8 Terpidana Dieksekusi Mati di Amerika Serikat, Ini Kata-kata Terakhir Terpidana Sebelum Dieksekusi

Eksekusi mati merupakan hukuman yang tercatat dalam sejarah telah ada di sejumlah peradaban kuno.

8 Terpidana Dieksekusi Mati di Amerika Serikat, Ini Kata-kata Terakhir Terpidana Sebelum Dieksekusi
Tribunnews.com/Ynaija
Ilustrasi hukuman mati. 

Dia juga didakwa dengan pembunuhan seorang pegawai pompa bensin sehari sebelum pembunuhan motel.

Gilmore merupakan orang pertama yang dieksekusi secara legal di Amerika Serikat sejak 1967.

Dia menyumbangkan organnya dan tak lama setelah dia dieksekusi, dua orang menerima kornea matanya.

5. Jimmy Glass

Pada 12 Juni 1987, seorang terdakwa pembunuhan bernama Jimny Glass menjalani hukuman mati dengan disetrum listrik.

Dia mendapatkan hukuman itu karena melakukan perampokan dan pembunuhan sepasang warga Louisiana saat malam Natal.

Sebelum algojo mengeksekusinya, dia sempat mengatakan: "Aku lebih suka memancing."

Jimmy Glass terkenal bukan saja karena pembunuhan itu, tetapi karena membuat petisi ke Mahkamah Agung pada 1985 yang mengkritik hukuman mati dengan cara setrum.

Dia mengatakan bahwa eksekusi dengan listrik melanggar Amandemen Kedelapan dan Keempat Belas terhadap Konstitusi AS, dan bentuk hukuman kejam.

Namun, Mahkamah Agung menolak petisi itu.

6. Barbara Graham

Barbara diketahui merupakan pelacur, pecandu narkoba, dan pembunuh yang dieksekusi di kamar gas di San Quentin pada tahun 1955.

Dia tercatat memukuli seorang perempuan tua hingga mati saat melakukan perampokan.

Terpidana yang juga dikenal dengan sebutan "Bloody Babs" ini mengucapkan kata terakhir sebelum mengembuskan napas terakhir di San Quentin: "Orang baik selalu yakin bahwa mereka benar."

Setelah kematian itu, kisah hidupnya dijadi film berjudul, "I Want to Live!" dan dibintangi oleh Susan Hayward, yang kemudian memenangkan Academy Award karena berperan sebagai Graham dalam film tersebut.

7. Aileen Wuornos

Aileen Wuornos lahir di Michigan dan ditinggalkan oleh orang tuanya di usia muda.

Saat remaja, dia diketahui menjadi pelacur dan merampok orang untuk menghidupi diri.

Pada 1989 dan 1990, Wuornos menembak, membunuh, dan merampok setidaknya enam orang.

Setelah sidik jarinya ditemukan pada bukti yang ditemukan oleh polisi, ia ditangkap dan diadili pada Januari 1991.

Hingga kemudian, dia menerima enam vonis hukuman mati.

Dia juga memecat pengacaranya, membatalkan semua permohonan ke pengadilan, dan meminta agar eksekusi itu dilakukan sesegera mungkin.

Aileen Wuornos menyampaikan pesan panjang sebelum disuntik mati pada Oktober 2002 di Florida: "Aku hanya ingin berlayar dengan sebuah batu, dan aku akan kembali seperti Hari Kemerdekaan bersama Yesus pada 6 Juni. Seperti film, kapal besar dan semua, aku akan kembali."

8. Timothy McVeigh

S
Timothy McVeigh(Businessinsider)

Teroris Timothy McVeigh tidak memiliki kata-kata terakhir sebelum dieksekusi dengan suntikan mematikan pada 11 Juni 2001 di Indiana.

McVeigh memang meninggalkan pernyataan tulisan tangan yang mengutip sebuah puisi oleh penyair Inggris William Ernest Henley.

Dalam tulisan tangan itu kata-kata terakhirnya adalah: "Aku adalah penguasa nasibku: aku adalah kapten jiwaku."

Timothy McVeigh dikenal sebagai pengebom di Kota Oklahoma.

Dia dihukum karena telah menewaskan 149 orang dewasa dan 19 anak-anak saat meledakkan Alfred P Murrah Federal Building pada 19 April 1995.

McVeigh mengakui kepada penyelidik setelah dia tertangkap.

Dia marah kepada pemerintah federal atas cara mereka memperlakukan kelompol separatis kulit putih Randy Weaver di Ruby Ridge, Idaho pada 1992, juga terhadap David Koresh dan Branch Davidians di Waco, Texas, pada 1993.

Baca: Proses Lelang Proyek Pemerintahan di Pidie Lamban, Ini Empat SKPK yang Sudah Menjalankan

Baca: Polisi Tetapkan Ketum PA 212 Slamet Maarif Jadi Tersangka, Bawaslu Ungkap Kronologinya

Baca: Ingin Jadi Pegawai Kontrak Pemerintah, Begini Alur Pendaftaran P3K 2019

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Kata-kata Terakhir Terpidana Mati Populer di AS Sebelum Dieksekusi..."

Editor: faisal
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved