Opini

Mempermudah Nikah, Mempersulit Cerai

PERNIKAHAN adalah dambaan semua insan. Jika bertanya kepada para pemuda; siapa yang ingin menikah

Mempermudah Nikah, Mempersulit Cerai
Surat Gugat Cerai 

Oleh Amiruddin

PERNIKAHAN adalah dambaan semua insan. Jika bertanya kepada para pemuda; siapa yang ingin menikah? Semua bakal tunjuk tangan, ingin menikah. Begitu pula bila ditanya kepada para suami (laki-laki yang sudah beristri); siapa yang ingin menikah? Tentu mereka ingin kawin lagi, walau niatnya itu disembunyikan dari sang istri. Itulah gambaran bahwa menikah menjadi dambaan semua orang. Hanya saja waktu dan kemampuan yang mengekang langkah mereka.

Setelah terucap ijab kabul, pasangan yang baru menikah punya cita-cita untuk membangun rumah tangga seindah mungkin, seharmonis rumah tangga Rasulullah dan sahabatnya. Meraih kebahagian tanpa batas, juga tak ada cekcok semenit pun dalam bahtera rumah tangga.

Ternyata pernikahan tidak selamanya berjalan mulus. Benih-benih yang menjurus pada pergolakan rumah tangga akan muncul dengan beragam alasan dan cara. Bagi pasangan yang tidak mampu menahan badai yang menggoyang akar rumah tangga, tidak mustahil mengambil tindakan serius untuk datang ke meja hijau. Artinya, jalan percerian akan ditempuh.

Meningkat drastis
Sebagaimana diketahui publik, angka perceraian di Aceh terbilang tinggi. Sejak sepuluh tahun terakhir, perceraian di Indonesia meningkat drastis, bahkan tergolong negara yang persentase perceraian tinggi di dunia. Khusus Aceh, data Mahkamah Syariyah Aceh pada tahun 2017 mengungkapkan angka perceraian mencapai 5.399 kasus.

Perkara yang memilukan adalah banyak rumah tangga bubar karena istri yang ingin memutuskan ikatan perkawinan. Masih merujuk data Mahkamah Syar’iyah 2017, dari seluruh kasus perceraian, cerai gugat (istri menggugat suami) lebih dominan, yaitu 3.891 kasus. Sedangkan cerai talak (suami menggugat istri) mencapai 1.508. Khusus data 2018 di Aceh Besar, istri menggugat cerai suami lebih tren ketimbang suami menggugat cerai istri. Miris, memang.

Setiap perceraian didongkrak oleh bermacam faktor, mulai dari persoalan sepele hingga permasalahan fatal. Dari berbagai data konkret, setidaknya ada tiga masalah inti dalam sebuah perceraian. Yaitu kondisi ekonomi tidak stabil, tidak puas batin (ranjang), dan kedatangan “tamu” tak diundang dalam ikatan perkawinan orang lain, yakni pihak ketiga.

Faktor ekonomi dan ranjang memang sudah terjadi sejak zaman Rasulullah saw. Itu sebab ulama mazhab memiliki pendapat tentang kasus goyangnya pondasi keluarga karena ekonomi dan kepuasan batin. Masalah pihak ketiga juga banyak ditemukan dalam literatur Islam. Hanya saja, pada zaman now kasus pihak ketiga mulai datang dengan berbagai versi. Seperti pengaruh media sosial.

Tidak dipungkiri, media sosail hari ini memiliki beragam model unik, serta mampu membuat pengguna kecanduan. Rasanya sedikit sekali orang zaman digital yang tidak berkecimpung dengan media sosial, dengan bermacam tujuan dan cara.

Dian Wisnu, Psikolog Sosial dari Universitas Indonesia (UI) mengungkapkan, ketidakharmonisan rumah tangga biasa dipicu oleh media sosial. Realitanya, media sosial memiliki efek kuat terhadap perceraian di negeri ini. Hal ini terbukti di meja Pak Hakim.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved