Opini

Kasih Sayang dalam Islam, Bagaimana?

HARI Valentine lazimnya disebut hari kasih sayang, dalam sejarahnya merupakan perayaan dari pengikut St Valentine

Kasih Sayang dalam Islam, Bagaimana?
facebook.com
Pemudi di Banda Aceh pada saat diluncurkannya tagar #ValentineBukanUntukKami. 

Oleh Marhamah

HARI Valentine lazimnya disebut hari kasih sayang, dalam sejarahnya merupakan perayaan dari pengikut St Valentine sebagai ritual keagamaan untuk memperingati kematiannya yang menyedihkan karena mengubur cintanya.

Berbagai sumber menyebutkan bahwa St Valentine adalah seorang pendeta yang dihukum mati oleh Raja Romawi, karena menentang larangan pernikahan di kalangan pemuda. Menganggap tindakan St Valentine sebagai perlindungan terhadap bentuk cinta dan kasih sayang, maka momen tersebut dirayakan oleh para remaja umumnya pada setiap 14 Februari, dengan nuansa kasih sayang.

Suatu fenomena yang memprihatinkan ketika remaja muslim justru latah ikut merayakan Hari Valentine dengan berbagai acara. Mereka yang masih rapuh idealisme Islamnya, akan mudah terseret pada arus peradaban permisif, hedonis dan materialistik. Mereka juga akan tergerus arus globalisasi dan akulturasi budaya Barat yang tidak sesuai dengan konsep ajaran Islam.

Dekadensi moral yang melanda manusia saat ini, bisa jadi merupakan wujud nyata drama penghancuran jati diri. Apalagi, merayakan Hari Valentine tidak hanya sebatas budaya, bahkan terkait dengan ritual keagamaan. Itulah sebabnya Rasulullah saw memberikan warning, “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Abu Daud).

Hebohnya perayaan Hari Valentine ini yang biasanya dihiasi dengan kegiatan hura-hura, justru mengaburkan nilai-nilai spiritual, moralitas dan budaya Timur yang luhur pada diri remaja muslim. Ini menjadi bukti bahwa mereka telah kalah dalam sebuah pertarungan untuk mempertahankan identitas diri.

Bahkan dalam riwayat yang lain ditegaskan bahwa Hudzaifah bin Yaman berkata: Rasulullah bersabda, “Janganlah kalian menjadi orang-orang yang ikut-ikutan (tidak punya pendirian). Berprinsip, `Apabila orang-orang berbuat baik, maka kami pun berbuat baik. Apabila orang-orang berbuat zhalim, maka kamipun berbuat zalim. Tapi berpegang teguhlah kalian pada pendirian. Apabila orang-orang berbuat baik, kami juga berbuat baik. Tapi jika mereka berbuat keburukan, maka janganlah menzalimi diri (dengan ikut berbuat keburukan).” (HR. Tirmidzi).

Bukan budaya kita
Jika tahu perayaan Hari Valentine bukan budaya kita, lebih-lebih bukan ajaran agama kita, lalu kenapa kita harus merayakannya? Sementara dengan ikut merayakannya, berarti ikut pula melestarikan ritual tersebut dan menghapus nilai-nilai Islami. Padahal tanpa harus menghilangkan nilai-nilai spiritual, moralitas, dan budaya Timur yang luhur, Islam telah memberikan acuan yang sempurna tentang konsep cinta dan kasih sayang.

Islam itu agama yang menjunjung tinggi cinta dan kasih sayang, Bahkan Islam itu sendiri diturunkan dengan penuh kasih sayang kepada semua umat manusia. Alquran menjelaskan bagaimana Islam itu agama yang sarat dengan kasih sayang, “Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS. At-Taubah: 128).

Sebagai agama rahmatan lil ‘alamin, Islam mengajarkan bahwa kasih sayang tidak hanya berlaku antar manusia, tetapi juga pada hewan, tumbuhan dan lingkungan sekitar. Memiliki kasih sayang kepada makhluk lain merupakan fitrah manusia yang ditempatkan sesuai dengan kodratnya.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved