Tafakur

Tiada Shalat

Bila mendatangi suatu masjid tatkala waktu shalat tiba, sungguh akan mendapati jumlah orangnya berbeda dibandingkan dengan yang duduk-duduk

Tiada Shalat
Tafakur

Oleh: Jarjani Usman

 “Barangsiapa mendengar seruan azan tapi tidak memenuhinya, maka tidak ada shalat baginya kecuali karena uzur” (HR. Ibnu Majah, Ad-Daru Quthni, Ibnu Hibban, Al-Hakim).

Bila mendatangi suatu masjid tatkala waktu shalat tiba, sungguh akan mendapati jumlah orangnya berbeda dibandingkan dengan yang duduk-duduk di warung kopi di dekatnya. Nyaris di setiap daerah di negeri kita, berkali lipat lebih banyak orang yang tetap bertahan duduk di warung kopi mengabaikan panggilan untuk menunaikan ibadah shalat, walaupun saat shalat telah tiba. Pemandangan ini sebenarnya sangat mengerikan.

Pemandangan tersebut menunjukkan betapa banyak orang yang melalaikan shalat, walaupun ibadah tersebut adalah yang utama dihisab di akhirat kelak. Sabda Nabi SAW “Pada hari kiamat pertama kali yang akan Allah hisab atas amalan seorang hamba adalah shalatnya, jika shalatnya baik maka ia akan beruntung dan selamat, jika shalatnya rusak maka ia akan rugi dan tidak beruntung” (HR. Tirmidzi).

Karenautamanya peranan shalat bagi masa depan, seharusnya setiap diri kita lebih mengutamakan waktu shalat ketimbang hal-hal lain agar shalat diterima Allah. Memenuhi panggilan shalat berjamaah dengan hati yang ikhlas menunjukkan tingkat ketaatan kepada Allah. Sedangkan mengabaikannya adalah wujud ketidaktaatan, yang bisa bermakna tiada shalat bagi kita.

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved