Kisah AI China yang Dimatikan Karena Terlalu Ahli Menangkap Koruptor

Menjadi terlalu ahli dalam menangkap koruptor membuat nasib kecerdasan buatan Artificial Inteligencia (AI), Zero Trust, tak berakhir baik.

Kisah AI China yang Dimatikan Karena Terlalu Ahli Menangkap Koruptor
Washington Post
Sebuah tayangan CCTV menggunakan teknologi pengenalan wajah di China. 

Setelah mencurigai, Zero Trust kemudian akan mengalkulasikan kemungkinan tindakan tersebut adalah tindak korupsi atau bukan.

Jika melewati batas tertentu, Zero Trust kemudian akan memperingatkan otoritas China yang akan melakukan verifikasi dan membuat keputusan akhir.

Namun, sistem ini bukan tanpa kekurangan. Meskipun kecerdasan buatan tersebut mampu menemukan koruptor dengan cepat, ia tidak dapat menjelaskan konklusi. Alhasil, keberadaan manusia masih diperlukan untuk membantunya.

Zhang Yi dari Komisi Inspeksi Disiplin untuk Partai Komunis China yang bertugas di Ningxiang, Hunan, salah satu dari segelintir daerah yang masih menggunakan Zero Trust, mengatakan, mereka hanya menggunakan hasil mesin sebagai referensi.

“Kami masih perlu memeriksa dan menverifikasi kebenarannya. Mesin ini tidak bisa mengangkat telepon dan menghubungi orang yang dianggap bermasalah. Pada akhirnya, keputusan tetap dibuat oleh manusia,” katanya.

Baca: KPU Umumkan Partai yang Paling Banyak Mengajukan Mantan Koruptor Jadi Caleg, Ini Daftarnya

Baca: Ini 5 Kementerian yang Belum Pecat PNS Koruptor, Terbanyak Kementerian PUPR

Baca: Polisi Tetapkan Ketua Umum PA 212 Slamet Maarif sebagai Tersangka

Ketika pertama kali diluncurkan, Zero Trust hanya diuji coba pada 30 daerah dan kota, sekitar 1 persen dari total area administratif China. 30 daerah dan kota tersebut memang sengaja dipilih yang berlokasi di area-area terpencil dan miskin. Namun, jumlah tersebut kini menurun drastis.

Daerah Xiushui, di mana Zero Trust masih bekerja, misalnya, mulai mempertanyakan akses mesin tersebut terhadap database-database yang dianggap sensitif.

Beberapa pegawai negeri di daerah tersebut secara khusus menyoroti tidak adanya payung hukum atau regulasi yang mengatur hal semacam ini.

Dengan tekanan yang sedemikian besarnya, para peneliti merasa pesimis dapat mengaplikasikan teknologi ini ke seluruh China.(Kompas.com)

Editor: Taufik Hidayat
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved