MaTA: Usut Sampai ke Penerima Dana

Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Masyarakat Transparansi Aceh (MaTA) meminta Polres Lhokseumawe

MaTA: Usut Sampai ke Penerima Dana
SERAMBINEWS.COM/BUDI FATRIA
Koordinator MaTA, Alfian. 

* Kasus Korupsi Pengadaan Ternak di Lhokseumawe

LHOKSEUMAWE - Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Masyarakat Transparansi Aceh (MaTA) meminta Polres Lhokseumawe mengusut tuntas kasus dugaan korupsi pada pengadaan ternak di Pemerintah Kota (Pemko) Lhokseumawe. Mereka juga mendesak polisi untuk mengusut siapa saja penerima dana dalam kasus yang sempat menyebabkan kerugian Negara hingga Rp 8 miliar tersebut.

Koordinator LSM MATA, Alfian, kemarin mengatakan, pihaknya masih menaruh harapan besar kepada Kapolres Lhoksemawe untuk mengusut tuntas kasus itu. “Konsistensi polisi sangat perlu dalam kasus ini,” ujarnya. Karena Direktur CV Bireuen Vision (BV) sudah ditetapkan sebagai tersangka, ia juga meminta polisi menetapkan perusahaan tersebut sebagai tersangka. “Sebab, dalam kasus korupsi sekarang bukan hanya personal (orang) yang bisa ditetapkan sebagai tersangka, tapi juga perusahaannya,” kata Alfian.

Ia juga meminta polisi mempercepat proses hukum lanjutan terhadap perusahaan-perusahaan lain yang diduga melakukan pengadaan ternak secara fiktif. “Dalam cacatan kami, bukan hanya CV BV yang diduga melakukan pengadaan ternak secara fiktif, tapi juga ada perusahaan-perusahan lain,” timpalnya.

Lebih lanjut Alfian menyatakan, polisi juga harus menyidik penerima dana dari hasil kejahatan korupsi tersebut. “Hal itu menjadi hal utama dalam pengusutan kasus korupsi seperti ini, sehingga aktor koruptornya tak ditoleransi oleh hukum,” katanya. Ditambahkan, MaTA akan terus mengawal pengusutan kasus itu sampai tuntas. “Kerugian dalam kasus ini bukan semata-mata pada nilai uang Negara saja, tapi juga kerugian sosial pada penerima manfaat yakni 300 kepala keluarga miskin.” demikian Alfian.

Untuk diketahui, Pemko Lhokseumawe melalui Dinas Kelautan, Perikanan, dan Pertanian setempat memplot dana Rp 14,5 miliar dalam APBK tahun 2014 untuk pengadaan ternak lembu. Selanjutnya, lembu itu dibagikan pada puluhan kelompok masyarakat. Namun, pada akhir tahun 2015, polisi mengusut proyek tersebut karena ada indikasi terjadi korupsi.

Hingga kini, sudah ada tiga terpidana dalam kasus itu dengan hukuman penjara masing-masing di atas empat tahun. Mereka adalah DH (47), Pejabat Pengadaan dan Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK), IM (43), Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), dan MR selaku Kepala DKPP Lhokseumawe. Dalam pengusutan lanjutan, Selasa (12/2), polisi menetapkan satu tersangka baru yakni ES, Direktur CV Bireuen Vision (BV), yang merupakan salah satu rekanan dalam proyek tersebut.(bah)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved