Opini

Pers dan Kebenaran

PADA 3 Desember 1981, Polandia mendeklarasikan darurat militer. Pemerintah Polandia memutuskan pelarangan

Pers dan Kebenaran
SERAMBITV.COM
Para wartawan di Aceh Barat memperingati Hari Pers Nasional (HPN) 2019, di Endatu Kupi, Meulaboh 

Oleh Ziad Farhad

PADA 3 Desember 1981, Polandia mendeklarasikan darurat militer. Pemerintah Polandia memutuskan pelarangan terhadap aktivitas Solidaritas, satu serikat pekerja independen dan sebuah gerakan yang diciptakan oleh Lech Walesa untuk menentang rezim komunis Polandia pada 1980 silam. Tuntutan awalnya untuk kenaikan upah, lalu berkembang menjadi tuntutan yang lebih luas untuk serikat buruh, yakni kebebasan berbicara dan pembebasan tahanan politik.

Pemerintah berusaha menguasai informasi demi menjaga kekuasaanya. Di Gdansk, sebuah kota yang berada di wilayah utara Polandia, terjadi pembalikan layar televisi. Orang-orang di sana memindahkan pesawat televisi ke jendela, dengan layar menghadap ke jalan. Mereka sedang mengirimkan pesan kepada yang lain, kepada pemerintah. Kami tidak sudi menonton. Kami menolak kebenaran versi saudara (Bill Kovach, Sembiln Elemen Jurnalisme).

Setelah 37 tahun berlalu. Kita tidak sedang di Gdansk. Ketika pemerintahan otoriter Polandia berusaha “mengintimidasi” sebuah informasi. Ketika sebuah konsep keberanaran berusaha dimonopoli oleh penguasa dengan pesan politik melalui framming, sehingga terbentuk sentimen politik yang luas.

Saat ini, informasi telah menjadi barang publik. Ketika perusahaan non pers maupun individu dapat menghasilkan sebuah produk informasi. Perkembangan teknologi informasi yang sangat cepat dan dinamis saat ini telah memunculkan alternatif baru dalam dunia jurnalisme. Kehadiran internet yang mengubah peradaban telah menciptakan saluran baru bagi masyarakat untuk memproduksi sekaligus mengonsumsi informasi. Internet sebagai new media, lebih interaktif dan memberikan keleluasaan kepada para pengguna.

Faktanya, bukan hanya zaman ini saja cara kita mendapatkan berita melalui proses transisi yang sangat penting. Tiap waktu dalam sejarah ada periode penting terhadap perubahan sosial, ekonomi, dan teknologi. Pada era 1830-an dan 1840-an hadirnya telegraf. Ini terjadi lagi pada 1920-an dengan penemuan radio, munculnya tabloid, dan budaya gosip serta selebritas. Selanjutya berkembang kembali dengan penemuan televisi.

Peran pers
Pers sering disebut sebagai pilar keempat demokrasi setelah eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Walaupun berada di luar sistem politik yang formal, keberadaan pers yang menghasilkan produk jurnalistik memiliki posisi strategis dalam informasi massa, pendidikan kepada publik sekaligus menjadi alat kontrol sosial.

Napoleon Bonaparte (1769-1821) pernah berkata, dia lebih takut kepada seorang jurnalis dengan penanya daripada seribu tentara dengan bayonetnya. Apa yang dikatakan pers hampir selalu dipercaya oleh publik.

John McCain (1936-2018), senator Amerika Serikat dari Arizona, menulis dalam biografinya, bahwa dalam masa 5,5 tahun menjadi tawanan perang di Hanoi, Vietnam, yang paling ia rindukan bukanlah hiburan, makanan, kebebasan, atau bahkan keluarga dan teman. “Hal yang paling saya rindukan adalah informasi yang bebas sensor, tidak terdistorsi, dan jumlahnya melimpah”.

Media massa saat ini masih dibutuhkan masyarakat sebagai pemandu. Dibutuhkan sebagai alat publik untuk memilah kebenaran di era informasi yang tak terbatas seperti saat ini.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved