Dosen UIN Dr Husni Mubarrak Ikut Konferensi Internasional Syuruth Nahdhah di Qatar

Husni Mubarak terpilih untuk menyampaikan paper dalam konferensi ini setelah ia dinyatakan lulus seleksi Call for Paper sejak September 2018.

Dosen UIN Dr Husni Mubarrak Ikut Konferensi Internasional Syuruth Nahdhah di Qatar
For Serambinews.com
Dr. Husni Mubarrak A. Latief Lc MA, Dosen UIN Ar-Raniry menerima cenderamata usai menjadi pembicara pada Konferensi Internasional Syuruth Nahdhah (Syarat Kebangkitan) yang berlangsung di Doha Qatar, 2-4 Februari 2019. 

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar Raniry Banda Aceh, Dr. Husni Mubarrak A. Latief Lc MA, bergandeng dengan pemikir Islam kelas dunia dalam konferensi internasional Syuruth Nahdhah (Syarat Kebangkitan) yang berlangsung di Doha Qatar, 2-4  Februari 2019.

Kabar tersebut disampaikan Dosen UIN Ar-Raniry, Teuku Zulkhairi kepada Serambinews.com, Kamis (7/2/2019).

Zulkhairi mengatakan, Husni Mubarak via pesan Whatsapp dari Qatar mengatakan, konferensi internasional ini diselenggarakan oleh Center of Islamic Studies (CIS)/Pusat Studi Islam Hamad Bin Khalifah University (HBKU).

Ini merupakan rangkaian peringatan 70 tahun karya Malik bin Nabi (1905-1973), seorang pemikir Muslim Aljazair yang berjudul Syuruth Nahdhah (Syarat Kebangkitan) serta upaya untuk merajut kembali kegemilangan peradaban Islam.

Konferensi ini menghadirkan keynote speaker kelas dunia seperti Dato Seri Anwar Ibrahim (Mantan Timbalan PM) dari Malaysia, Dr. Ahmet Davutoglu (mantan PM) dari Turki dan Dr. Rashed Gannouchi yang merupakan pimpinan Partai Islam An-Nahdhah di  Tunisia.

“Ketiga orang ini berdasar keterangan panitia dianggap sebagai representasi keberhasilan menerjemahkan pemikiran Malik bin Nabi dalam tataran praktis,” ujar Husni Mubarak yang juga Ketua Gerakan Arah Baru Indonesia (Garbi) Lhokseumawe ini.

Baca: Berhenti Terima Bantuan dari Qatar, Hamas Ajak Para Pendukungnya Sumbang Dana dalam Bentuk Bitcoin

Baca: Staf Ahli Haji Uma Minta Pemerintah Aceh Alokasikan Anggaran Maksimal untuk Advokasi TKI Aceh

Husni Mubarak juga menjelaskan, alasan ia terpilih untuk menyampaikan paper dalam konferensi ini setelah ia dinyatakan lulus seleksi Call for Paper sejak September 2018.

Konferensi ini, kata Husni, akhirnya memilih 30 makalah terpilih (bahasa Arab dan Inggris) untuk dipresentasikan membahas tentang kontribusi pemikiran Malik bin Nabi bagi kebangkitan peradaban Islam dari berbagai negara: Aljazair, Tunisia, Maroko, Mesir, Turki, Sudan, India, Amerika, Malaysia dan Indonesia.

“Paper saya dalam bahasa Arab mengkaji tentang pemikiran Malik bin Nabi bahwa peradaban itu mengalami siklus sejarah, sesuai teori Ibnu Khaldun (historical cycle) mulai dari tumbuh, berkembang hingga mengalami degradasi,” jelasnya.

Baca: Abdel Khaleq dan Abdel Karim, Bayi Berkepala Dua di Yaman yang Menanti Diselamatkan

Namun, tambah Husni, peradaban itu bisa tumbuh kembali, dalam keyakinan Bin Nabi, dengan tetap menjadikan "religious ideas" (al fikrah al diniyyah)/pemikiran keagaaman sebagai katalis (perekat) segala unsur pembentuk peradaban, yaitu: manusia, tanah, dan waktu.

Konferensi ini, lanjut Husni, selain menghadirkan tiga puluh pemakalah,  juga dihadiri oleh putri bungsu Malik bin Nabi, Dr. Rahmah bin Nabi yang sekarang bermukim di Amerika sebagai penulis lepas (freelance).

Selain itu, juga dihadiri langsung Amir Qatar Tamim bin Hamad bin Jasem bersama beberapa Duta Besar negara Arab lainnya pada acara pembukaan.(*)

Baca: Indahnya Masjid Haji Keuchik Leumiek di Tepi Krueng Aceh

Penulis: Zainal Arifin M Nur
Editor: Zaenal
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved