Salam

Jangan Bosan Memberantas Narkoba di Kalangan Siswa

Ibu Negara, Iriana Joko Widodo dan istri Wakil Presiden, Mufidah Jusuf Kalla disambut meriah dan akrab di Banda Aceh, Kamis (31/1)

Jangan Bosan Memberantas  Narkoba di Kalangan Siswa
SERAMBI/BUDI FATRIA
IBU Negara, Iriana Joko Widodo bersama Istri Wakil Presiden, Mufidah Jusuf Kalla, Istri Plt Gubernur Aceh, Dyah Erti Idawati, dan rombongan melihat murid PAUD Permata Hati menanam sayuran saat berkunjung ke lembaga pendidikan tersebut, di kawasan Kuta Alam, Banda Aceh, Kamis (31/1). 

Ibu Negara, Iriana Joko Widodo dan istri Wakil Presiden, Mufidah Jusuf Kalla disambut meriah dan akrab di Banda Aceh, Kamis (31/1). Kedatangan istri orang nomor satu dan nomor dua di Indonesia itu dalam rangka menghadiri sejumlah agenda, seperti peninjauan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Permata Hati, Puskesmas Meuraxa, acara sosialisasi antinarkoba, serta sejumlah kegiatan lainnya.

Saat menghadiri acara sosialisasi antinarkoba kepada seribuan siswa dan pelajar se-Kota Banda Aceh yang digelar Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Aceh, Iriana dan Mufidah disambut gempita oleh seribuan siswa dalam acara yang berlangsung meriah hingga selesai.

Di situ, Iriana dan Mufidah serta beberapa anggota Oase Kabinet Kerja berbicara tentang bahaya narkoba. Iriana yang Duta Antinarkoba ini mengajak para siswa-siswi untuk memerangi narkoba.

Ya, yang ingin kita katakan ada dua hal. Pertama lingkungan pelajar di Aceh, termasuk SMP, sudah menjadi sasaran empuk para penjual narkoba, terutama sabu dan ekstasi. Kedua, para pedagang narkoba sudah lama berhasil memasarkan dagangannya ke kalangan pelajar di Aceh. Pemerintah dan masyarakat sudah merasakan dampak buruk dari penggunaan narkoba oleh para belia di Aceh. Di antara pangaruh buruk narkoba adalah meningkatnya angka kriminalitas yang melibatkan kaum remaja sebagai pelaku atau korbannya. Dan, pemerintah bersama orang tua di daerah ini sudah lama cemas atas fenomena yang mengerikan itu. Sebab, berbagai upaya pencegahan dan pemberantasan yang dilakukan, terutama oleh BNN dan Polri, kelihatan belum cukup efektif. Makanya, dibutuhkan peran banyak pihak untuk memberantas narkoba, bukan hanya di kalangan pelajar, tapi seluruhnya.

Kalangan pemerhati yang mengutip berbagai referensi mengatakan, masa remaja adalah masa paling rentan dan memiliki risiko penyalahgunaan narkoba paling tinggi. Ketika anak memasuki usia remaja, mereka akan menghadapi tantangan sosial dan situasi akademik yang baru. Sering kali pada masa ini mereka ingin coba-coba, seperti mencoba untuk merokok dan minum alkohol untuk pertama kalinya. Ketika memasuki SMA, remaja memiliki rasa ingin tahu yang lebih besar. Salah satunya adalah rasa penasaran untuk mencoba narkoba, yang beredar di kalangan remaja dan cukup mudah didapat bila ia bergaul dengan orang-orang yang salah.

Apa alasan remaja menggunakan narkoba? Alasan remaja menggunakan narkoba bisa beragam. Ada yang menggunakannya untuk merasakan pengalaman yang sama dengan teman-temannya, ada yang menggunakan steroid untuk meningkatkan penampilan atau kekuatan atletiknya, ada juga yang menggunakan ekstasi untuk menghilangkan rasa cemasnya dalam situasi sosial tertentu.

Yang jelas, penggunaan narkoba pada usia remaja dapat mengganggu fungsi otak. Akibatnya, seseorang akan kehilangan motivasi, mengalami gangguan ingatan, kesulitan dalam belajar, mengambil keputusan, dan mengendalikan kebiasaan. Wajar bila kita melihat remaja yang menggunakan narkoba dan alkohol memiliki nilai yang jelek di sekolah, memiliki masalah kesehatan (termasuk gangguan mental), bahkan terlibat dalam tindak kriminal. Nah, maka mari awasi anak-anak agar jangan sampai terjerumus ke “lembah hitam” itu.

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved