Citizen Reporter

Menjemput Cinta yang Halal Secara Bersahaja

Hamparan padi menguning begitu mengesankan pada senja itu saat menyambut kedatangan kami, rombongan Kuliah Kerja Nyata

Menjemput Cinta yang Halal Secara Bersahaja
IST
HANIFA ZICO

OLEH HANIFA ZICO, Mahasiswi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, melaporkan dari Pulau Pinang, Malaysia

Hamparan padi menguning begitu mengesankan pada senja itu saat menyambut kedatangan kami, rombongan Kuliah Kerja Nyata (KKN) International Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Batch 2 di Kampung Kota Aur, Seberang Perai Utara, Pulau Pinang, Malaysia.

Saya dan tujuh mahasiswa lainnya berkesempatan mengabdi di sini selama tiga minggu sejak 28 Januari 2019 dengan membawa misi pengabdian kepada masyarakat, salah satu dari tridarma perguruan tinggi.

Sejauh yang saya amati, derasnya arus modernisasi tidak menggusur budaya luhur etnis Melayu di Kampung Kota Aur. Salah satu budaya yang paling membuat saya terpesona selama berada di sini adalah nilai kesederhanaan masyarakatnya. Mereka sangat bersahaja. Nilai ini mengandung efek positif terhadap setiap elemen kehidapan sosial masyarakatnya yang diwariskan untuk selalu mengutamakan substansi daripada formalitas atau pencitraan semata. Kesederhanaan dapat meliputi penampilan, pemikiran, maupun sikap seseorang. Nah, itulah yang saya rasakan hadir di Kampung Kota Aur ini.

Masifnya nilai kesahajaan terbalut jelas dalam kehidupan masyarakatnya sehari-hari. Salah satunya yang paling menggugah batin saya adalah ketika menghadiri beberapa pesta pernikahan atau acara kenduri. Pada mulanya ekspektasi saya cukup tinggi terhadap acara sakral dua insan manusia yang menikah dan hidup di negeri jiran ini. Ketika memasuki pelataran rumah mempelai, saya heran dengan panorama resepsi yang sungguh sederhana, berbanding terbalik dengan status sosial masyarakat yang tergolong mampu dan jaya.

Bagi mereka, untuk menikah tak perlu gedung yang mentereng. Respesi dan perjamuan cukup dilaksanakan di halaman rumah saja, beratapkan tenda yang biasa saja. Tak perlu cendera mata yang wah untuk para tamu, cukup beroleh-olehkan makanan dan minuman ringan saja. Tak perlu singgasana yang megah, mempelai cukup duduk di pelaminan yang berlatarkan bunga sebagai penanda sukacita, sambil sesekali berkeliling menyapa tamu undangan. Tak perlu hiburan panggung yang meriah, hanya dengan alunan musik lembut yang tak menyesakkan dada sehingga para tamu bebas bercengkrama tanpa “dipekakkan” oleh musik dan tembang yang dinyanyikan kadang bagus, kadang cempreng.

Kesederhanaan juga tertilik dari tamu perempuan yang hadir. Mereka tak perlu riasan dan tampilan mewah, cukup berpakaian santun sesuai syari’ah saja. Kentalnya suasana kesederhanaan ini meluruskan kembali hakikat suci dari sebuah pernikahan di mana pada zaman sekarang pernikahan telah berubah alur menjadi ajang pembuktian hierarki kuasa, takhta, dan tumpukan harta.

Rangkaian adat pernikahan di kampung ini dilaksanakan secara berurutan, dimulai dengan merisik, meminang, menikah, dan bersanding. Merisik merupakan perkenalan keluarga untuk melihat latar belakang kedua belah mempelai, di mana sang dara tak boleh ikut berbincang dan hanya duduk di dalam bilik. Ia hanya boleh ke luar sebentar ketika menghidangkan minum. Jika keluarga perempuan menyatakan anaknya sudi menerima lamaran maka berlanjutlah untuk proses meminang.

Meminang sendiri bermaksud untuk berdiskusi mengenai mahar dan syarat-syarat nikah. Cincin dan lepak sirih yang diberikan kepada orang tua anak dara merupakan sebuah bukti keberhasilan proses meminang. Menikah (akad) dan bersanding biasanya dilakukan bersamaan menjadi sebuah kenduri. Seluruh proses adat tersebut dilaksanakan begitu sederhana yang juga sesuai dengan tuntunan Islam. Ini sesuai dengan sabda Rasulullah: Adakanlah pesta pernikahan, meski hanya dengan menyembelih seekor kambing” dan “Wanita yang paling banyak keberkahannya adalah yang paling ringan maharnya.”

Tingginya “tarif” pernikahan di negeri kita secara tidak sengaja telah menggerus nilai kesederhanaan yang sejatinya merupakan budaya luhur bangsa Indonesia, khususnya Aceh. Sepatutnya ibadah penyempurna separuh agama ini bukanlah menjadi momok dan penghalang bagi generasi muda untuk mencapai kehalalan status sebagai pasangan suami istri. Dampak dari paradigma pernikahan inilah yang membuat pemuda dan pemudi memilih hidup melajang bahkan ada yang menghalalkan untuk berpacaran sampai masa mapan telah tiba. Masyarakat berduyun-duyun menjadikan momentum ini sebagai wadah untuk pembuktian diri, niat untuk mendapatkan apresiasi malah berganti menjadi pupuk berkembangnya iri dengki yang berimbas pada hilangnya esensi sejati.

Berkaca dari kesederhanaan kenduri masyarakat Kota Aur ini dapat kita petik pelajaran bahwa kemewahan sebuah pernikahan bukanlah dari semaraknya resepsi yang terkadang sampai merusak ketahiran (sakralitas) suatu pernikahan.

Keberanian dan perubahan harus dituntut untuk meruntuhkan persepsi akan prosesi pernikahan yang harusnya berkesan, tapi faktanya dipaksakan. Kesederhanaan tidak akan menurunkan derajat seseorang, kesederhanaan merupakan langkah terpuji untuk meningkatkan harkat jati diri. Nah, apakah nilai kesederhanaan ini akan terpatri kembali menjadi budaya luhur dalam kehidupan sosial masyarakat di negeri kita? Jawabannya ada pada diri kita sendiri, bukan pada para jiran kita. @bemfkhunsyiah

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved