Opini

Menyambut Debat Kedua Capres

PADA 17 Februari mendatang, akan berlangsung debat yang kedua calon presiden dan wakil presiden (selanjutnya disebut debat capres)

Menyambut Debat Kedua Capres
Kolase/Tribunnews/Kompas.com
Capres Nomor Urut 01 Joko Widodo dan Capres Nomor Urut 02 Prabowo Subianto, saat Debat Pilpres pertama di Hotel Bidakara, Pancoran, Jakarta Selatan, Kamis (17/1/2019). 

Jadi, di samping peduli kepada etika di atas, maka setiap paslon harus memiliki pesan kunci atau pesan utama, yang dengan kepiawaian paslon, selalu dimunculkan selama debat berlangsung. Apa pesan utama paslon 01 dan 02 kemarin? Mungkin ada yang tahu, tetapi mungkin juga ada yang sama sekali tak tahu, ketidaktahuan mana bisa jadi disebabkan performan paslon yang tak maksimal.

Persiapan
Persiapan lagi-lagi menjadi kata kunci. Pertanyaan kepada lawan debat dalam debat pertama bulan lalu, sepertinya kurang greget, kurang tajam, masih main di pinggiran, dan jawabannya juga di pinggiran. Pertanyaan yang diajukan seharusnya adalah pertanyaan yang membuat lawan debat kelihatan tak mampu menjawab, bukan pertanyaan yang memperlihatkan lawan debat malah terlihat lebih jago atau pintar dibanding penanya.

Dalam presentasi publik, peran alat bantu sangatlah penting. Alat bantu yang paling utama adalah (kualitas) presenter itu sendiri. Melengkapi dirinya, antara lain, adalah pakaian yang digunakan (putih hitam oleh paslon 01 dan jas hitam lengkap oleh paslon 02). Seberapa menarikkah kostum kedua paslon tersebut? Publik mungkin punya rasa dan jawaban tersendiri. Pakaian merepresentasi banyak hal dari sosok masing-masing paslon.

Selain pakaian, maka bahasa tubuh berada pada daftar aspek yang paling berperan. Dalam sebuah tulisan disebutkan bahwa Richard Nixon pernah sangat menyesali dirinya saat tampil melawan John F Kennedy dalam debat capres 1960. “Saya terlalu fokus pada apa yang saya ingin katakan, dan tidak peduli kepada penampilan saya,” katanya.

Michael Dukakis yang bertubuh relatif pendek untuk ukuran rata-rata orang Barat, terpaksa dipoles oleh TPD-nya dengan menaruh bangku dibawah kakinya, disamarkan di bawah karpet, saat berdiri di podium ketika debat melawan George Bush Sr pada 1988. Bahasa tubuh adalah kondisi bagaimana paslon menggunakan seluruh apa yang ada di badannya agar terlihat tampil dengan penuh percaya diri.

Tujuan debat yang sesungguhnya adalah untuk membuat audien (rakyat) merasakan bahwa paslon adalah orang-orang yang siap untuk memimpin negeri ini. Saat debat, kedua paslon perlu mengerahkan potensinya sampai 100 persen dan memperlihatkan kesiapan itu kepada rakyat dengan cara-cara yang meyakinkan.

KPU perlu diapresiasi atas sikap responsifnya kepada berbagai kritik. Bagaimana kedua paslon dan timsesnya merespons kritik, akan terlihat dalam debat kedua nanti. Tapi satu hal sudah jelas; persiapan adalah kunci kesuksesan. Paslon yang naik tanpa persiapan akan turun dari panggung tanpa kehormatan. Nah!

* Saifuddin Bantasyam, Dosen Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), bergiat dalam Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Banda Aceh. Email: saif.bantasyam@gmail.com

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved