Opini

Rokok Pangkal Miskin

SENGAJA saya memilih judul artikel ini “Rokok Pangkal Miskin”. Judul ini hampir dapat dipastikan akan melahirkan sejumlah kontroversi

Rokok Pangkal Miskin
Shutterstock
Ilustrasi 

Celakanya lagi, uang yang dibelanjakan untuk membeli rokok seuruhnya lari ke luar Aceh, karena di Aceh tidak ada pabrik rokok. Bahkan sebagian besar uang yang dibelanjakan justeru lari ke luar negeri, karena sebagian besar pabrik di Indonesia sekarang dikuasai oleh perusahaan asing, seperti Philip Morris asal Amerika Serikat yang menguasai saham PT HM Sampoerna Tbk, dan Japan Tobacco Company dari Jepang yang telah mencaplok anak perusashaan PT Gudang Garam.

Jika hal ini hal ini terus terjadi, maka dampak konkretnya justru akan terjadi pelarian devisa ke luar negeri. Industri rokok asing mengeruk untung di Indonesia, dan sebaliknya berbagai penyakit dan dampak sosial ekonomi dan finansial akan diwariskan di Indonesia, akhirnya masyarakat Indonesia akan menanggung warisan tersebut.

Singkat cerita, dengan merokok berarti masyarakat Aceh yang miskin-papa terus memperkaya orang kaya di AS (pemegang saham Philip Morris) dan di Jepang (pemegang saham Japan Tobacco Company) meskipun dengan cara merusak kesehatannya. Sungguh sangat disayangkan. Jika kita melihat negeri jiran, ulama di Malaysia sangat antirokok, sehingga melarang memberi zakat kepada perokok meskipun ia miskin. Jika ulama kita ikut berkampanye antirokok, maka perbuatan mubazir akan terkikis dari kebiasaan buruk masyarakat kita.

Padahal, seandainya uang sebesar Rp 6,7 triliun yang selama ini setiap tahunnya digunakan untuk membeli rokok, digunakan untuk untuk investasi tentu tingkat kemiskinan di Aceh akan tidak separah sekarang ini. Setiap ada berita tentang kemiskinan di Aceh, kita selalu menyalahkan pemerintah. Padahal, kita sendiri baik sadar maupun tidak justeru ikut memiskinkan diri.

Seandainya seluruh rakyat berhenti merokok, berarti uang yang sebesar Rp 6,7 triliun dapat diinvestasikan ke kegiatan yang lebih produktif, misalnya membeli bibit kelapa, bibit pinang dan merawatnya, atau investasi lain yang produktif, tentu uang itu akan kembali bersama keuntungannya. Setiap rupiah yang kita tanam, insya Allah akan kembali secara berlipat-ganda. Nah!

Prof. Dr. Jasman J. Ma’ruf, SE, MBA., Guru Besar Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), kini sedang mendapat tugas tambahan sebagai Rektor Universitas Teuku Umar (UTU) Meulaboh. Email: rektor@utu.ac.id

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved