Mihrab

Indahnya Masjid KL di Tepi Krueng Aceh

Berdiri megah di sisi sungai atau Krueng Aceh, di Gampong Lamseupeung, Kecamatan Lueng Bata

Indahnya Masjid KL di Tepi Krueng Aceh
FOTO: H KAMARUZZAMAN (MEMET)

BANDA ACEH - Berdiri megah di sisi sungai atau Krueng Aceh, di Gampong Lamseupeung, Kecamatan Lueng Bata, masjid bergaya Timur Tengah ini telah menarik perhatian warga Banda Aceh sejak beberapa bulan belakangan. Pada malam hari, cahaya keindahan rumah ibadah yang diberi nama ‘Masjid Haji Keuchik Leumiek (HKL)’ ini bisa terlihat jelas dari arah jembatan Beurawe-Simpang Surabaya.

Pantulan sinar lampu dan bayangan bangunan masjid terlihat samar-samar di aliran air sungai yang membelah Kota Banda Aceh. Menara dan sebagian kubah masjid ini juga menarik perhatian pengguna jalan yang melintas di atas fly over Simpang Surabaya. Pada Senin (28/2), masjid yang dibangun oleh keluarga Haji Harun Keuchik Leumiek ini telah resmi dibuka untuk umum.

Haji Harun Keuchik Leumiek, yang merupakan seorang wartawan senior dan sejarawan Aceh pada kesempatan itu mengatakan, relief dan gaya masjid ini paduan antara gaya Timur Tengah, bangsa Moor dengan Masjid Cordova, serta sentuhan gaya Masjid Nabawi. Relief dan kaligrafi bernuansa emas menghiasi setiap sudut masjid. “Lampu ini beratnya hampir satu ton,” ujar Haji Harun sambil menujuk ke arah lampu utama yang berada tepat di bawah kubah.

Melengkapi bangunan ibadah utama, sebuah rumah adat Aceh (Rumoh Aceh) berdiri megah di bagian depan masjid. Masjid yang memiliki luas 34 x 22 meter persegi ini berdiri di atas tanah seluas 2.500 meter persegi, di kompleks Balai Pengajian Haji Keuchik Leumiek yang memiliki luas total 3.500 meter.

“Luas lahan sebenarnya adalah 3.500 meter, namun seribu meter lainnya digunakan untuk pembangunan balai dan tempat penampungan anak-anak korban tsunami. Saat ini ada 100 santri yang kita tampung dan kita danai semua kebutuhan hidup harian dan pendidikannya,” ungkap Harun Keuchik Leumiek, seraya menyatakan bahwa masjid ini dibangun oleh keluarga Haji Keuchik Leumik untuk dimanfaatkan oleh seluruh masyarakat.

Peresmian masjid ini dilakukan oleh Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Aceh Nova Iriansyah. Acara yang dirangkai dengan penyerahan santunan kepada anak yatim ini, dihadiri oleh Wali Nanggroe Aceh, Malik Mahmud Al-Haythar, Kakanwil Kemenag Aceh, M Daud Pakeh, Kasdam IM, Brigjen TNI Achmad Daniel Chardin, Wali Kota Banda Aceh, Aminullah Usman, Kapolresta, Kombes Pol Trisno Riyanto SH, serta sejumlah pejabat Aceh lain, dan seribuan masyarakat.

Dalam sambutannya, Nova menyampaikan apresiasi khusus kepada Harun Keuchik Leumiek dan keluarga yang telah membangun masjid yang indah, tepat di sisi sungai Krueng Aceh. Harun Keuchik Leumiek adalah salah satu tokoh Aceh yang dikenal luas sebagai saudagar yang bergerak di bidang logam mulia, di bawah bendera Toko Emas Keuchik Leumiek.

Dalam beberapa kesempatan kepada Serambi, Haji Harun Keuchik Leumiek bercerita bahwa masjid ini sudah lama dia cita-citakan, yaitu semenjak tahun 90-an. Hasrat untuk membangun tempat ibadah ini sempat mengalami beberapa kendala, yaitu akibat krisis moneter pada pertengahan tahun 90-an dan bencana gempa/tsunami Aceh, tahun 2004.

Seperti diketahui, saat gempa bumi dan tsunami terjadi, pusat kota Banda Aceh, tempat toko emas milik Haji Harun berada, hancur berantakan. Namun Allah Maha Perkasa, beberapa tahun setelah peristiwa dahsyat itu, bisnis Haji Harun tumbuh kembali, bahkan berkembang lebih pesat seiring dengan pesatnya pembangunan Aceh yang telah lepas dari konflik bersenjata berusia 30 tahun.

Pada tahun 2016, Haji Harun memulai memantapkan cita-citanya untuk membangun masjid yang telah lama dipendam. Peletakan batu pertama pembangunan masjid ini, dilakukan oleh Imam Besar Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, Prof Dr Azman Ismail MA, bersama Wali Kota Banda Aceh (kala itu) Hj Illiza Saa’duddin Djamal, keuchik dan imam gampong, serta keluarga Haji Keuchik Leumik, pada 10 Juli 2016.

Melalui musyawarah keluarga, disepakati masjid itu diberi nama H Keuchik Leumiek, nama yang ditabalkan dari ayahadanya yang telah menitiskan usaha emas dan souvenir terkenal di Bumi Serambi Mekkah. Semua pembiayaan dalam pembangunan masjid megah nan indah ini berasal dari saku H Harun dan putra-putrinya.(nal)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved