400 Rumah Korban Gempa belum Rampung

Menjelang setahun setelah peletakan batu pertama pembangunan rumah korban gempa di Pidie Jaya

400 Rumah Korban Gempa belum Rampung
SERAMBINEWS.COM
Foto udara memperlihatkan bangunan yang hancur akibat gempa bumi berkekuatan 6,4 SR mengguncang Pidie Jaya pada 2016 lalu. 

MEUREUDU - Menjelang setahun setelah peletakan batu pertama pembangunan rumah korban gempa di Pidie Jaya oleh Kepala BNPB Pusat Willem Rampangilei pada April 2018, masih banyak rumah warga yang belum dirampungkan pembangunannya. Dari hampir 2.500 unit rumah rusak berat dan dibangun baru tahun 2018, kini masih tersisa sekitar 400 unit rumah yang belum rampung.

Dilaporakan, rumah yang belum ditempati karena tak kunjung siap seratus persen kondisinya beragam. Ada sejumlah bangunan yang hanya baru sebatas pemasangan kerangka atas. Sementara pintu dan jendela, plafon, apalagi keramik lantai, belum dijamah sama sekali.

Beberapa calon penerima manfaat menjawab Serambi terpisah, Minggu (10/2), mengaku tidak mengetahui sama sekali penyebab terlambat rampung. Mereka tampak sedih tatkala menatap rumahnya yang baru setengah jadi.

Jika terus dibiarkan begitu, kata seorang warga, bisa jadi kosen pintu dan jendela akan lapuk karena teriknya matahari serta disirami hujan. “Lihat itu entah kapan rumah saya siap,” kata seorang warga.

Seperti dilontarkan Adnani, salah seorang korban gempa di Gampong Teungoh, Kecamatan Panteraja, yang kondisi rumahnya hanya baru pada tahap pemasangan kerangka atas dan plasteran dinding. Sedangkan pekerjaan lainnya termasuk pemasangan lantai keramik serta plafon sama sekali belum dilakukan. Disebutkan bahwa selama ini tukang pun tak pernah masuk lagi untuk bekerja.

Didampingi istrinya Malahayati, Adnani berharap kepada dinas terkait melalui bupati/wabup setempat agar bangunan yang kini masih setengah jadi dilanjutkan pengerjaannya hingga tuntas. Beberapa korban gempa lainnya di Gampong Tengoh, kondisi rumahnya juga begitu. Antara lain, kepunyaan Saudah dan Nursiah (keduanya janda) serta rumah Saifuddin. Salah seorang warga setempat yang dikonfirmasi Serambi membenarkan bahwa masih ada sejumlah rumah di desanya yang juga belum rampung.

Pantauan Serambi, selain di Panteraja, masih banyak rumah korban gempa di kecamatan lainnya di Pijay yang belum selesai. Para korban gempa bumi tampak sudah bosan menyampaikan persoalan tersebut ke pejabat yang berwenang.

Betapa tidak, rumah tahap pertama saja belum rampung seluruhnya, kecuali rumah rehab yang sudah tuntas. Kini didengungkan tahun 2019 ini rumah tahap berikutnya (rumah yang masuk daftar tunggu) siap dibangun.

Rumah yang belum siap, antara lain di Gampong Peulandok Tengoh, Peulandok Baroh Kecamatan Trienggadeng, Gampong Peurade Panteraja, Pante Beureune di Kecamatan Meurahdua, dan beberapa gampong lainnya di Pidie Jaya.

Kepala Kalak-BPBD Pidie Jaya, HM Nasir SPd, dalam keterangannya pada peresmian secara simbolis di Gampong Rawasari Trienggadeng, sekitar dua pekan lalu menyebutkan, dari 2.496 unit rumah rusak berat, sebanyak 1.523 unit rampung dibangun tahun 2018. Sedangkan sisanya 973 unit lagi rata-rata progress-nya 95 persen.

Hasil penelusuran Serambi, dari 973 unit tadi, belakangan ditaksir masih ada sekitar 400 unit lagi dalam tahap penyelesaian. Sementara 1.010 unit rumah masuk daftar tunggu, dikabarkan akan dibangun tahun ini. Beberapa warga kepada Serambi menuturkan, mereka yang rumahnya masuk daftar tunggu harap-harap cemas. Mereka khawatir yang dijanjikan itu tidak kunjung terealisasi keseluruhan pada tahun 2019 ini.(ag)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved