Pidie Fokus Atasi Kesulitan Membaca

Pemkab Pidie mulai memfokuskan mengatasi kesulitan membaca bagi para pelajar, baik tingkat SD

Pidie Fokus Atasi Kesulitan Membaca
IST
GURU mengajar khusus anak-anak belum bisa membaca di ruang pustaka salah satu sekolah di Pidie 

* Disdik Keluarkan Surat Edaran ke Sekolah

SIGLI - Pemkab Pidie mulai memfokuskan mengatasi kesulitan membaca bagi para pelajar, baik tingkat SD maupun SMP. Hal itu setelah adanya pelajar kelas VI SD dan SMP belum bisa membaca, sehingga Dinas Pendidikan (Disdik) mengeluarkan surat edaran, agar sekolah memberi pelajaran khusus kepada pelajar yang kurang mampu membaca, menulis dan berhitung (calistung).

Kepala Dinas Pendidikan Pidie, H Idhami SSos MSi kepada Serambi, Kamis (7/2) mengatakan pelajar yang kurang mampu dalam calistung harus diberi jam khusus, apalagi dalam menghadapi ujian naik kelas.

Disebutkan, surat dengan No 421/382/2019 tertanggal 6 Februari 2019, tentang membaca, menulis dan menghitung bagi pelajar sudah dikirim ke semua sekolah SD dan SMP di Pidie. Dia meminta para guru, termasuk kepala sekolah memberi pelajaran khusus bagi murid belum bisa membaca, menulis dan menghitung.

“Satu jam pertama untuk murid belum mampu baca, tulis dan menghitung ini dipisahkan dari anak lainnya, lalu diberi pelajaran khusus di ruangan pustaka atau ruangan lain,” ujar Idhami. Dia mengaku, pasca adanya berita murid kelas VI belum bisa baca, dirinya terus bergerilya mendatangi sekolah-sekolah.

“Alhamdulillah, ada sekolah yang pelajarnya belum bisa baca sudah mulai berkurang, seperti dari enam, tinggal dua murid lagi,” jelasnya. Dia mengaku sedang mendata anak sekolah, mulai dari anak normal, anak lambat (dileksia), anak berkebutuhan khusus (ABK) atau iklusi.

“Nantinya akan kita usul ke Kementrian untuk penambahan sekolah inklusi di Pidie,” katanya. Saat ini, katanya, sekolah untuk anak disabilitas baru ada di Bambi dan Trubue, sehingga bagi anak berkebutuhan khusus di daerah pinggiran seperti Batee, Laweung tidak terjangkau.

“Maka kita akan usulkan penambahan di lokasi lain agar lebih dekat,” katanya. Dari Kementrian Agama juga sudah didata untuk dipetakan pemberian pendidikan untuk anak tersebut. “Kita petakan dulu. Jangan terpusat di wilayah kota. Lebih sering di pinggiran. Kalau di Laweung sudah habis saya kunjungi sekolah di sana,” tutur Kadisdik.

Sementara, seorang dosen Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, Dr Mukhlis Yunus di ruang Kadisdik Pidie mengaku faktor anak tidak membaca, karena faktor sosial. “Bisa juga karena kondisi keluarga, sarana pendidikan dan juga karena anak tergolong idiot. Maka harus dikelompokkan pendidikan untuk anak normal maupun kurang lainnya,” ujar Mukhlis Yunus.

Dia mengatakan tidak mungkin menyalahkan guru. “Pendidikan ini menjadi tanggungjawab semua pihak, dari guru, orang tua dan lingkungan supaya mendukung kemajuan pendidikan,” katanya seraya memberi apresiasi kepada Kadisdik Pidie yang berani mengungkapkan kondisi pendidikan daerah ini sebenarnya kepada masyarakat.(aya)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved