Opini

Membenahi Politik Kamuflase

DALAM ajaran Islam, manusia secara global diklasifikasikan kepada tiga golongan; orang bertakwa, orang ingkar

Membenahi Politik Kamuflase
Tgk. H. Nuruzzahri (Waled Samalanga)

Oleh Nuruzzahri (Waled Samalanga)

DALAM ajaran Islam, manusia secara global diklasifikasikan kepada tiga golongan; orang bertakwa, orang ingkar, dan orang munafik. Ketiga kelompok tersebut secara detail disebutkan bentuk dan sifat mereka di awal surat Al-Baqarah.

Orang bertakwa yang menerima ajaran yang dibawakan Nabi Muhammad saw sepenuh hati, mengaplikasikan ajaran Islam dalam keadaaan sembunyi dan terang-terangan. Orang ingkar yang memusuhi risalah Muhammad saw secara terang-terangan, psike dan fisik mereka menolak ajaran yang dibawanya. Sementara orang munafik adalah manusia yang abu-abu dalam menerima risalah Islam, dimana sikap mereka berkontradiksi saat berada di depan dan di belakang Nabi saw.

Tentang kaum munafik ini lebih panjang diuraikan dari pada dua golongan di atas. Alquran menjelaskan ciri mereka agar tidak terjerumus ke dalam kejatahan yang mereka rencanakan. Dalam hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda, “tiga sifat orang munafik, yaitu: jika berbicara berdusta, jika berjanji mengingkari, dan jika diberi amanah dikhianati.” Sifat-sifat dimaksud tidak mudah diketahui dan disadari oleh orang lain, karena golongan ketiga itu memiliki perawakan yang mengkisema banyak orang. Mengenai hal ini, Allah Swt berfirman. “Dan apabila engkau melihat mereka, tubuh mereka mengagumkanmu.” (QS. Al-Munafiqun: 4).

Golongan ketiga ini rentan ditemukan dalam setiap masa dan keadaan. Dalam dunia politik masih banyak ditemukan orang-orang yang masih memakai pakaian kelompok ketiga tersebut. Di mana identitasnya samar-samar, tidak diketahui dengan mudah oleh banyak orang. Mereka berambisi menjadi wakil rakyat atau kepala pemerintahan dengan mengumbar janji pro-rakyat, membela agama Allah Swt, walaupun kadang-kadang rekam jejaknya sudah tercium sama sekali tidak sehaluan dengan visi misinya.

Di sisi lain, masih didapatkan calon wakil rakyat atau calon pemimpin rakyat yang memainkan politik bunglon, berubah-ubah warna tergantung di mana ia bersandar dan kepentingan. Keadaan seperti ini membuat masyarakat dilema, akhirnya selalu terporosok dalam kebodohan dan kerugian yang berulang-ulang setiap pesta demokrasi tiba.

Fastabiqul Khairat
Satu keistimewaan ajaran Islam apapun yang dilakukan penganutnya bernilai ibadah jika dilakukan dengan penuh keihklasan dan tidak menganggu kehidupan orang lain. Membantu agama Islam sebuah kewajiban. Namun jalan yang ditempuh untuk menolong agama Allah Swt sangat beragam. Oleh karena itu, tugas menyuarakan syiar agama tidak hanya menjadi tugas alim ulama atau intelektual Islam, tapi menjadi tanggungjawab bersama masyarakat Islam sesuai dengan kapasitas dan peran mereka dalam kehidupan.

Para politikus memangku kekuaasaan strategis dalam hal ini. Mereka memiliki kekuasaan penuh dalam memberlakukan serta menjalankan sebuah kebijakan yang menguntungkan agama di saat peraturan itu hanya mereka yang berwewenang; melalui instruksi (eksekutif) atau tanda tangan (legislatif). Apabila dilakukan atas keihklasan penggilan jiwa, maka ia sungguh telah melakukan satu hal besar dalam menghidupkan agama Allah Swt yang sulit dilakukan rakyat biasa.

Oleh karena itu, jalan yang ditempuh menyabet jabatan dimaksud harus sesuai dengan cara-cara Islam. Islam mengutuk pembohong dan mengecam pengusik kehidupan orang lain. Maka rencana berpolitik membantu masyarakat dan agama harus sesuai dengan ketentuan tersebut. Karena mustahil seorang politikus merealisasikan janji politik pro-rakyat dan pro-Islam jika jalan yang ditempuh meraih jabatan tidak merakyat dan tidak bersyariah.

Konsep perlombaan dalam syariat didirikan atas dua fondasi utama, bekerja dan menyerah hasilnya pada Allah Swt. Konsep ini diaplikasikan dalam politik dengan menganjurkan setiap caleg bekerja keras sesuai dengan kapasitasnya masing-masing, dengan menonjolkan visi misi inovatif, kreatif, dan mencerdaskan.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved