Opini

‘Janjimu Membunuhku’

egini kisahnya. Pada suatu malam, raja pulang ke istana dan melewati pintu gerbang, ia melihat seorang lelaki tua

‘Janjimu Membunuhku’
TRIBUNNEWS/DANANG TRIATMOJO
KPU RI resmi mengumumkan daftar calon legislatif (caleg) berstatus mantan terpidana korupsi yang ikut kontestasi Pemilu 2019. 

Oleh Rahmat Fadhil

SEORANG sahabat mengirimkan sebuah pesan kepada saya melalui whatsapp. Pesan itu berupa cerita tentang janji seorang raja kepada pengawalnya. Begini kisahnya. Pada suatu malam, raja pulang ke istana dan melewati pintu gerbang, ia melihat seorang lelaki tua yang lemah dan menggunakan jubah yang tipis sedang bertugas mengawal istana. Padahal, udara di malam itu sangat dingin menggigil.

Raja menghampiri lelaki tua yang lemah itu dan bertanya, “Kamu tidak kedinginan?”. “Wahai tuanku raja, sudahlah pasti aku sangat kedinginan, namun bagaimana lagi hanya jubah tipis inilah yang kumiliki untuk melindungi tubuhku ini,” jawabnya dengan santun. “Kalau begitu, nanti akan kuminta pelayanku agar membawakan kepadamu sebuah jubah yang tebal, sehingga dapat menghangatkan badanmu,” raja berjanji.

Malam pun berlalu, udara semakin dingin menusuk ke tulang. Jubah tebal yang dijanjikan raja tidak pun datang-datang. Janji tinggal janji, harapan tak kunjung menghampiri. Sampailah kemudian sinar mentari pagi muncul di ufuk timur dan lelaki malang itu pun telah pergi untuk selama-lamanya dari dunia ini. Dia kedinginan semalaman, jiwanya ‘tertusuk’ secara tajam oleh dinginnya udara, bersamaan dengan harapan akan janji palsu raja yang telah menipunya.

Sebelum meninggal, sang pengawal tua itu sempat menulis disecarik kertas. “Wahai raja, di malam-malam yang lalu aku sanggup menahan beban dingin. Sampai engkau datang, tubuhku tak kuat lagi. Aku kira janji yang engkau berikan, dapat mengobati beban ini. Tapi yang jadi kenyataan, janjimu itu justru membunuhku.”

Begitulah kisah janji palsu yang membunuh harapan dan memupuskan impian. Mudah diucapkan, sederhana diretorikakan, tapi berakibat dalam menghancurkan asa, memberanguskan cita-cita, dan menihilkan kepercayaan.

Benarlah bak pepatah mengatakan, janjimu mudah kau ucapkan, namun tak seindah kenyataan. Walaupun pada dasarnya ada orang yang berusaha dengan sungguh-sungguh hendak mewujudkannya, tetapi tidak jarang keteguhan itu akan runtuh seiring dengan godaaan yang menerpanya. Kepalsuan adalah menyakitkan, bukan hanya mematikan perasaan namun lebih kejam, bahkan sampai membunuh seluruh harapan.

Musim janji
Saat ini kita berada di musim janji yang sangat hingar-bingar, ya janji politik. Mulai dari calonlegislatif Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten/Kota (DPRK), Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI), dan calon Presiden/Wakil Presiden Republik Indonesia. Semua menabur janji-janjinya. Beruntung jika yang berjanji secara sungguh-sungguh berusaha mewujudkan janjinya. Namun sungguh sangat zalim jika para penebar janji hanya sekadar untuk merebut hati pemilih. Setelah terpilih janji pun susah untuk ditanya lagi.

Di musim janji ini, tentu saja sejumlah logika kata dan rangkaian bait bahasa akan diperdengarkan kepada rakyat. Bahwa cap singa adalah baik, cap rembulan adalah indah, cap beruang adalah pemberani, cap burung adalah mengangkasa, cap bintang adalah harapan. Semua cap (logo/simbol) itu adalah jati diri cita-cita mulia yang hendak dilakukan.

Di seantero jalanan kita menyaksikan itu semua, bertaburan di televisi, riuh-rendah di radio, bertebaran di surat kabar dan berserakan di online (berita maupun sosial). Semua adalah bagus, karena lagi musimnya peusoem salah, peuleumah saleh (sembunyikan yang salah, menampakkan yang baik). Semua sedang mempersembahkan orkestra janji-janji politiknya.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved