Opini

Kitab Kuning ‘Masuk Kampus’

DUNIA kampus sejatinya terbuka dengan berbagai wacana dan referensi pengetahuan

Kitab Kuning ‘Masuk Kampus’
Suasana ketika Wakil Bupati Abdya, Muslizar MT membuka Lomba Qiraatul Kutub atau lomba baca kitab kuning di pendopo wabup setempat 

Oleh Teuku Zulkhairi

DUNIA kampus sejatinya terbuka dengan berbagai wacana dan referensi pengetahuan. Maka ketika beberapa waktu lalu, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, Prof Dr Warul Walidin MA me-launching kegiatan Seumeubeut ulama kharismatik Aceh, di Pascasarajana, penulis menangkap ini sebagai bagian dari upaya UIN dalam mengemban tanggung jawab sejarah.

Tgk H Nuruzzahri (Waled Nu) yang bertindak sebagai narasumber dan membaca kitab Al-Ma’alli, saat itu menjelaskan banyak hal bagaimana kitab kuning selama ini dipelajari dan diajarkan di institusi pendidikan dayah. Waled Nu menjelaskan bagaimana sebuah kalimat Bismillah dapat dipelajari berhari-hari dan berbulan-bulan oleh para santri.

Setiap baris dari isi kitab-kitab yang menjadi referensi pembelajaran di institusi pendidikan dayah itu dipelajari sampai tuntas. Sesungguhnya, model pembelajaran semacam ini memiliki keunggulan, karena pendalaman yang menyeluruh atas setiap baris-baris kitab kuning klasik (turast).

Hal itu, misalnya, ketika membaca sebuah kalimat dalam kitab kuning, pemahaman yang komprehensif pun akan didapat oleh pelajarnya mulai dari uslub sebuah kalimat yang digunakan pengarang, pemahaman atas baris-baris isi kitab, kenapa baris atas (fatah), baris bawah (kasrah) dan baris depan (dhammah) yang berimplikasi pada tujuan memperoleh pemahaman yang utuh sebagaimana dimaksudkan oleh sang pengarang kitab.

Maka untuk dapat mempelajari dan menguasai kitab kuning secara mendalam, dibutuhkan penguasaan yang cukup atas ilmu alat lainnya, seperti pemahaman atas kosakata (mufradat) bahasa Arab, penguasaan atas gramatikal bahasa Arab (ilmu nahwu, sharaf) dan ilmu-ilmu yang lain yang juga dipelajari secara khusus. Intinya, mengkaji kitab kuning secara mendalam niscaya membutuhkan ragam keilmuan pendukung. Ini menandakan bahwa kajian kitab memang membutuhkan keseriusan dan kesungguhan, serta waktu yang lama.

Keterbatasan waktu
Pembelajaran dengan model seperti ini memang tidak mungkin seluruhnya dapat dibawa secara menyeluruh ke model pendidikan kampus. Hal ini dengan alasan keterbatasan waktu dan sebab-sebab yang lain. Sistem pembelajaran yang sudah berlaku secara baku di kampus dewasa ini, misalnya, di mana mahasiswa diberikan tugas untuk membuat makalah terkait tema-tema yang sudah ditetapkan dalam silabus.

Para pengajar akan mengarahkan mahasiswanya untuk merujuk ke sejumlah referensi untuk dikaji oleh mahasiswa dan kemudian dipresentasikan. Keunggulan pembelajaran dengan model seperti ini, mahasiswa akan membaca banyak referensi untuk dapat mengupas sebuah permasalahan atau materi-materi yang telah ditetapkan. Kekurangannya, tidak ada kajian yang mendalam terhadap isi kitab atau materi-materi. Dunia perguruan tinggi Islam di Indonesia umumnya memang tidak mengkaji kitab-kitab tertentu secara khusus. Kajian kitab umumnya bersifat parsial. Yang dikaji hanya masalah tertentu yang terkait dengan tema yang dibahas. Ini berbeda dengan sistem pendidikan di dayah dimana semua persoalan (isi kitab kuning) dibedah dari hulu ke hilir. Dari A sampai Z. Tapi kekurangannya, ini membutuhkan waktu yang sangat lama sehingga pelajar yang tidak belajar dalam waktu yang lama maka tidak akan dapat memahami banyak persoalan yang seharusnya dia pahami sebagai muslim.

Intinya, model pembelajaran yang diterapkan institusi dayah dan kampus memiliki keunggulan dan kekurangan masing-masing. Oleh sebab itu, munculnya gagasan untuk mengintegrasikan keunggulan model-model pembelajaran ini adalah hal yang patut diapresiasi. Dunia pendidikan dayah sendiri, dewasa ini kian terbuka mengadopsi model pembelajaran yang menjadi trademark-nya dunia kampus. Misalnya dengan hadirnya sejumlah sekolah tinggi dan Ma’had ‘Aly di lingkungan dayah yang tentu saja dibarengi dengan asimilasi model pembelajaran kampus ke dayah.

Selain itu, sejak dua dekade terakhir, semakin banyak santri dayah yang menempuh pendidikan lanjutan ke perguruan tinggi Islam. Oleh sebab itu, sekali lagi, gagasan seumeubeut kitab kuning oleh ulama kharismatik di UIN Ar-Raniry adalah hal yang patut diapresiasi. Setidaknya, ini dapat menjadi wahana pendekatan model pembelajaran khas dayah ke dunia kampus.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved