Opini

Dakwah dan Kampanye

SEJAK September 2018 lalu, kampanye pilpres dan pileg sudah resmi di-kick off, sejak itu pula poster dan baliho mulai bermunculan

Dakwah dan Kampanye
Kolase TribunSolo.com/Instagram @gusmiftah
Gus Miftah dakwah di klub malam. 

Oleh Marah Halim

SEJAK September 2018 lalu, kampanye pilpres dan pileg sudah resmi di-kick off. Sejak itu pula poster dan baliho mulai bermunculan di ruang terbuka publik hingga tiang listrik, substansinya tentu saja ajakan atau seruan untuk menggapai kondisi bernegara yang lebih baik. Merupakan tantangan tersendiri bagi kita di Aceh untuk menuansai proses politik ini dengan filosofi syari’ahnya agar terhindar dari persepsi sekularis. Kita bisa saja memersepsikan semua bentuk kegiatan kampanye sebagai ajang dakwah karena substansinya sesungguhnya berupaya mempertemukan idealisme ayat suci dan ayat konstitusi.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), dakwah adalah penyiaran/propaganda atau penyiaran agama dan pengembangannya di kalangan masyarakat; seruan untuk memeluk, mempelajari, dan mengamalkan ajaran agama. Sedangkan kampanye adalah kegiatan yang dilaksanakan oleh organisasi politik atau calon yang bersaing memperebutkan kedudukan dalam parlemen dan sebagainya untuk mendapat dukungan massa pemilih dalam suatu pemungutan suara.

Apa-apa yang didoktrinkan agama agar hidup menjadi baik diketahui melalui ayat-ayat suci. Nilai-nilai itu kemudian menjadi idealisme penganutnya. Nilai-nilai idealisme itu bisa saja bersumber dari ajaran agama atau hasil pemikiran mendalam atau filosofis yang kebenarannya sulit untuk dibantah dan karena sulit dibantah itulah ia layak untuk diamalkan. Karena itulah setiap ajaran diawali dulu dengan keyakinan setelah melihat bukti-bukti empiris dari penerapan nilai-nilai itu dalam kehidupan praktis.

Ada keyakinan
Suatu nilai akan bersifat fungsional jika pada pengamalnya ada keyakinan atau kepercayaan terlebih dahulu, tanpa ada kepercayaan maka suatu nilai ajaran yang isinya adalah kesadaran untuk suatu perubahan kepada arah yang lebih baik. Karena itulah keberfungsian nilai-nilai Islam harus didahului oleh kekuatan keyakinan (akidah) yang setiap hari terus-menerus dikuatkan dengan proses ibadah.

Dakwah adalah ajakan untuk pro idealisme yang diingatkan dalam kitab suci. Gagasan tentang kebaikan dan kebajikan yang diajarkan untuk kemaslahatan dalam kehidupan bersama manusia adalah sarat dalam doktrin agama. Semua agama menentang perbuatan yang merusak dan membahayakan bagi kehidupan manusia dan kemanusiaan.

Dakwah bersifat mengingatkan dan memberi kabar gembira (basyiran wa nadziran). Topik-topik yang diingatkan selalu oleh para dai adalah topik-topik yang berkaitan dengan kemaslahatan bersama sehingga hal-hal yang merusak harus dihindari atau dihilangkan. Sedangkan hal-hal yang membangun harus dijaga dan diperkuat terus agar kemaslahatan hidup bersama dalam bermasyarakat akan tercapai.

Kesadaran akan idealisme yang dibangun berdasar ayat suci merupakan kesadaran yang bersifat makro dan masih abstrak, inilah yang menjadi domain dakwah. Dalam konteks ini, target dakwah sesungguhnya menyamakan persepsi jiwa untuk memandang suatu fenomena apakah masih sejalan atau tidak dengan nilai-nilai yang ditunjukkan agama.

Jadi dakwah lebih bersifat early warning atau berfungsi kontrol terhadap perilaku yang digariskan ayat suci. Karena itulah setiap dakwah mengajak dan menyeru umatnya secara terus-menerus apa yang diajarkan agama menjadi kesadaran individu yang pada gilirannya akan menjadi kesadaran komunal. Kesadaran komunal itulah yang kemudian diberi wujudnya dalam sebuah kesepakatan yang disebut konstitusi. Jadi, ayat konstitusi tidak selayaknya dipertentangkan dengan ayat suci, justru ayat konstitusi harus dipandang sebagai kontekstualisasi ayat suci menurut waktu, tempat, dan keadaan.

Tidak ada kampanye yang tidak menjual tujuan bernegara dalam visi, misi, program dan kegiatannya. Melindungi bangsa dan negara, mewujudkan kesejahteraan, serta mencerdaskan bangsa adalah tiga tujuan makro bernegara yang dikemas oleh para kontentan pilpres dan pileg; sejuta kemasan poster dan spanduk sekalipun, spiritnya pasti menyangkut salah satu, salah dua, atau salah tiga tujuan bernegara itu. Di sinilah dituntut kreativitas dan daya inovasi dari masing-masing kontestan.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved