Opini

Mengikis Keserakahan

KESERAKAHAN merupakan sebuah patologis sosial. Keberadaannya sangat berbahaya dalam kehidupan sosial manusia

Mengikis Keserakahan
Ribuan santri dari berbagai dayah di seluruh Aceh berkumpul di halaman Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. SERAMBI/BUDI FATRIA 

Oleh Adnan

Dunia ini cukup untuk memenuhi kebutuhan manusia. Tapi tidak cukup untuk memenuhi keserakahan manusia. (Mahatma Gandhi)

KESERAKAHAN merupakan sebuah patologis sosial. Keberadaannya sangat berbahaya dalam kehidupan sosial manusia. Keserakahan wujud konkret dari melekatnya karakteristik setani (khuthuwat asy-syaithan) dan hewani (bahimiyah) pada diri seseorang. Ia merupakan puncak dari segala bencana yang terjadi dalam kehidupan manusia, baik berupa bencana alam yang ditimpakan Tuhan maupun bencana sosial berupa konflik horizontal antarsesama manusia. Dari keserakahanlah munculnya kezaliman dan ketidakadilan, kemunafikan dan kepura-puraan, egoisme dan primordialisme, korupsi kolusi dan nepotisme (KKN), serta penegakan hukum tebang pilih. Maka keserakahan harus dikikis dalam kehidupan manusia agar terwujudnya keadilan (al-‘adl), keamanan, kebahagiaan (sakinah), dan kepuasan (qana’ah) dalam kehidupan sosial.

Lebih lanjut, serakah (tamak, loba, rakus) diartikan sebagai suatu sifat yang tidak pernah merasa cukup dan tidak puas terhadap kondisi yang sedang dialami saat ini, baik aspek ekonomi, pangkat dan jabatan, status sosial, maupun karir. Sehingga tidak lagi mempertimbangkan baik dan buruk, halal dan haram, serta hal-hal yang meragukan (syubhat) dalam mencapai sesuatu. Pun, orientasi hidup hanya untuk kepentingan materialis, pragmatis dan hedonis, hingga lupa kepada Allah Swt, sebagaimana firman-Nya, “Yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung. Ia mengira bahwa hartanya itu dapat mengkekalkannya. Sekali-kali tidak! Sesungguhnya ia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah.” (QS. Al-Humazah: 2-4).

Padahal, sebanyak apapun harta yang dicari dan ditumpuk tidak akan dapat mengekalkan seseorang di dunia. Harta dan kemegahan hanyalah perhiasan (az-zinah) dunia yang diciptakan Allah Swt sebagai instrumen dalam mengabdikan diri kepada-Nya. Sebagaimana firman-Nya, “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu. Sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui akibat perbuatanmu itu. Dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin.” (QS. At-Takasur: 1-5). Ini petunjuk bahwa keserakahan merupakan perilaku yang sia-sia tanpa makna. Sebab, hidup di dunia hanyalah sementara, permainan (la’ibun), dan senda gurau (lahwun) semata (QS. Al-An’am: 32). Kehidupan akhiratlah yang kekal abadi (QS. Al-A’la: 17).

Bahaya serakah
Selain itu, keserakahan sangat berbahaya bagi seseorang, di antaranya: Pertama, meningkatnya stres. Keserakahan akan meningkatkan stres disebabkan tidak mampu mewujudkan segala keinginan. Sebab menjalani hidup dengan penuh ambisius akan menjadi beban psikologis. Tidak semua yang diinginkan akan diperoleh. Bahkan, jikapun diperoleh segala yang diinginkan, tidak akan memperoleh kepuasan.

Sabda profetik dalam hadis Qudsi: “Sesungguhnya Allah berfirman: sesungguhnya Kami telah menurunkan harta itu untuk mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Apabila anak Adam telah memiliki satu lembah dari emas, niscaya ia akan menginginkan lembah emas yang kedua. Dan apabila anak Adam telah memiliki lembah emas yang kedua, niscaya anak Adam itu akan mengharapkan lembah emas yang ketiga. Dan tidak akan memenuhi perut anak Adam kecuali tanah. Allah menerima taubat orang-orang yang bertaubat.” (HR. Ahmad dan Baihaqi).

Sebab itu, diperlukan sikap merasa cukup dan puas atas apa yang telah dianugerahkan Allah Swt (qana’ah). Seseorang yang memiliki sikap qana’ah tidak akan ambisius dalam menjalani kehidupan dunia. Karena ia sadar bahwa dunia hanya medium untuk menghambakan diri kepada Allah Swt, sebagaimana firman-Nya, “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5). Maka seseorang yang memiliki sikap qana’ah dianggap beruntung dalam agama. Sesuai sabda profetik, “Sungguh beruntung orang yang diberi petunjuk dalam Islam, diberi rizki yang cukup, dan qana’ah (merasa cukup) dengan rizki tersebut.” (HR. Ibnu Majah).

Lebih lanjut, seseorang yang memiliki sikap qana’ah akan bersyukur atas segala nikmat yang telah dianugerahkan Allah Swt kepada-Nya. Sebagaimana sabda profetik: “Lihatlah pada orang yang berada di bawah kalian dan janganlah perhatikan orang yang berada di atas kalian. Lebih pantas engkau berakhlak seperti itu sehingga engkau tidak meremahkan nikmat yang telah Allah anugerahkan padamu.” (HR. Ibnu Majah). Sebab itu, kebahagiaan dan ketenangan hanya dimiliki oleh orang-orang yang qana’ah dalam menjalani kehidupan. Sedangkan orang-orang serakah akan meningkatkan stres, frustrasi, depresi, dan gangguan psikologis disebabkan ambisius dalam menjalani kehidupan. Sebanyak apapun harta dan kemegahan yang diperoleh tidak akan mampu memberikan kebahagiaan dan ketenangan, tanpa sikap qana’ah.

Kedua, sedih jika kehilangan. Suatu Jibril as datang kepada Rasulullah saw dan menyatakan, “Hai Muhammad! Hiduplah sesukamu, tapi kamu akan mati. Lakukanlah sesuatu sesukamu, tapi engkau akan mendapatkan balasan. Dan, cintailah sesuatu sesukamu, tapi engkau akan berpisah dengannya.” Nasihat Jibril as ini merupakan petunjuk jelas (sharih) bahwa apapun yang dimiliki dan disandang di dunia akan hilang dan sirna. Maka orang-orang serakah akan bersedih tatkala harta dan status sosial yang disandang hilang dan sirna.

Allah Swt berfirman, “Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Hud: 15-16).

Ketiga, perilaku hina. Keserakahan merupakan perilaku hina dalam agama. keberadaannya bukan hanya dibenci penduduk bumi, tapi juga dibenci penduduk langit. Artinya, keserakahan bukan saja hina dihadapan manusia tapi juga hina dihadapan Allah Swt. Sebab itu, profetik berpesan, “Dua serigala yang lapar yang dilepas di tengah kumpulan kambing, tidak lebih merusak dibandingkan dengan sifat tamak manusia terhadap harta dan kedudukan yang sangat merusak agamanya.” (HR. At-Tirmidzi dan Ahmad). Ini petunjuk bahwa serakah adalah perilaku hina dalam agama. Hanya serakah dalam menuntut ilmu yang dibenarkan dalam agama (HR. Thabrani). Sebab itu, jika menginginkan kemuliaan dihadapan manusia dan Allah Swt jauhilah perilaku hina ini.

Kaya hati
Sebab itu, kaya yang diharapkan dalam agama bukanlah kaya harta, tapi kaya hati. Kaya hati dianggap sebagai kekayaan tertinggi dalam agama. Bahkan, Imam Al-Jauziyah (Ridwan, 2018: 410) mengungkapkan bahwa kaya hati merupakan titik akhir perjalanan. Sebagaimana terungkap dalam sebuah hadis qudsi, “Wahai manusia, carilah Aku, engkau akan menemukan-Ku, jika engkau menemukan-Ku, kau akan menemukan segala sesuatu. Jika tidak, engkau tidak akan menemukan apapun. Aku cinta padamu melebihi yang lain-lain.” Sebab itu, puncak kekayaan adalah kaya hati yakni mempersembahkan segalanya kepada Allah Swt sebagaimana firman-Nya, “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariat: 56). Semoga!

* Adnan, S.Kom.I., M.Pd.I., Dosen Bimbingan Konseling Islam, Sekretaris Prodi S2 KPI Pascasarjana IAIN Lhokseumawe, Aceh. Email: adnanyahya50@yahoo.co.id

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved