Salam

Debt Collector Andalkan Kekerasan Harus Dibasmi

Harian Serambi Indonesia kemarin memberitakan tentang empat penagih utang (debt collector) yang dalam menjalankan tugasnya

Debt Collector Andalkan Kekerasan Harus Dibasmi
FOTO/RAHMAD
APARAT Polres Lhokseumawe menghadirkan barang bukti senjata milik pelaku kejahatan di Mapolres setempat, Jumat (1/2) 

Harian Serambi Indonesia kemarin memberitakan tentang empat penagih utang (debt collector) yang dalam menjalankan tugasnya justru membawa senjata api (senpi). Tak lain tak bukan, senpi itu mereka bawa untuk menggertak atau menakut-nakuti si terutang (debitur).

Misi yang diemban debt collector itu adalah menagih utang Rp 11 juta pada seorang warga Nisam, Aceh Utara. Awalnya mereka empat orang, naik mobil sewaan, Xenia BK 1236 QW. Saat melintas untuk kedua kalinya di Gampong Ujong Pacu, Kecamatan Muara Satu, Kota Lhokseumawe, Jumat (1/2/2019) menjelang pukul 02.00 WIB mobil mereka distop warga yang sedang ronda malam, karena curiga. Dua orang langsung lari, dua lagi bertahan di mobil.

Mereka yang bertahan di mobil itu belakangan diketahui identitasnya masing-masing berinisial Sy (30), warga Gampong Keutapang, Kecamatan Krueng Sabee, Aceh Jaya dan MU (26), warga Gampong Meunasah Krueng, Kecamatan Nisam, Aceh Utara.

Pada malam kejadian, warga langsung menahan kedua pria yang tertinggal di dalam mobil itu, lalu melapor ke polisi, terutama karena di dalam mobil mereka ditemukan senjata rakitan laras panjang dan sebelas butir peluru aktif AK-47. Ditemukan juga pistol airsoft-gun jenis FN, mancis berbentuk pistol jenis FN, dan sebuah sebo, dua kaus hitam, dan sepasang sepatu PDL standar TNI.

Dari sederet atribut yang berhasil disita petugas itu mudah terbaca bahwa para penagih utang itu sengaja mengesankan diri mereka sebagai aparat keamanan. Apalagi mereka mengantongi surat kuasa penagihan utang. Seolah apa yang mereka lakukan benar-benar legal. Karena merasa legal, maka tindakan yang mereka lakukan pun seolah sah-sah saja, seolah lumrah, dan seakan tak ada yang salah.

Padahal, jangankan debt collector, aparat kepolisian atau tentara pun tak boleh menagih utang dengan mengedepankan cara-cara kekerasan. Apalagi sampai bawa senjata api dan peluru aktif segala. Oleh karenanya, Kapolres Lhokseumawe seharusnya menindak tegas kedua tersangka pelaku tindak kekerasan itu meski belum sempat mengasari korbannya. Tapi maksud mereka sudah jelas, yakni ingin menagih utang pakai senjata api dan airsoft-gun.

Penindakan bahkan bisa diperluas lingkup deliknya, mengingat para tersangka juga merakit sendiri senjatanya untuk menakut-nakuti calon korbannya. Ini kejahatan tersendiri yang ancaman hukumannya berdasarkan Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951, justru lebih tinggi. Tangkap dan hukum berat juga si pembuat surat kuasa yang gara-gara suruhannya empat orang melakukan perbuatan melawan hukum. Ungkap juga, utang itu sebetulnya utang apa? Jangan-jangan utang sabu-sabu sehingga gaya tagihnya memakai gaya gengster. Kejahatan seperti ini harus dibasmi dari bumi Aceh agar tak terulang.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved