceh, yaitu, Birueun, Lhokseumawe dan Aceh Utara. Dari penelusuran media ini, angka perceraian di Aceh Utara, Lhokseumawe, dan Bireuen dalam tiga tahun terakhir terus booming. Ironisnya, dalam tiga tahun terakhir ini, trend perceraian lebih didominasi oleh cerai gugat (istri yang menggugat suami). Sementara kasus cerai talak (suami yang mengajukan) lebih kecil.

Seperti diakui Khudaini SH, Panitera Mahkamah Syariah, Kota Lhokseumawe, Berdasarkan data Mahkamah Syariah Kota Lhokseumawe, dalam tiga tahun terakhir, lebih banyak kaum wanita yang meminta cerai dari pada suami, dengan prosentase 65-35.

Hal senada diungkapkan Ketua Mahkamah Syariah Bireuen, Drs Amiruddin SH MH yang menyebutkan, perselisihan, cekcok keluarga dan pertengkaran mendominasi penyebab terjadinya perceraian di kabupaten setempat. “Umumnya, kaum wanita yang dominan melakukan cerai gugat dibandingkan laki-laki yang mengajukan cerai talak,” tegasnya.

Kondisi serupa juga terjadi di Mahkamah Syariah Lhoksukon, Aceh Utara seperti diakui ketuanya, M Wali Syam. Di mana, kasus perceraian dalam tiga tahun terakhir lebih banyak cerai gugat (permohonan istri) dibandingkan dengan cerai talak (permohonan suami). Hal ini disebabkan karena faktor ekonomi, keterlibatan pihak ketiga (perselingkuhan), dan narkoba.

Sejarah membuktikan, di era kejayaan migas Aceh, ketiga daerah itu terhitung memiliki tingkat perputaran uang yang tinggi. Namun seiring waktu, semua meredup, seiring redupnya produksi migas dari kilang gas Arun.

Entah karena era pengaruh era kedigadyaan itu, ekonomi menjadi faktor utama dalam rumah tangga. Kaum wanita yang sepertinya belum siap menerima keadaan, akhirnya berbalik arah. Mereka sepertinya memilih untuk kembali bersolo karir, tinimbang mempertahankan ‘perahu bocor’ dengan segala tetek bengek kewajiban seorang ‘sekretaris daerah’ dalam rumah tangga.

Dunia yang makin sempit dengan serbuan media sosial juga membuat rapuhnya pertahanan rumah tangga. Selain itu, dari data kriminal yang terungkap, tiga daerah di atas juga termasuk kawasan ‘darurat narkoba’ di Aceh. Dan faktor inipun menjadi pemicu dari bobolnya pagar ayu rumah tangga.

Kita semua sepakat, benteng terakhir ‘keluarga samara’ adalah penguatan iman dan akidah. Hanya dengan itu, sebuah keluarga akan bertahan hingga tapal batas horizon.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved