Citizen Reporter

Nasionalisme Warga Aceh Diuji di Kuala Lumpur

MEROKETNYA harga tiket pesawat domestik di Indonesia menyebabkan warga mencari alternatif tiket murah

Nasionalisme Warga Aceh  Diuji di Kuala Lumpur
HASAN BASRI M NUR

HASAN BASRI M NUR, warga Aceh, sedang kuliah di UUM Malaysia, melaporkan dari Kuala Lumpur

MEROKETNYA harga tiket pesawat domestik di Indonesia menyebabkan warga mencari alternatif tiket murah. Tiket Banda Aceh-Jakarta yang biasanya dapat diperoleh antara Rp 800.000-Rp 1,5 juta melonjak hingga Rp 2 juta-Rp 3,2 juta. Keadaan ini menyebabkan banyak warga Aceh yang memilih pergi ke ibu kota negaranya, Jakarta, melalui ibu kota negara tetangga, yakni Kuala Lumpur, dan membawa paspor.

Secara tidak langsung, kondisi ini dapat melunturkan nasionalisme Indonesia, apalagi Aceh merasa pernah dikhianati oleh Jakarta. Ucapan “terima kasih Malaysia”, “terima kasih Air Asia” yang menawarkan tiket murah untuk warga Indonesia berseliweran di dunia maya.

Aksi massif warga Aceh yang berkampanye tiket murah ke Jakarta via Kuala Lumpur Internasional Airport (KLIA) sempat viral di media sosial pada akhir 2018 hingga 2019. Hasilnya, warga Aceh berbondong-bondong membuat paspor agar dapat pergi ke Jakarta dengan harga wajar. Mereka berkampanye bahwa pergi ke Jakarta dengan rute lebih jauh via Kuala Lumpur dan menggunakan maskapai asing jauh lebih murah, bisa hemat hingga 65 persen.

Dedi, pemuda asal Pidie, memilih pergi ke Semarang melalui Bandara KLIA. “Lewat Kuala Lumpur kita bisa berhemat lebih 1 juta rupiah, Bang. Bagi saya uang sebesar itu sangat berharga,” kata Dedi saat turun dari Air Asia di KLIA, Minggu (20/1/2019).

Sementara itu, Khairuddin M Noor, pengusaha asal Kampung Aree, Pidie, di Jakarta kini memilih pergi ke Kuala Lumpur untuk mengadakan meeting dengan mitra bisnisya dari Aceh dan Medan. Hal ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.

“Sebelumnya pada awal tahun saya selalu pergi ke Medan atau Banda Aceh untuk koordinasi bisnis dengan mitra. Tapi sejak tiket melambung, saya cenderung mengadakan meeting di KL dan mengundang mitra ke sini. Kan bisa sambil jalan-jalan bersama keluarga,” ujar Khairuddin, Minggu (20/1), saat ditemui di sebuah kafe di Kuala Lumpur.

Protes dan perlawanan ala generasi milenial Aceh ini kemudian mendorong maskapai Indonesia menurunkan tarif tiket sehingga tidak terlalu mencekik leher lagi. Kabarnya, harga tiket turun hingga 60 persen. Tapi sepertinya sebelumnya telah dinaikkan hingga 150 persen. Duh, tampaknya terasa ada penipuan gaya Abu Nawas nih.

Meski harga tiket ke Jakarta sudah “diturunkan” tetapi masih banyak warga Aceh yang pergi ke Jakarta atau kota-kota lain di Indonesia melalui Kuala Lumpur. Sepertinya mereka sudah jatuh cinta pada negara tetangga yang serumpun, memiliki kesamaan budaya, agama, dan histori yang dapat menjadi pilar perekat nasionalisme.

Fenomena pergi ke Jakarta dengan membawa passport adalah ujian nasionalisme bagi Aceh. Nasionalisme adalah penyangga utama sebuah bangsa yang kemudian lahir patriotisme. Kalau semangat nasionalisme pada negerinya sudah memudar maka negeri itu dalam bahaya. Ia bisa menjadi pintu bagi kemunculan gejolak separatisme atau intervensi asing. Makanya, fenomena ini sebenarnya tidak boleh dianggap sepele dan diabaikan.

Ada dua solusi untuk memulihkan hati orang Aceh yang lagi “sakit”. Pertama, pemerintah harus mendesak maskapai untuk menurunkan harga tiket ke harga sediakala sehingga tidak berbeda jauh dengan harga via KLIA. Kedua, pemerintah dapat menawarkan kepada maskapai asing, terutama Air Asia, untuk membuka rute khusus Banda Aceh-Jakarta tanpa transit, atau transit tapi penumpang tujuan Jakarta tak perlu turun sehingga tak perlu membawa paspor. Semoga.

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved