Dayah Lamsayeun Menangis

Ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin (RSUZA), Banda Aceh, terlihat sibuk

Dayah Lamsayeun Menangis
SERAMBI/M ANSHAR
Sejumlah santri Dayah Al Ikhlas Abu Ishak Al Amiri Lam Sayeun, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar yang sempat terseret arus di Pantai Syiah Kuala dirawat dirawat di IGD RSUDZA, Banda Aceh, Kamis (14/2/2019). Sebanyak enam santri yang mandi di pantai tersebut terseret arus, tiga di antaranya ditemukan meninggal dunia. 

“Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati,”(QS Ali Imran:185)

Ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin (RSUZA), Banda Aceh, terlihat sibuk. Obat-obatan mengruapkan aroma menyengat yang menyambar penciuman. Para petugas dengan seragam lengkap ditambah masker yang menempel di muka, terlihat wara-wiri mendorong brankar (usungan untuk mengangkat orang sakit). Bunyi yang ditimbulkan roda-roda brankar yang bergelinding di lantai berderit-derit memenuhi sepanjang lorong. Berbaur bersama bisik-bisik suara dari keluarga pasien yang menunggu dengan raut muka harap-harap cemas.

Di pojok ruangan, sejumlah pria dewasa dalam balutan koko, sarung, dan peci di kepala, menyiratkan hal serupa. Mereka berbicara dalam suara rendah. Sambil sesekali menerima panggilan masuk lewat telepon genggam. Juga dalam intonasi suara rendah, nyaris berbisik. Seakan jika volumenya dinaikkan akan menambah luka derita para pasien. Ya, petang itu, Kamis (14/2) Dayah Al-Ikhlas Abu Ishaq Al-Amiry Lamsayeun, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar, menangis. Duka mereka tak terperikan.

Tiga santriwatinya, Nurhanifah (17), Raihan Syakira (17), dan Raisatul Khairah (15) menutup usia nyaris dalam waktu bersamaan di tempat yang sama dengan terlebih dahulu bergelut dengan maut, saat ombak yang menjilat Pantai Syiah Kuala, Banda Aceh, menyeret dan menggulung para remaja putri itu. Sementara dua orang lainnya, tengah dalam perawatan insentif, setelah selamat dari maut. Tragedi yang berlangsung singkat itu, terjadi di depan mata kepala sendiri, menyisakan syok mendalam bagi delapan santriwati yang sedianya datang memberi pertolongan.

Menurut Kasubbag Infokom RSUZA, Banda Aceh, Rahmady SKM saat itu, sebanyak 200-an santriwati didampingi para ustazah berkumpul di Pantai Syiah Kuala, Banda Aceh. Awalnya Nurhanifah terseret arus dan dilihat oleh empat temannya. Lantas keempatnya mencoba memberikan pertolongan. Namun, malang bagi Raihan Syakira dan Raisatul Khairah, keduanya ikut terseret ombak.

“Lon teurimong haba di gampong, aneuk ka lham. Nyan ban kabar jih (Kami dapat kabar di kampung bahwa anak kami tenggelam. Begitulah kabarnya),” ujar Mahyuni, orang tua dari Zafira (17).

Di bangsal IGD RSUZA, Zafira, anak kedua dari tiga bersaudara itu terlihat tergolek lemah. Sesekali tangannya menutup wajah dengan menggunakan jilbab yang menutup kepalanya. Sementara sang ibu, Mahyuni, menunggui di kaki brankar Zafira yang berbagi ruang dengan brankar teman-teman anaknya yang tengah sama-sama didera syok.

Para gadis muda itu adalah santri kelas 1,2,dan 3 dayah yang berlokasi di Lambaro. Muka pias dengan raut serupa orang linglung, tercetak di wajah mereka. Sebagian hanya menatap kosong dengan berlilit selang infus. Ditunggui anggota keluarga yang terlihat bermuram durja.

Mahyuni menuturkan, saat pertama kali berjumpa dengan Zafira, kondisi kesadaran anaknya timbul tenggelam. Sebuah pertemuan yang dramatis, tatkala ia mendapati anaknya separuh meracau diiringi sedu sedan dan lantas pingsan. Kesedihan yang bergelayut di paras perempuan paruh baya asal Seulimuem, Aceh Besar, itu juga nyata membayang pada wajah-wajah keluarga pasien lainnya. Kesedihan itu dengan cepat menjalar ke seluruh penghuni ruangan. Seakan dinding rumah sakit yang dingin itu juga ikut berduka, untuk semua kesedihan yang menimpa.

“Meunyoe na urueng jak u rumoh, neupeugah bek tanyong-tanyong soal kejadian lham nyan (Kalau ada orang datang ke rumah, kasih tahu jangan tanya-tanya soal kejadian tenggelam itu),” ujar seorang psikiater di telinga Mahyuni.

Sebelumnya ia terlihat berbincang dengan Zafira, yang terlihat menutup wajah dan ogah-ogahan. Perempuan itu berbicara dalam suara samar, sambil sesekali mengelus lengan dan kepala Zafira. Tak jelas apa yang mereka percakapan. Namun yang jelas, tak lama berselang, kata-kata yang meluncur dari mulut sang psikiater, telah memantik binar di mata Zafira bersama senyum yang merekah di bibir gadis berkulit sawo matang itu. (nurul hayati)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved