Opini

‘Janjimu Membunuhku’

egini kisahnya. Pada suatu malam, raja pulang ke istana dan melewati pintu gerbang, ia melihat seorang lelaki tua

‘Janjimu Membunuhku’
TRIBUNNEWS/DANANG TRIATMOJO
KPU RI resmi mengumumkan daftar calon legislatif (caleg) berstatus mantan terpidana korupsi yang ikut kontestasi Pemilu 2019. 

Janji politik dapat dimaknai pada dua pelaku (aktor), yaitu: Pertama, pertahana (incumbent), mereka yang sedang menjabat akan dapat dituai janjinya dengan apa yang telah dikerjakan sebagai bukti atas kinerjanya selama ini, dan apa yang sedang dikerjakan dalam proses usaha yang sungguh-sungguh merealisasikan janji-janji sebelumnya.

Dan. kedua, calon baru atau calon belum pernah terpilih. Bagi mereka, walupun hanya menggagaskan ‘akan’ atau menyebutkan ‘rencana’, namun karier mereka dalam masyarakat dapat ditelusuri atau diketengahkan sebagai modal prestasi dan sekaligus kompetensi bahwa mereka memang layak untuk diberi amanah sebagai calon untuk kandidat tertentu. Mereka memang tidak dapat dituai janjinya secara langsung saat ini, tetapi mereka memiliki sejarah dalam kehidupan sosial dan politiknya. Itulah bentuk lain dari penuaian janji yang dapat kita retasi baik di dunia nyata ataupun di dunia maya (internet).

Dapat diukur
Di sini kita dapat secara jeli, bagaimana memeriksa akan sebuah janji yang layak untuk dipercayai. Kalau sudah pernah dan sedang mengemban sebuah amanah, lalu berkeinginan untuk diplih kembali, maka pembuktian atas sejumlah retorika janjinya itu mestilah dapat dicermati dengan mudah dan jelas. Janji tidak akan ini, janji menurunkan itu, janji meningkatkan ini, janji mewujudkan itu, janji mencapai ini, janji membuat itu, dan janji-janji lainnya.

Semua janji itu semestinya dapat diukur, apakah terdapat keseriusan dalam mewujudkannya, atau hanya sekadar mengetengah ‘bualan’ pembenaran atas ketidakmampuan, ketidakseriusan, atau bahkan ketidakberdayaan untuk merealisasikan.

Wahai para penebar janji, berjanjilah secara sungguh-sungguh bahwa engkau memang sedari awal berniat untuk memenuhinya. Oleh karenanya rumuskanlah janji-janji itu memang terukur secara rigid dan strategis untuk dipenuhi dengan sebaik-baiknya.

Usahlah membuai pemilih dengan janji yang indah, toh kalau engkau telah berhasil memenuhi tujuanmu, engkau akan terus dikejar oleh janji-janji itu sendiri untuk engkau penuhi. Bahkan tidak hanya di dunia, engkau pasti akan ditagih sampai ke negeri akhirat.

Janjimu mungkin indah untuk dinikmati, dan mudah-mudah saja bagimu menarasikannya. Janjimu memanglah kebutuhan di zaman ini, kebutuhan akan promosi politik (campaign) yang sedang engkau dendangkan kepada kami semua, anak-anak bangsa di negeri ini. Namun satu hal yang perlu engkau ketahui, bahwa janjimu itu dapat saja ‘membunuhku’.

* Rahmat Fadhil, Dosen Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh. Email: rahmat.fadhil@unsyiah.net

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved