FOTO - Bandara Kualanamu Kosong Melompong, Terminal 3 Soetta Sunyi Sepi Bak Kuburan

Kebijakan ini akan mempengaruhi mirisnya kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah pusat dan akan melonggarkan rasa nasionalismenya

FOTO - Bandara Kualanamu Kosong Melompong, Terminal 3 Soetta Sunyi Sepi Bak Kuburan
Foto kiriman Mahyuddin, Direktur Akpar Muhammadiyah Aceh
Bandara Kualanamu Deliserdang Sumatera Utara, sunyi dan sepi dari aktivitas penumpang. Foto direkam Minggu 10 Februari 2019, pukul 19.45 WIB. 

“Belum lagi kerugian yang dialami oleh teman-teman di asosiasi usaha pariwisata, seperti hotel, restoran, dan travel agent yang turun drastis pendapatannya akibat melonjaknya harga tiket pesawat,” imbuhnya.

Direktur Akademi Pariwisata Muhammadiyah Aceh ini berpendapat, pemerintah harus punya andil besar dalam menyikapi keadaan ini.

“Kebijakan ini akan mempengaruhi mirisnya kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah pusat dan akan melonggarkan rasa nasionalismenya,” pungkas Mahyuddin.

Baca: Nasionalisme Warga Aceh Diuji di Kuala Lumpur

Baca: Nyak Sandang, Garuda Indonesia, dan “Kebaikan’’ Malaysia untuk Aceh

Hal senada juga diungkap Azwani Awi (Popon), pegiat pariwisata Aceh.

"Semua yang berhubungan dengan pariwisata terpukul. Hotel, restoran, tour travel, pemandu wisata, dan lainnya. Ekonomi pun semakin terpuruk," tulis Popon dalam pesan Whatsapp kepada Serambinews.com.

Diberitakan sebelumnya, para pelaku wisata di Batam sampai melakukan pawai keprihatinan pariwisata, Senin (11/2/2019).

Dalam aksi yang digelar di Gerbang Utara Dataran Engku Putri Batam, para pelaku pariwisata di Batam menyuarakan keprihatinan terhadap mahalnya harga tiket pesawat tujuan domestik dan penerapan bagasi berbayar.

Syarif Hidayatullah, manajer salah satu usaha penghasil oleh-oleh di Batam mengatakan, industri pariwisata di Batam turun drastis sejak naiknya tiket pesawat domestik serta pemberlakuan bagasi berbayar.

Khusus untuk outlet oleh-oleh, biasanya mereka bisa mengumpulkan omset sehari Rp 5 hingga Rp 6 jutaan, sekarang menurun drastis hanya Rp 2 jutaan.

"Hampir 60 persen omset menurun. Sangat berdampak pada pelaku usaha pariwisata. Baik di bidang oleh-oleh, restoran, jasa transportasi, agent, travel. Orang pasti berpikir dua kali mau beli oleh-oleh," ujar Manajer Operasional Nayadam, Syarif Hidayatullah kepada Tribun Batam, Kamis (24/1/2019).

Baca: Dampak Mahalnya Tarif Domestik, 9 Penerbangan dari Batam Dibatalkan karena Sepi Penumpang

Halaman
1234
Penulis: Zainal Arifin M Nur
Editor: Zaenal
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved