Opini

Keluargaku Surgaku

BERKELUARGA merupakan kodrat (fitrah) manusia. Keberadaannya bukan sekadar tempat pemenuhan kebutuhan

Keluargaku Surgaku
Wikipedia
Ilustrasi pesta pernikahan 

Oleh Adnan

BERKELUARGA merupakan kodrat (fitrah) manusia. Keberadaannya bukan sekadar tempat pemenuhan kebutuhan biologis semata, semisal seks, makan dan minum, serta kesenangan pragmatis. Tapi, berkeluarga juga tempat pemenuhan kebutuhan psikologis, sosiologis, dan agamis. Yakni tempat menginternalisasikan nilai-nilai islami (islamic values), memupuk dan membina rasa cinta dan kasih sayang, melahirkan keturunan (zurriyat) hebat dan mulia, memperkuat status sosial, serta ladang ibadah dan beramal yang berbuah pahala berlipat-ganda. Maka Islam mengatur secara lengkap (syamil) tentang konsepsi berkeluarga, dimulai sejak pencarian jodoh hingga mendidik keturunan. Hal ini dimaksudkan agar fitrah berkeluarga dapat diwujudkan secara manusia dan syar’i.

Lebih lanjut, setiap individu berharap keluarganya utuh sepanjang masa dalam nuansa sakinah mawaddah warahmah (samara). Namun untuk mewujudkan cita-cita ini bukan berarti berjalan mulus tanpa problema. Setiap keluarga pasti menghadapi berbagai problema rumah tangga, baik yang bersifat mikro semisal ego sentris, maupun makro berupa perselingkuhan.

Bahkan, tak jarang problema keluarga yang terus-menerus terjadi tanpa solusi akan berujung di meja pengadilan, berupa perceraian. Padahal di awal pernikahan setiap individu bercita-cita agar dapat membangun keluarga utuh selama-lama. Tapi realitas berkata lain, banyak keluarga di tengah perjalanan berakhir tragis, disebabkan ketidakmampuan dalam mengurai problema keluarga.

Perceraian
Konklusi ini terlihat dari data empiris berupa meningkatnya angka perceraian yang didominasi gugat cerai (fasakh) di Aceh dengan ragam faktor, semisal ekonomi, pertengkaran berkepanjangan, dan selingkuh. Sebagaimana dilansir Serambi (31/1/2019) bahwa angka perceraian (gugat cerai) di beberapa wilayah di Aceh mencapai 65 persen.

Di sisi lain, kasus pembunuhan berencana Jazuli bin Ismail oleh selingkuhan isterinya, Musa atau Adi Pukik, di Aceh Utara beberapa waktu lalu, juga data empiris yang menunjukkan bahwa prahara perselingkuhan dapat merusak ketahanan keluarga (Serambi, 25/1/2019). Tentu data empiris ini sebagai petunjuk adanya kegagalan person keluarga (suami-istri) dalam mengurai problema rumah tangga.

Akibatnya, keluarga yang dirancang sebagai surga dunia (baiti jannati) berubah menjadi neraka dunia (baiti nari). Keluarga bukan lagi tempat memupuk kasih sayang, tapi kemarahan. Bukan lagi tempat membina kepedulian, tapi perselingkuhan. Pun, keluarga bukan lagi tempat menyemai pahala berlipat ganda, tapi dosa dan laknat Allah Swt.

Sebab itu, setiap keluarga harus terampil dalam mencegah (preventif) dan mengentaskan (kuratif) problema keluarga agar tidak meruntuhkan ketahanan keluarga. Apalagi anak merupakan pihak yang paling dirugikan saat rumah tangga diterpa badai perpecahan (broken home). Maka konsepsi “keluargaku surgaku” harus membumi dalam setiap keluarga. Tapi, bukan berarti keluarga yang menganut konsepsi “keluargaku surgaku” bebas problema, namun mereka memiliki kemampuan dalam mengurai problema rumah tangga.

Untuk itu, berikut beberapa langkah yang dapat diterapkan untuk mewujudkan konsepsi “keluargaku surgaku”, di antaranya: Pertama, keterbukaan (transparansi). Keterbukaan penting diterapkan dalam segala aspek kehidupan berumah tangga, semisal keterbukaan penggunaan pendapatan dan belanja rumah tangga, serta mengungkap ketidakpuasan pelayanan lahir dan batin.

Keterbukaan ini harus dipahami oleh setiap person keluarga agar setiap problema segera dapat diatasi (solutif). Sumber utama konflik rumah tangga adalah adanya ketidakterbukaan antarperson keluarga. Sebab itu, problema keluarga bukanlah untuk dipikirkan, tapi untuk dipecahkan secara kolektif dalam keluarga, untuk menghindari konflik.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved