Porter belum Terdampak ‘Turbulensi’ Dinamika Maskapai

SUASANA di lobi Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM), Blangbintang, Aceh Besar, Minggu (10/2), terlihat sibuk

Porter belum Terdampak ‘Turbulensi’ Dinamika Maskapai
SERAMBI/NURUL HAYATI
PORTER (kurir barang) mendorong troli di Bandara Sultan Islandar Muda (SIM), Blangbintang, Aceh Besar, Minggu (10/2). 

SUASANA di lobi Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM), Blangbintang, Aceh Besar, Minggu (10/2), terlihat sibuk. Penumpang yang keluar dari gate kedatangan disambut antusias para sopir taxi bandara yang menawarkan jasa. Sebagian dari mereka memilih menunggu jemputan dengan koper dan aneka tentengan di tangan. Bunyi roda koper yang diseret penumpang seakan berlomba dengan roda-roda troli yang digelindingkan porter, menimbulkan suara riuh khas lokasi angkutan umum.

Pemandangan itu tak setiap saat terjadi. Mengingat Bandara SIM tak sesibuk tetangganya, Bandara Kuala Namu, Deliserdang, Sumatera Utara, yang merupakan gerbang masuk ke Pulau Sumatera. Aktivitas petugas bandara terlihat ‘berdenyut’ saat jelang kedatangan dan keberangkatan saja. Meskipun sejak pengujung 2018 tarif pesawat mengalami penyesuaian harga dan kebijakan bagasi gratis dicabut, penumpang tak serta merta seret.

Sebagian penumpang tujuan domestik memilih terbang melalui negara tetangga via Kuala Lumpur, Malaysia. Tarif yang terbilang lebih ramah di kantong meskipun waktu tempuh yang menjadi lama, dipilih guna menyiasati tarif pesawat domestik yang meroket. Lalu bagaimana dengan bagasi penumpang? Adakah kebijakan pihak maskapai menyebabkan jasa porter ikut terlindas? “Kalau pengaruh nggak juga, karena penumpang (lari) ke Airasia,” ujar Syahril, seorang porter di Bandara SIM.

Setali tiga uang dengan Syahril, Muhammad Isa yang telah menjadi porter sejak tahun 2010 mengaku, kebijakan pengenaan tarif bagi bagasi tidak berdampak bagi dirinya. Diakuinya, pendapatannya sebagai porter memang tidak menentu. Namun rata-rata dalam sebulan dirinya bisa membawa pulang Rp 2 juta. Kebanyakan yang memakai jasanya adalah langganan yang sebelum keberangkatan dan kedatangan, sudah terlebih dahulu menghubungi. Selebihnya, ia berbagi rezeki dengan para rekannya yang membutuhkan jasa mereka sebagai kurir barang.

Bapak tiga anak asal Kuta Baro, Aceh Besar, ini mengaku, porter adalah pekerjaan utamanya. Ia bersama 40 rekan lainnya bernaung di bawah CV Akram bertugas secara bergantin (shift) mulai pukul 04.00-17.00/18.00 WIB untuk kedatangan dan keberangkatan mulai pukul 08.00-22.00 WIB. Meskipun SIM terbilang bukan bandara sibuk, namun Muhammad Isa dan rekan-rekannya yang bertugas setia mangkal di bandara untuk mengais rezeki.

“Saya udah nyaman di sini, karena memang tidak ada pekerjaan lain,” ujar Muhammad Isa yang dulunya merupakan seorang pedagang ini.

Ya, jasa porter hingga hari ini masih menunjukkan eksistensinya di Bandara SIM. Namun seperti halnya pekerjaan lain, profesi porter juga tak mustahil terjadi ‘turbulensi’. Syahril dan Muhammad Isa hanyalah bagian kecil dari dinamika dunia maskapai kita.(nurul hayati)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved