Duka di Balik Perayaan Australia Day

SAYA anak petani garam di Sigli, Pidie, dan bekerja di LSM Flower Aceh, awal tahun ini saya mendapatkan kesempatan ikut kursus

Duka di Balik Perayaan Australia Day
IST
ERNAWATI

OLEH ERNAWATI, Staf LSM Flower Aceh, melaporkan dari Sydney, Australia

SAYA anak petani garam di Sigli, Pidie, dan bekerja di LSM Flower Aceh. Awal tahun ini saya mendapatkan kesempatan ikut kursus singkat Australia Award selama dua minggu (19 Januari-8 Februari 2019) yang difasilitasi oleh Sydney Southeast Asia Centere (SSEAC), pusat keunggulan akademik interdisipliner terkemuka tentang Asia Tenggara di Australia yang didirikan oleh Prof Michelle Ford sekaligus Direktur SSEAC.
Mewakili konsorsium Perempuan Sumatera Mampu (Permampu), saya, Tini Rahayu mewakili WCC Cahaya Perempuan Bengkulu dan Jojor Paiman Siahaan mewakili Pesada, Sumatera Utara, bergabung dengan perempuan hebat lainnya yang mewakili LSM perempuan di Indonesia.
Melalui kursus ini, kami diharapkan menjadi pemimpin perempuan yang mampu mengarahkan kecakapan inovasi dalam membuat perubahan baik dalam profesi maupun komunitas.

Siapa yang tidak tahu Universitas Sydney, perguruan tinggi terkemuka dalam pengajaran dan penelitian, masuk dalam tiga besar sebagai universitas riset terbaik di Australia? Sebelum mengikuti kursus, kami dibekali terlebih dahulu tentang gambaran materi yang akan dipelajari dan informasi terkait Australia.
Australia merupakan negara berbentuk federasi dengan sistem pemerintahan parlementer, memiliki kebudayaan yang beraneka ragam, berasal dari berbagai macam latar belakang negara seperti Inggris, Vietnam, dan Cina. Hal ini terlihat di sepanjang jalan, kita akan bertemu dengan orang-orang yang berbeda-beda.

Menginjakkan kaki di Sydney, ibu kota dari Negara Bagian Australia, New South Wales, kita dapat melihat kemajuan kota yang tertata dengan baik, tertib, bersih, indah dengan arsitektur bangunan yang memanjakan mata. Transportasi publik yang tersedia ramah difabel, budaya antre yang sangat dijaga, dan warganya sangat patuh pada tata tertib lalu lintas dan larangan merokok. Tidak terlihat asap rokok di tempat publik.
Dengan kenyamanan yang ditawarkan tersebut, kita bisa dengan aman berjalan kaki. Saya pun selama kursus menikmati perjalanan tanpa berkendaraan ke tempat belajar, mengunjungi situs terdekat, atau bahkan sekadar untuk duduk rehat dan berolahraga di taman dengan ruang terbuka hijau, menyaksikan festival, dan juga aksi. Mungkin, ini juga yang mendukung pedunduknya sehat sehingga di sini tidak jarang kita jumpai lansia yang masih sanggup berjalan kaki dan mandiri.

Selain belajar di dalam ruangan, saya dan teman-teman juga belajar di luar ruangan dengan mengunjungi situs-situs dan mengikuti Australia Day yang jatuh pada tanggal 26 Januari. Kegiatan ini menarik untuk diikuti, karena upacaranya diadakan di atas kapal perang di Circular Quay. Selain itu, dua bendera dikibarkan di atas Jembatan Sydney, bendera Australia dan bendera Aborigin. Lagu suku aborgin juga ikut diperdengarkan selain ucapan selamat datang dari salah satu perwakilan Suku Aborigin.
Aborigin adalah penduduk yang mendiami pertama sekali Benua Australia. Mereka merupakan penduduk asli yang berhak atas tanah Australia.

Dari hasil kunjungan ke Museum Australia, saya kemudian tahu bahwa suku Aborigin memiliki kemiripan dengan suku Asmat di Papua. Mereka hidup dari berburu kanguru dan hewan liar lainnya menggunakan tombak, bumerang, dan panah. Datangnya Inggris untuk pertama sekali membuat suku Aborigin menurun populasinya, karena beragam kekerasan dan pelanggran terjadi, bahkan ada upaya untuk menghilangkan keberadaan suku Aborigin. Banyaknya imigran yang datang dan godaan sumber daya alam membuat suku Aborigin terdesak dan terusir dari tanahnya sendiri, mereka bahkan juga dibunuh. Tidak hanya terusir, mereka bahkan tidak dianggap. Suku Aborigin mendapatkan tempatnya dan dapat hidup dengan baik seperti saat ini justru sejak mendapatkan pengakuan sebagai manusia pada tahun 1966. Sebelumnya mereka dikategorikan ke dalam kelompok flora dan fauna.

Setelah menikmati makan siang, saya mengikuti Festival Yaboon, perayaan tahunan budaya Aborigin dan Torres Strait Islander yang di adakan di tanah-tanah tradisional milik orang- orang Gadigal di Sydney. Di sini ditampilkan tarian-tarian yang diiringi oleh beberapa alat musik tradisional. Pertunjukan tersebut seolah menyiratkan pesan bahwa mereka masih ada.

Bagi saya, pengalaman belajar selama kursus, mengenal Australia lebih dekat, dan mengamati sejarah Aborigin ini memberikan makna tersendiri dalam diri saya. Ada pesan moral di sana, yakni betapa pentingnya menjaga dan menghargai kearifan lokal, mengembangkan nilai-nilai perdamaian, saling menghormati dan bekerja sama, memberi ruang yang adil dan setara bagi semua pihak untuk terlibat dalam mengisi dan membangun daerah.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved