Citizen Reporter

Mendidik Pelayan Berharga Mahal

KEBERANGKATAN saya ke Malaysia kali ini adalah dalam rangka program kuliah kerja nyata (KKN) yang diadakan oleh Universitas Syiah Kuala

Mendidik Pelayan  Berharga Mahal
IST
PRESHINTAMA PUTRA, Mahasiswa Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala, melaporkan dari Pulau Penang, Malaysia

PRESHINTAMA PUTRA, Mahasiswa Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala, melaporkan dari Pulau Penang, Malaysia

KEBERANGKATAN saya ke Malaysia kali ini adalah dalam rangka program kuliah kerja nyata (KKN) yang diadakan oleh Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh. KKN adalah program pengabdian mahasiswa kepada masyarakat dengan menerapkan ilmu-ilmu yang sudah dipelajari selama kuliah di kampus.

Unsyiah sedang menjalankan program KKN baru, yaitu KKN Internasional. Pada tahun 2019 ini merupakan program KKN Internasional yang kedua. KKN Internasional ini dilaksanakan di Kampung Kota Aur, Tanah Batas, Seberang Perai Utara, Pulau Penang, Malaysia.

Di Malaysia saya berkunjung ke sekolah anak-anak usia dini, yaitu Tabika Kemas (Taman Binaan Kanak-Kanak Kemajuan Masyarakat) yang akrab biasa kita sebut TK (Taman Kanak-kanak). Tabika Kemas ini berada di bawah binaan Pemerintahan Negeri Malaysia. Di dalam taman kanak-kanak ini murid tidak dibolehkan membawa bekal (makanan) dari rumah, melainkan makanan tersebut akan disediakan oleh pihak sekolah. Menu makan yang disediakan oleh sekolah kepada muridnya adalah sama di seluruh taman kanak-kanak di Malaysia. Namun, menu makanan tersebut bervariasi setiap harinya.

Pertama kali saya sampai di TK tersebut bertepatan dengan waktu istirahat makan siang di sekolah. Saya terkejut dengan rasa haru ketika melihat budaya yang ditanamkan oleh guru (cikgu) kepada muri-murid nya, yaitu budaya melayani dan dilayani. Budaya ini diterapkan oleh sekolah ketika murid tengah dalam waktu istirahat makan siang.

Sebelum mengambil makanan, para murid diminta untuk berbaris dengan tertib untuk mencuci tangannya. Setelah murid-murid tersebut selesai mencuci tangannya, guru meminta para murid untuk duduk kembali ke kursi masing-masing. Setelah itu guru akan memanggil beberapa orang murid untuk dijadikan pelayan. Beberapa murid yang dipanggil untuk menjadi petugas inilah yang akan melayani makanan teman-temannya yang lain.

Murid yang menjadi petugas ini akan berbaris di depan meja pelayanan makanan untuk membawakan makanan yang telah disajaikan oleh sekolah kepada teman-temannya yang menunggu di meja masing-

masing. Teman-temannya yang menunggu di mejanya masing-masing diperintahkan oleh gurunya untuk tidak boleh meletakkan tangan di atas meja. Itu artinya adalah untuk menghargai murid yang bertugas saat mengantarkan makanan ke mejanya.

Ketika murid yang bertugas membawakan makanan sampai di mejanya temannya dengan membawakan makanan, temannya yang dilayani harus memberikan apresiasi atas pelayanan murid yang bertugas dengan mengucapkan ‘terima kasih’ beserta menyebutkan nama murid yang melayaninya. Lalu yang melayaninya pun harus membalas apresiasinya dengan mengucapakan ‘sama-

sama’ dengan menyebutkan nama temannya yang mengucapkan terima kasih tersebut.

Setelah itu, sang murid yang melayani tersebut akan kembali ke barisan di depan meja pelayanan untuk melayani makanan teman-temannya yang lain.

Hasil yang didapat dari pembelajaran melayani dan dilayani ini adalah anak-anak tidak akan manja sejak waktu kanak-kanak hingga dewasa nanti. Sifat manja ini biasanya terjadi karena semasa kanak-kanak yang terus menerus dilayani keinginannya.

Selain itu, pembelajaran melayanai dan dilayani di taman kanak-kanak tersebut akan membekaskan kepribadian untuk menghargai setiap apa pun yang didapatkan dari setiap pemberian orang lainkepadanya. Pendeknya mereka dilatih menjadi pelayan yang berharga mahal, sedangkan murid yang dilayani dilatih menjadi raja yang peduli dan rendah hati. (*)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved