Opini

Rokok Pangkal Miskin

SENGAJA saya memilih judul artikel ini “Rokok Pangkal Miskin”. Judul ini hampir dapat dipastikan akan melahirkan sejumlah kontroversi

Rokok Pangkal Miskin
Shutterstock
Ilustrasi 

Oleh Jasman J. Ma’ruf

SENGAJA saya memilih judul artikel ini “Rokok Pangkal Miskin”. Judul ini hampir dapat dipastikan akan melahirkan sejumlah kontroversi. Dan hampir dapat dipastikan pula bahwa judul ini akan menaikan adrenalin si perokok. Ia akan menolak serta-merta judul ini. Bukti nyata telah kita lihat bahwa upaya mengharamkan rokok di Indonesia tidak pernah berhasil. Meskipun rokok jelas membawa kemudaratan bagi kesehatan manusia, ia juga membawa kepada kemudaratan dalam hal kesejahteraan umat. Mohon baca secara tuntas artikel ini agar terbukti judul di atas.

Provinsi termiskin
Baru-baru ini kita kembali disuguhkan berita bahwa Aceh juara lagi sebagai satu provinsi termiskin, secara nasional menduduki urutan termiskin keenam dan sekaligus provinsi termiskin di Sumatera. Suguhan berita tentang tingkat kemiskinan Aceh yang kembali dimunculkan, sepertinya bukan lagi sebuah berita. Karena sejak pemberitaan tentang statistik kemiskinan dimunculkan di Indonesia oleh Badan Pusat Statistik (BPS), sejak itu pula Aceh selalu dikelompokkan kedalam provinsi termiskin di Indonesia. Jumlah penduduk miskin di Aceh pada September 2018 mencapai 15,68%, jauh di atas angka kemiskinan di Indonesia yang hanya 10,12% (BPS Aceh).

Timbul pertanyaan, ke mana saja uang yang dibelanjakan oleh masyarakat Aceh? BPS Aceh menyuguhkan informasi tentang tingkat konsumsi ke dalam dua wilayah, yaitu perkotaan dan perdesaan. Dari segi komoditi makanan pada 2018, maka dapat ditunjukkan bahwa 20,11% uang masyarakat perkotaan Aceh dibelanjakan untuk membeli beras, sementara masyarakat perdesaan Aceh membelajakan uangnya untuk membeli beras sebanyak 26,46%. Komoditi kedua terbesar yang dihabiskan oleh masyarakat adalah untuk membeli rokok. Bagi masyarakat perkotaan, besaran jumlah uang yang dibelanjakan untuk rokok oleh masyarakat Aceh adalah 11,79% dari total belanjanya, sementara masyarakat perdesaannya mencapai 11,56%.

Sementara itu, masyarakat perdesaan Aceh membelajanakan dananya untuk pendidikan hanya dari 1,45%. Hal ini berarti, jika dibandingkan dengan pembelanjaan untuk rokok, maka dana yang dihabiskan untuk membeli rokok hampir 10 kali lebih besar dibandingkan dengan belanja untuk pendidikan. Rendahnya komitmen pembiayaan pendidikan di kalangan masyarakat kita mungkin juga satu penyumbang rendahnya mutu lulusan SLTA Aceh. Data hasil tes Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2018 menunjukkan bahwa ranking Aceh berada pada posisi 24 dan 25 untuk IPS dan IPA dari 34 provinsi. Posisi ini tentu menyebabkan sukar sekali bagi lulusan SLTA Aceh bisa bersaing dalam memasuki PTN di peringkat nasional.

Berapa sebenarnya uang yang dibelanjakan masyarakat Aceh untuk rokok? Mari kita gunakan matematika sederhana untuk menghitung belanja uang rakyat Aceh untuk belanja komoditi rokok ini. Hasil riset Dinas Kesehatan Aceh pada 2010, menunjukkan bahwa angka perokok di Aceh sangat tinggi, yaitu mencapai 37,1%. Angka ini di atas rata-rata nasional yang mencapai 34,7%.

Dengan demikian, jumlah penduduk Aceh yang mengonsumsi sebesar 37,1% dari 5 juta penduduk Aceh, berarti setara dengan 1.855.000 jiwa. Jika setiap perokok membelanjakan uangnya untuk rokok Rp 10 ribu per hari, maka dalam sebulan rata-rata setiap perokok membelanjakan uangnya untuk rokok sebesar Rp 300 ribu, atau setara dengan Rp 3,6 juta dalam setahun.

Dengan jumlah pengeluaran rata-rata perokok untuk belanja rokok setiap tahunnya sebesar Rp 3,6 juta, maka jika dikalikan dengan jumlah perokok Aceh yang berjumlah 1.855.000 jiwa, maka dana yang dihabiskan rakyat Aceh untuk membeli rokok dalam satu tahun sebesar Rp 6,7 triliun. Suatu angka yang amat fantastis. Bahkan hampir setara dengan Dana Otsus yang selama ini kita gadang-gadangkan, yang pada 2019 ini sebesar Rp 8,03 triliun.

Saya tidak risau jika rakyat Aceh membelanjakan uangnya yang demikian besar itu untuk membeli telur, ikan atau daging, karena dengan mengonsumsi lebih banyak telur, ikan dan daging membuat masyarakat akan lebih cerdas, sehat, dan tentu akan menghasilkan produktivitas dalam hidupnya. Begitu juga halnya jika rakyat Aceh lebih banyak mengeluarkan duitnya untuk pendidikan, tentu akan membuat rakyat Aceh semakin hebat dalam hal daya saing dan tentu akan lebih siap dalam menghadapi persaingan SDM dalam dunia kerja yang semakin kompetitif sekarang ini.

Kerisauan ganda
Kita risau karena sebagian besar uang yang digunakan masyarakat Aceh justeru untuk merusak kesehatan, yaitu uang dihabiskan untuk membeli rokok. Berbagai kandungan zat yang terdapat di dalam rokok memberikan dampak negatif bagi tubuh penghisapnya. Merokok tidak hanya menjadi pemicu satu atau dua penyakit mematikan. Namun rokok menjadi awal dari munculnya penyakit dari sekedar batuk hingga paru-paru, dan tak ayal menyebabkan kematian. Setidaknya 50% perokok aktif di dunia meninggal karena penyakit yang disebabkan oleh kebiasaaan merokok.

Halaman
12
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved