Opini

Darurat Memahami Masalah

ESAI kecil ini beranjak dari sebuah kasus yang terjadi dalam minggu ini, kasus yang sangat simple tetapi punya efek

Darurat Memahami Masalah
MASSA gabungan pelajar dan mahasiswa berunjuk rasa menolak perayaan Valentine Day di Aceh. 

Oleh Anggi Azzuhri

ESAI kecil ini beranjak dari sebuah kasus yang terjadi dalam minggu ini, kasus yang sangat simple tetapi punya efek yang memalukan reputasi Muslim sebagai umat yang diberikan tiga prosesi penting ketika menghadapi suatu kasus. Prosesi ini disebutkan Allah Swt dalam Alquran, di mana seorang Muslim semestinya: Melakukan pendalaman pemahaman masalah (QS. Al-Hujarat: 6); Bertanya ke yang ahli di bidangnya (QS. Al-Anbiya: 7); dan jika tidak paham maka jangan banyak berbicara (QS. Al-Isra’: 36), apalagi sampai mengeluarkan statemen yang sangat tidak relevan dengan fakta, belum lagi statemen itu punya efek yang sangat negatif.

Kasus ini begitu simple sebenarnya, dan pola yang sama juga terjadi pada kasus-kasus yang semisal. terangkumnya dalam tiga kata “Tidak paham istilah” atau lebih tepatnya latah dan asbun. Efeknya apa? Orang yang memusuhi Islam dan Muslim akan mengatakan bahwa muslim itu adalah sekelompok kaum yang kurang wawasan, lantas setelah itu mereka akan mengatakan “bagaimana mau masuk Islam, jika pemeluknya saja seperti itu.”

Bukankah di sini Islam menjadi korban yang tidak melakukan apa-apa? Korban dari perbuatan pemeluknya yang jahil? Sebagai contoh fakta yang paling segar, unjuk rasa anti Hari Valentine yang berujung pada statemen tidak reliabel dan terkesan dipaksakan, yaitu “Coklat adalah simbol kemaksiatan”.

Kampanye anti Valentine itu sudah benar dan merupakan sebuah kewajiban untuk didukung. Tetapi ketidakpahaman terhadap objek yang sedang mereka lawan, justru menghasilkan statemen kurang cerdas yang nantinya dimanfaatkan oleh musuh Islam untuk menunjukkan bahwa Muslim punya wawasan rendah dan pemahaman ekstrem karena “sebatang coklat” saja menjadi sumber dosa. Belum lagi perkara lainnya yang lahir dari kurang memahami masalah yang juga berefek pada perpecahan umat. Belum lagi permasalahan yang muncul dari video atau berita viral di media sosial.

Memperbaiki kesalahan
Tulisan ini tidak membahas persoalan di atas, biarkan akal sehat dan keseriusan seorang Muslim untuk menerapkan perintah Alquran dalam menghadapi sebuah masalah saja yang memperbaiki kesalahan statemen di atas. Hal yang perlu disorot adalah cara ideal yang seharusnya dilakukan oleh Muslim ketika muncul suatu persoalan, baik berbentuk pertanyaan dari seseorang, berita viral, pernyataan seseorang, dan sebagainya.

Akan tetapi dari tiga langkah wajib yang telah disebutkan di awal tadi, tulisan ini hanya akan mengangkat langkah pertama; mendalami masalah; sebuah proses penting yang seharusnya tertanam kuat dalam akhlaq muslim tetapi kenyataannya dibuang jauh-jauh karena hanya akan memperlambat respon seseorang terhadap hal yang tengah trending.

Pendalaman masalah adalah sebuah perintah di dalam Alquran (QS. Al-Hujarat: 6), terkait dengan berita dari orang faasiq. Makna faasiq di dalam ayat ini telah disepakati oleh beberapa mufassir sebagai makna literal bukan makna terminologi, lantaran asbabun nuzul-nya merujuk pada berita yang disampaikan oleh seorang sahabat yang telah Rasulullah jamin keselamatan akhiratnya. Faasiq di sini dimaknai sebagai pelaku kesalahan, kecil ataupun besar, dan ini merupakan makna literal dari faasiq.

Sebagaimana tersebut dalam ayat tersebut bahwa setiap berita dari orang faasiq, maka hal yang harus dilakukan setelahnya adalah tabayyun. Jika ditelusuri kosakata Arab yang satu ini, tabayyun adalah derivasi dari kata dasar bayaan, yang artinya jelas dan clear. Maknanya, sesuatu yang disampaikan itu baik dari siapa pun --karena manusia pasti pernah melakukan kesalahan-- memiliki kemungkinan untuk salah dan belum jelas kesesuaiannya dengan fakta.

Oleh karena itu, tabayyun bermakna memperjelas atau berusaha mencari kejelasan hingga dia benar-benar jelas. Alquran memperingatkan efek buruk ketika tabayyun ini hilang dari prosesi merespons suatu permasalahan. Efek buruknya sebagaimana disebutkan dalam penutup ayat 6 Surah Al-Hujarat adalah ... yang bermakna, “maka kalian akan mengalami penyesalan terhadap apa yang kalian perbuat”.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved