Opini

Mempermudah Nikah, Mempersulit Cerai

PERNIKAHAN adalah dambaan semua insan. Jika bertanya kepada para pemuda; siapa yang ingin menikah

Mempermudah Nikah, Mempersulit Cerai
Surat Gugat Cerai 

Pada umumnya, semua orang punya akun media sosial. Tidak terkecuali para remaja, orang dewasa pun banyak yang wara-wiri di jejaring sosial.

Di platform itu, mereka bisa berkomunikasi dengan semua orang, baik dikenal atau tidak. Perlu diwaspadai, tidak semua orang yang mengambil bagian di emdia sosial memiliki niat baik bagi kehidupan orang lain. Bahkan, seorang yang punya rekam jejak baik di alam nyata, justru menjadi “hama” bagi kehidupan rumah tangga orang lain di media sosial. Terkadang ada orang baik yang menjadi dalang hancurnya ikatan pernikahan orang lain, padahal ia sama sekali tidak bermaksud menjadi racun dalam kehidupan rumah tangga pihak lain. Hanya saja kesempatan dan fasilitas canggih yang menarik mereka untuk memerdaya pasangan orang lain.

Perlu mediasi
Semua perkara perceraian akan dihadapkan ke meja mediasi. Di Pengadilan Agama (PA) atau Mahkamah Syar’iyah (MS), mediasi menjadi prinsip dasar lembaga hijau itu. Para pihak yang hadir sesuai jadwal sidang, akan selalu dimediasikan. Tidak boleh ada sidang perceraian sebelum menempuh mediasi, karena mendamaikan pihak bersengketa adalah anjuran agama. Terlebih mendamaikan suami-istri yang ingin bercerai. Maka sangat mulia sang mediator.

Apabila suami-istri bercerai, setan akan tersenyum bahagia, sebab berhasil memperdaya anak Adam untuk berpisah. Dan, Allah Swt sangat benci pada perbuatan cerai, meskipun talak perkara halal.

Tren perceraian di luar negeri, atau di luar Aceh telah mengubah cara pikir wanita Aceh. Seakan, mempertahankan mahligai rumah tangga itu tidak penting. Padahal, kemulian terakhir seorang istri atau suami adalah kemampuan mereka mempertahankan hubungan perkawinan. Bila itu terwujud, maka Allah Swt akan menaikkan derajat mereka, sebab berhasil melakukan ibadah agung, yakni menjaga keberlangsungan rumah tangga.

Pemerintah perlu perhatian serius pada unit keluarga. Dan tidak menyepelekan angka-angka perceraian yang terus melambung. Karena, keberhasilan pemerintah bukan hanya hebat dalam membangun fasilitas umum, dan meningkatkan ekonomi masyarakat. Pemerintah harus berhasil memantapkan pondasi awal bagi mereka yang ingin menikah. Bimbingan calon pengantin (catin) jangan hanya diberikan sebulan sebelum akad nikah, karena mereka menikah bukan untuk dua atau tiga bulan. Tetapi menikah sekali sepanjang hayat.

Maka pembekalan ilmu pernikahan harus ditancapkan sejak dini (bukan berarti sejak TK/SD/SMP). Namun pada tingkatan TK, SD, dan SMP harus membekali diri dengan tauhid, fikih, adab dan taat beragama. Sehingga ketika usia mereka sudah layak mempelajari ilmu perkawinan, sudah memiliki bekal adab. Dengan adab itu, mereka akan tau bagaiamana sepatutnya seorang istri harus hormat pada suami, juga suami hormat istri. Dengan bekal ketaatan, mereka akan tahu, dalam kondisi bagaimana seorang istri harus taat pada suami. Dan mampu memilah antara taat pada Allah atau suami.

Menjaga kemaslahatan unit keluarga bukan semata tanggung jawab pemerintah. Semua elemen masyarakat harus berkontribusi nyata demi kemakmuran bagi keluarga lain. Minimal tidak menjadi pihak ketiga di dunia maya, apalagi dunia nyata.

Tugas unggulan pemerintah dan masyarakat bukan hanya membimbing keluarga menjadi sakinah mawaddah dan rahmah. Tetapi juga membimbing para calon pihak ketiga, agar resmi tidak dinobatkan gelar pihak ketiga dalam rumah tangga orang lain, yang kini kerap disebut sebagai pelakor (pengganggu laki-laki orang) atau pebinor (pengganggu bini orang).

Pihak ketiga itu banyak. Di Indonesia, mereka berdomisili dari Sabang sampai Merauke. Di dunia, mereka ada di belahan bumi matahari terbit hingga matahari terbenam. Semua orang berpotensi menjadi objek pihak ketiga. Jadi, untuk menekan angka perceraian, khususnya di Aceh, juga harus membimbing para calon pihak ketiga ke jalan yang lurus. Nah!

* Amiruddin, S.HI (Abu Teuming), Derektur Lembaga Keluarga Sakinah Mawaddah dan Rahmah (K-Samara), Penyuluh Agama Islam pada Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Krueng Barona Jaya, Aceh Besar, dan pegiat di Forum Aceh Menulis (FAMe). Email: abu.fame17@gmail.com

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved