Opini

Dakwah dan Kampanye

SEJAK September 2018 lalu, kampanye pilpres dan pileg sudah resmi di-kick off, sejak itu pula poster dan baliho mulai bermunculan

Dakwah dan Kampanye
Kolase TribunSolo.com/Instagram @gusmiftah
Gus Miftah dakwah di klub malam. 

Istilah aktif politik untuk menyebut ketiga tujuan bernegara yang hendak diwujudkan itu adalah pembangunan. Pembangunan dapat diartikan sebagai upaya aktif untuk mewujudkan apa yang menjadi idealisme dalam ayat konstitusi. Pembangunan juga dapat diartikan sebagai kesinambungan kondisi yang baik agar bisa menjadi lebih baik di masa-masa berikutnya. Pembangunan bukan hanya membangun infrastruktur fisik seperti jalan, gedung, jembatan dan sebagainya; tetapi pembangunan juga berbentuk ketertiban, ketenteraman, kerukunan, keamanan, kesehatan, kemelekan, dan banyak lagi yang bersifat non-fisik yang justru lebih banyak.

Pada titik inilah substansi kampanye selalu difokuskan. Beda dengan ajakan dakwah yang lebih berat bernuansa tekstual, ajakan kampanye harus betul-betul bersifat kontekstual dan prioritas. Dapat kita lihat dalam spanduk dan poster yang terpasang, ada calon yang memprioritaskan lapangan kerja, ada yang memperiositaskan pendidikan, kesehatan, jalan, dan sebagainya. Semua sah-sah saja bergantung pada situasi dan kondisi setempat.

Kampanye yang sarat dengan ajakan untuk mencapai kondisi yang lebih baik dalam satu urusan publik yang dinyatakan dalam ayat konstitusi, haruslah dipandang sebagai upaya mewujudkan apa yang diajarkan oleh ayat suci. Kampanye juga tidak absen selalu bersifat mengingatkan akan adanya tujuan tertinggi atau kondisi terjauh yang akan diraih dengan modal kondisi yang ada saat ini. Perlindungan agama, jiwa, harta, akal, keturunan, masyarakat, dan lingkungan adalah diantara tujuan tertinggi dan terasas dari ayat suci. Kini, ayat konstitusi kita telah mengemasnya menjadi lebih aplikatif dengan istilah hak asasi manusia, demokrasi, kesetaraan gender, dan sebagainya.

Kampanye sesungguhnya adalah konkretitasi dari apa yang digambarkan secara makro oleh ayat konstitusi. Dalam konteks inilah seorang kontestan pemilu dituntut untuk fokus, detil, dan teknis dalam mengemas program dan kegiatan-kegiatan yang ditawarkannya. Jadi, kampanye lebih merupakan konkretisasi kebajikan itu sendiri; kebajikan yang terukur.

Fokus pada isi
Antara dakwah dan kampanye sesungguhnya dua sisi mata uang; tergantung persepsi kita sebagai pemilih melihatnya. Meski dalam teorinya dakwah lebih kepada penguatan keyakinan pada kebaikan hidup yang ditunjukkan oleh ajaran agama (hablumminallah); sedangkan kampanye tidak lain pada upaya untuk merealisasikan kebaikan menjadi kenyataan dengan pola dan formula yang ditawarkan kepada sesama manusia (hablumminannas).

Dalam menyikapi fenomena kampanye jika kita memasang perspektif agama akan lebih menenangkan dan menentramkan. Anggapa saja semua calon adalah pendakwah-pendakwah yang berebut kebajikan, kita akan memilih kemasan kebajikan yang paling baik. Kemampuan memilih yang terbaik tentu tidak akan terjadi jika sejak saat ini ogah dan sinis memandang dan membaca poster, baliho yang mereka pasang dengan dana yang sangat besar.

Hanya orang yang masih berpikir dikotomis antara agama dan negara yang menganggap kampanye adalah urusan politik yang tidak ada hubungannya dengan urusan agama. Padahal, hampir semua yang dikampanyekan adalah hal-hal yang menjadi perhatian dan kepedulian agama. Agama resah dengan kemiskinan, kebodohan, ketimpangan sosial, diskriminasi, kezaliman, permusuhan, ketertinggalan, kualitas hidup yang rendah, dan sebagainya. Topik-topik inilah yang diolah menjadi materi kampanye yang sesungguhnya juga menjadi keresahan agama.

* Dr. Marah Halim, M.Ag., MH., Widyaiswara Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Provinsi Aceh. Email: marahh77@gmail.com, elhalimi1977@gmail.com.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved